Ditulis oleh 8:08 pm KALAM

A.R. Baswedan Patriot Teladan Yang Menepati Janji

A.R.Baswedan memberikan kecintaan pada bangsa dan negara Indonesia “tanpa syarat apa pun”. Sumpah Pemuda Keturunan Arab merupakan deklarasi Indonesia sebelum negara Indonesia berdiri.

Oleh M. Fuad Nasar

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dahulu membagi struktur kependudukan bangsa Indonesia dalam tiga golongan strata sosial. Pertama, golongan Eropah, yaitu bangsa Belanda atau bangsa kulit putih. Kedua, golongan Timur Asing, yaitu keturunan Cina, Arab, dan India. Ketiga, golongan Bumi Putera atau Pribumi. Pemerintah kolonial bersikap diskriminatif dan rasis terhadap golongan pribumi atau sering disebut Inlander. Salah satu contoh rasisme kolonial yang ekstrim kala itu adalah pengumuman di kolam renang di Batavia (Jakarta) bertuliskan “Verboden voor honden en inlander,” artinya “Dilarang Masuk Bagi Anjing dan Pribumi.”

Budayawan Ridwan Saidi dalam artikel Kesaksian Terhadap A.R. Baswedan di majalah Panji Masyarakat No 499, edisi 19 Maret 1986, menuturkan hasil perjuangan almarhum A.R Baswedan yang paling menonjol, yaitu integrasi total masyarakat keturunan Arab dalam keluarga besar nation Indonesia. Perjuangan itu dicanangkannya sejak 1934 ketika ia mendirikan Partai Arab Indonesia. A.R. Baswedan dan teman-temannya menolak penggolongan keturunan Arab ke dalam golongan Timur Asing atau Vreemde Oosterlingen. Menurut beliau, keturunan Arab bukan golongan asing, tetapi warga negara Indonesia asli.

Abdur Rahman Baswedan lahir di Surabaya 9 September 1908 (13 Sya’ban 1326 Hijriyah). Sejak usia 17 tahun ia telah bergabung sebagai Muballigh Muhammadiyah Surabaya bersama K.H. Mas Mansur dan kemudian menjadi anggota Majelis Tabligh Pengurus Besar Muhammadiyah. Ia juga aktif dalam Jong Islamieten Bond (JIB). Menurut catatan Mr. Mohamad Roem, “Pada umur 22 tahun A.R. Baswedan mengemukakan gagasan bahwa bagi golongan Arab yang dilahirkan di Indonesia, yang hidup di Indonesia, dan yang ingin mati di Indonesia, hendaknya memandang Indonesia sebagai Tanah Air-nya.”

Seiring cita-cita membebaskan bangsa dan Tanah Air dari penjajahan bangsa asing, A.R. Baswedan mencetuskan Sumpah Pemuda Keturunan Arab dan sekaligus mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI) pada tahun 1934.

Sumpah Pemuda Keturunan Arab tanggal 4 Oktober 1934 menegaskan tiga hal, yaitu:

Pertama, Tanah Air peranakan Arab adalah Indonesia;

Kedua, karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi);

Ketiga, memenuhi kewajibannya terhadap Tanah Air dan bangsa Indonesia.

Saya menyimak dari pidato Anies R. Baswedan (cucu A.R. Baswedan), kini Gubernur DKI Jakarta, dalam seminar tentang jejak kepahlawanan A.R. Baswedan tanggal 12 – 13 Mei 2016 di Aula Masjid Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, bahwa Sumpah Pemuda Keturunan Arab merupakan sebuah keputusan berani dan menghadang risiko. Seandainya negara Indonesia tidak jadi berdiri, orang Minang masih tetap menjadi orang Minang, orang Jawa masih tetap menjadi orang Jawa, orang Bugis tetap menjadi orang Bugis. Tetapi … orang keturunan Arab tidak mungkin pulang ke Tanah Air-nya di Timur Tengah seandainya negara kebangsaan Indonesia tidak berdiri.

M. Fuad Nasar, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI

Seminar dalam rangka Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional untuk A.R. Baswedan ketika itu diprakarsai oleh Dr. (HC) A.M. Fatwa selaku Ketua Panitia Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Untuk Tokoh-Tokoh Islam Di Lingkungan Muhammadiyah. Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut, R.M. A.B. Kusuma (Peneliti Senior Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Asvi Warman Adam (Sejarawan LIPI), dan Hartono Laras (Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan mewakili Menteri Sosial). Seminar dipandu oleh Lukman Hakiem (senior HMI dan mantan anggota DPR-RI).

