Ditulis oleh 8:57 am COVID-19

89,75% Kepala Desa Tolak Mudik

Hasil survei itu diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat perantau dalam memutuskan tradisi mudik Lebaran yang sudah berjalan setiap tahunnya.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) melakukan survei kepada kepala desa di seluruh Indonesia tentang mudik. Hasilnya ribuan kepada desa menolak kegiatan mudik Lebaran 2020, alasannya faktor kesehatan terkait penyebaran Covid-19.

Servei dilakukan pada terdahadap 3.931 kepala desa di 53.808 desa yang mayoritas penduduknya Muslim. Survei dilakukan pada 10-12 April 2020. Dari total kepala desa yang disurvei sebesar 1,32% margin error.

Ivanovich Agusta, Kepala Pusat Data dan Informasi Kemendes PDTT mengatakan hasil survei menunjukkan sebanyak 89,75% kepala desa menolak kegiatan mudik, sedangkan sisanya setuju dengan kegiatan tersebut.

“89,75% hampir mutlak kepala desa nggak setuju warganya mudik,” kata Ivanovich saat konferensi pers secara virtual, Jakarta, Selasa (14/4/2020), seperti dilansir Detik.com.

Jika terjadi larangan mudik, diprediksi akan ada Rp. 3,4 triliun dana yang tidak masuk desa pada musim lebaran ini. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, pada mudik tahun 2019, tercatat ada 23 juta pemudik yang membawa dana sebesar gaji bulan terakhir dan tunjangan hari raya (THR).

Ivanovich mengatakan hasil survei ini bisa menjadi rujukan pemerintah memutuskan kebijakan yang melibatkan aspek kesehatan, sosial, ekonomi, keamanan, dan lainnya. Sehingga, kebijakan tersebut tetap menjalankan protokol kesehatan dalam rangka memutus rantai penularan COVID-19.

Dari seluruh responden sebanyak 49,86% memilih bentuknya imbauan dan 50,14% bentuknya larangan. Melihat hasil tersebut, Ivanovich mengungkapkan pejabat tertinggi harus membuat alternatif kebijakan dengan format mengandung larangan dan imbauan.

“Misalnya, mudik dilarang, dan kehidupan migran di kota didukung pemerintah kota, atau yang terpaksa mudik harus memiliki alasan kuat lalu lapor ke relawan desa lawan COVID-19,” tegasnya.

Hasil survei itu diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat perantau dalam memutuskan tradisi mudik Lebaran yang sudah berjalan setiap tahunnya. “Aspirasi kepala desa untuk didengar oleh warga desa yang sedang dirantau, yang dibutuhkan desa adalah tidak mudik ke desa pada Lebaran 2020,” tandasnya.

Sumber: Detik.com

(Visited 58 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 15 April 2020
Close