Dalam kesempatan itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies R. Baswedan memberi sambutan atas nama keluarga besar almarhum A.R. Baswedan. Juga hadir anggota DPD-RI dari D.I. Yogyakarta, Muhammad Afnan Hadikusumo, cucu pahlawan nasional Ki Bagus Hadikusumo.

Menurut Anies R. Baswedan, kakeknya (A.R.Baswedan) memberikan kecintaan pada bangsa dan negara Indonesia “tanpa syarat apa pun”. Sumpah Pemuda Keturunan Arab merupakan deklarasi Indonesia sebelum negara Indonesia berdiri. Sewaktu anaknya lahir pada bulan Juli 1945 diberi nama “Imlati”, merupakan singkatan “Indonesia Merdeka Lekas Akan Tercapai Insya Allah”.

Semasa hidupnya A.R. Baswedan mengemukakan, peranakan Arab adalah “Indonesia tulen”, baik dilihat dari sudut keyakinan agama yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia yaitu agama Islam maupun dari sudut nasab. Dulu, peranakan Arab di Indonesia, ibunya pasti orang pribumi. Inilah perbedaan dengan kawan-kawan dari keturunan Cina, Belanda dan India misalnya, kata beliau.

Partai Arab Indonesia yang didirikan A.R. Baswedan beranggotakan warga keturunan Arab di Indonesia. Partai PAI didirikan untuk mengorganisir aspirasi warga dari golongan keturunan Arab dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Partai Arab Indonesia merumuskan tujuan dan usahanya, Pertama, mendidik peranakan Arab supaya menjadi putera dan puteri Indonesia yang berbakti kepada Tanah Air dan masyarakatnya. Kedua, bekerja dan membantu segala daya upaya dalam lapangan politik, ekonomi, dan sosial, yang menuju keselamatan rakyat dan Tanah Air Indonesia.

Partai Arab Indonesia yang berasaskan Islam menjadi anggota Gabungan Partai Politik Indonesia (GAPPI) di masa pergerakan kemerdekaan. A.R. Baswedan menegaskan, “Bila suatu saat nanti Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya, maka Partai Arab Indonesia harus bubar.” 

Dalam pembahasan rancangan Undang-Undang Dasar pada rapat besar Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 15 Juli 1945, A. R. Baswedan selaku anggota BPUKI mengemukakan, “Bahwa dari peranakan Arab tidak ada sama sekali seorang pun yang mengharap kerakyatan lain daripada kerakyatan Indonesia. Jadi singkatnya usul saya, ialah supaya semua dalam hal ini yaitu peranakan Arab dimasukkan sebagai rakyat Indonesia dan kalau sekiranya ada yang tidak mau, ia boleh mengeluarkan dirinya daripada kerakyatan Indonesia.”

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Hatta, Partai Arab Indonesia dibubarkan oleh pendirinya. A.R. Baswedan adalah patriot teladan yang menepati janji. Pengikut dan cabang-cabang PAI menyalurkan aspirasi politiknya kepada partai-partai politik yang ada. A.R. Baswedan bergabung ke dalam Masyumi dan menjadi anggota pimpinan Masyumi sampai partai politik Islam terbesar itu bubar pada 1960 karena tekanan rezim Orde Lama.

Sumber foto: Sampul buku Biografi A.R. Baswedan: Membangun Bangsa Merajut Keindonesiaan, Penyusun Suratmin & Didi Kwartanada (Penerbit Buku Kompas, Cetakan Kedua 2018)

Pada waktu merumuskan pasal 26 UUD 1945 yang berbunyi, “Bahwa yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga Negara”. A.R. Baswedan dan teman-termannya dari golongan keturunan Arab tidak keberatan dengan rumusan tersebut karena merasa bukan orang asing dan telah bersumpah menjadi bangsa Indonesia. setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag Belanda tahun 1949 tidak seorang pun keturunan Arab yang menolak menjadi Warga Negera Indonesia (WNI). Sikap golongan keturunan Arab tidak menerima Dwi-kewarganegaraan.    

Peran dan jasa A.R. Baswedan tercatat dalam perjuangan diplomasi sebagai ujung tombak perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia termasuk diplomat Indonesia generasi pertama. Dalam barisan diplomat “generasi pertama” patut dikenang nama besar seperti Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, Nazir Sutan Pamuntjak, Mohamad Roem, H.M. Rasjidi (Menteri Agama RI Pertama), M. Zein Hassan, Ismail Banda, Abdulkadir, Bagindo Dahlan Abdullah, dan beberapa nama lain.

Dalam tugasnya sebagai Menteri Muda Penerangan, A.R. Baswedan mengemban misi diplomatik ke Republik Arab Mesir untuk mengupayakan pengakuan internasional atas kemerdekaan Republik Indonesia. Peran para diplomat generasi pertama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di luar negeri mempertaruhkan jiwa dan raga.

Dalam risalah Sekitar Perjanjian Persahabatan Indonesia – Mesir Tahun 1947 yang dimuat kembali dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (Sinar Harapan, 1984), A. R. Baswedan menulis catatan kenangannya sebagai berikut:

“Matahari musim semi menyambut kami ketika melandas di lapangan terbang Kairo 10 April 1947. Airport terasa sibuk. Kami berempat, Haji Agus Salim, Dr. Mr. Nazir St Pamuncak, Rasjidi (sekarang Prof. Dr. H. Rasjidi) dan saya, turun. Dengan menjinjing aktentas sederhana yang kuncinya sering macet dan berbekal secarik kertas kumal keluaran Kementerian Luar Negeri dengan tulisan “Surat Keterangan Dianggap Sebagai Paspor”, kami meninggalkan pesawat menuju ruang imigrasi. Berdesak di antara sekian banyak penumpang yang berpakaian rapi, saya cuma mengenakan pakaian biasa – itu seragam perjuangan yang terkenal, setelan kain khakik dan sepatu sandal lusuh. Pegawai imigrasi, tinggi besar dengan kumis melintang mengamati  ‘paspor’ kami. Roman mukanya agak berkerinyut, dan Haji Agus Salim cepat memberi keterangan bahwa kami adalah anggota delegasi Mission Diplomatique dari Indonesia, sebuah negara baru di Asia, begitu kata beliau. Petugas itu mengangkat bahu, rupanya ia tak pernah belajar ilmu bumi tentang Indonesia. Matanya masih menyimak suara itu. ‘Are you Moslem?’ mendadak dia bertanya, ‘Yes!’ jawab kami serentak. Jawaban yang spontan seperti pada paduan suara, sehingga kami berempat saling berpandangan sampil tertawa. Petugas itu mungkin telah melihat nama-nama yang tertera di surat itu bernafaskan Islam. ‘Well, then, Ahlan Wa Sahlan. Welcome!” ucapnya. Tanpa banyak cingcong, tanpa melihat surat-surat lagi atau periksa memeriksa tas, kami dipersilakan lewat. Beberapa menit kemudian muncul di ruang tunggu Sekjen Liga Arab, Azzam Pasha, dan beberapa mahasiswa Indonesia.”

Pengakuan dari negara Mesir terhadap kemerdekaan Republik Indonesia merupakan pengakuan pertama dari dunia internasional. M. Zein Hassan Lc, Lt, dalam buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri: Perjuangan Pemuda/Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah (Bulan Bintang, 1980) mencatat pengakuan Kerajaan Mesir atas kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia adalah pengakuan de facto dan de jure. Mesir dalam menyokong RI tidak mencukupkan dengan pengakuan de facto dan de jure saja, tetapi melangkah lebih jauh dengan mengadakan Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Kerajaan Mesir pada tanggal 10 Juni 1947. Perjanjian persahabatan yang mencakup hubungan diplomatik dan perdagangan itu ditanda-tangani di Kairo oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Mesir Mahmud Fahmi Nokrasyi Pasha dan Menteri Luar Negeri Indonesia Haji Agus Salim.

Selanjutnya disusul oleh pengakuan atas kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Saudi Arabia, yang diserahkan langsung oleh Raja Abdul Aziz Al Su’ud dan diterima oleh H.M. Rasjidi di Istana Raja di Riyadh tanggal 24 November 1947. Negara-negara Arab lainnya yang mengakui kemerdekaan Indonesia dalam tahun 1947/1948, ialah Suriah, Yordania, Irak, Lebanon, Yaman, dan Afghanistan. Sampai Desember 1949 hanya negara-negara Arab (Islam) yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia secara de facto dan de jure.

Peran politik-kenegaraan A.R. Baswedan di masa awal kemerdekaan juga sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Setahun kemudian pada 1946 ia diangkat sebagai Menteri Muda Penerangan dalam Kabinet Sjahrir dan ketika itu Menteri Penerangan Mohammad Natsir. Dalam Pemilihan Umum Pertama tahun 1955, A.R. Baswedan terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante mewakili Masyumi.

Selain itu A.R. Baswedan berkiprah di dunia pers dan jurnalistik. Perjuangannya di dunia pers dan jurnalistik sejak 1930-an. Ia menjadi redaktur surat kabar Soeara Oemum di Surabaya dan Matahari di Semarang. Sebagai pemimpin majalah Sadar hingga masuknya Jepang. Pada tahun 1973 menjadi pemimpin redaksi Mercusuar di Yogya.

Wakil Presiden Ke-3 Republik Indonesia dan mantan Menteri Luar Negeri, H. Adam Malik, dalam Risalah Sejarah dan Budaya, Seri Perintis Kemerdekaan, Depdikbud Yogyakarta 1980/1981 dan dimuat kembali dalam buku A.R. Baswedan Revolusi Batin Sang Perintis (Mizan, 2015) memberi kesaksian tentang perjuangan A.R. Baswedan, “Saudara A.R. Baswedan memberikan contoh yang patut ditiru oleh pemuda-pemuda Indonesia keturunan Arab, terutama yang dengan susah payah mengajak dan menghimpun pemuda-pemuda Arab agar ikut masuk PAI (Partai Arab Indonesia). Sebagai seorang pejuang, seluruh hidupnya ia korbankan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia sebagai seorang penulis dan penyair, selalu melukiskan perjuangan, mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah. Dan sebagai seorang Islam, ia selalu memuja dan berdoa kepada Allah Yang Maha Besar (Esa).”

Dalam pengabdian selanjutnya A.R Baswedan menyumbangkan pikiran dan tenaganya di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang didirikan oleh Mohammad Natsir. A.R. Baswedan menjadi Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Perwakilan Yogyakarta. Pada awal 1980-an, beliau diganti oleh Drs. Saifullah Mahyuddin, M.A. Dalam kepengurusan DDII Yogyakarta, Prof. Dr. Bambang Pranowo pernah mendampingi A.R. Baswedan sebagai Sekretaris DDII Yogya.

Sebagai pejuang yang kaya dengan pengalaman dan wawasan kenegaraan, A.R. Baswedan dekat dan gemar berdiskusi dengan angkatan muda dan mahasiswa sebagai generasi penerus. Menjelang akhir hayatnya A.R. Baswedan masih sempat menyusun naskah buku Memoar perjalanan hidup dan perjuangannya.

Sebuah wawancara yang dilakukan Majalah Risalah Islamiyah di Jakarta tahun 1980 dengan A.R. Baswedan mengangkat pesan yang penting direnungkan, “Janganlah kita itu suka berhenti hanya karena ada hambatan atau rintangan. Hambatan/rintangan adalah sesuatu yang inherent dengan semua langkah-langkah perjuangan. Umat Islam harus pandai-pandai mawas diri. Hal-hal kecil yang membuat kita suka berselisih harus dapat kita buang.” ujarnya.

Pejuang umat dan tokoh bangsa Abdur Rahman Baswedan berpulang ke rahmatullah 15 Maret 1986 di Rumah Sakit Islam – Cempaka Putih Jakarta dalam usia 77 tahun. Jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan, setelah dishalatkan di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru.

Setelah wafat, almarhum A.R. Baswedan selaku anggota BPUPKI memperoleh tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama yang diserahkan oleh Presiden Soeharto tahun 1992. Pada tahun 2013 pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana. Tokoh pejuang dan perintis kemerdekaan A.R. Baswedan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2018.

Meskipun A.R. Baswedan telah tiada, namun nilai-nilai perjuangan dan keteladanannya akan tetap hidup dan akan senantiasa menyinari generasi mendatang yang mengikuti cita-cita perjuangannya.

Penulis: Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI

(Visited 185 times, 2 visits today)
Tag: Last modified: 18 April 2020
Close