Ada Apa Dengan Covid-19

“Covid-19 bukan untuk dilawan dan diperangi, membangun bangsa dan negara Indonesia Tangguh dan berdaya Tahan jauh lebih penting ”

Oleh: Prof. Dr. Armaidy Armawi, M.Si.

Dunia saat ini mengalami goncangan dan tekanan yang memprihatinkan dengan adanya wabah pandemi virus Covid-19, negara-negara di belahan dunia manapun baik negara maju maupun berkembang sangat mengkhawatirkan atas keselamatan individu warga negara. Arus lalu lintas dalam kehidupan manusia tanpa mengenal batas negara di dunia saat ini, telah menyebabkan virus Covid-19 menyebar dengan begitu cepatnya antarmanusia dan antarnegara. Virus yang tidak terlihat secara kasat mata telah menyadarkan berbagai pihak dan umat manusia bahwa sesuatu yang tak terlihat tersebut dapat membunuh kelangsungan hidup umat manusia dalam waktu yang begitu singkat bahkan virus Covid-19 tidak memandang status sosial siapapun yang akan diserangnya baik dari kalangan pejabat maupun masyarakat biasa.

Virus Covid-19 telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap negara-negara di dunia, termasuk bagi Indonesia. Virus yang telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO ini tidak hanya berdampak pada masalah kemanusiaan, namun juga banyak persoalan lain, seperti pendidikan yang terpaksa harus diliburkan dan diganti dengan belajar di rumah, ekonomi yang akan mengalami penurunan pertumbuhannya, dan dampak lainnya. Dampak tersebut telah membuat terjadi transformasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Kajian terhadap berbagai permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia menjadi suatu keharusan bagi kita bersama. Covid-19 yang beritanya sedang booming saat ini bukan saja dapat dilihat dari asta gatra dengan tri gatra dan panca gatra yang masuk dalam skala makro, tapi juga dapat dilihat dalam skala mikro. Dalam konteks ketahanan bangsa Covid-19 ini menjadi ujian bagi bangsa ini untuk meneguhkan dan membangun  kembali karakter keIndonesiaan di tengah ancaman kemanusiaan global. Untuk itu, keuletan dan ketangguhan bangsa dan negara untuk menjamin kelangsungan eksistensi Indonesia merupakan suatu conditio sine qua non.

Dalam konteks ketahanan bangsa Covid-19 ini menjadi ujian bagi bangsa ini untuk meneguhkan dan membangun  kembali karakter keIndonesiaan di tengah ancaman kemanusiaan global.

Untuk itu, berkaitan dengan persoalan Covid-19 ini, kita perlu merenung kembali terhadap persoalan fundamental yaitu bagaimana manusia dalam kehidupannya dapat memberi arti dan makna terhadap berbagai persoalan yang dihadapinya. Dengan begitu manusia mencoba untuk menawarkan suatu dasar, arah, dan strategi pemikiran baru, agar manusia dapat ke luar dari kemelut tersebut. Meskipun hal ini bukan berarti satu-satunya alternatif untuk mengatasi masalah yang sedemikian pelik atau kompleks, tetapi sedikit banyak memberikan suatu solusi pemikiran yang tidak kecil artinya.

Dalam era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia sangat mudah untuk diperdaya atau dimanipulasi oleh kesemuan-kesemuan yang tidak bermakna (meaningless). Hal ini disebabkan karena manusia cenderung untuk bekerja dan bergaul dengan kenyataan  melalui abstraksi-abstraksi. Setiap deskripsi yang abstrak mengenai sesuatu kenyataan tidak mungkin akan menampilkan makna yang sesungguhnya dari kenyataan itu. Pangkal tolak segala sesuatu pengamatan yaitu manusianya, yaitu manusia sebagai suatu kenyataan subjektif. Subjektivitas manusia dari pada manusia, yakni manusia individual yang menjalankan eksistensinya, yaitu Tuhan, manusia dan alam dalam suatu fungsi waktu atau sering juga dikatakan dengan historisitasnya.

Menarik untuk direnungkan kembali apa yang dikatakan oleh Soedjatmoko seorang budayawan, mantan Rektor Universitas PBB, dalam risalahnya mengenai Communications and Cultural Identity mengatakan:

Moreover, in many parts of the Third World today,-we can observe the beginning of a moral and religious backlash against the materialism , consumerism and greed which seems inevitably to accompay the development and modernization process . This backlash is two of kinds . In the first place a neo fundamentalistic reaction hostile to modernization. Secondly , a religious counter modernization , not-hostile to modernity per se , but insisting on its moral and religious reinterpretation as a basis for the development effort ” 

Apabila kita renungkan lebih dalam, sinyalimen tersebut cukup memberikan bukti dan sumber inspirasi mengenai berbagai masalah mendasar atau fundamental yang terjadi dewasa ini berkaitan dengan Covid-19 yang dihadapi oleh umat manusia di muka bumi.

Manusia harus mempersiapkan diri untuk memelihara alam sehingga ia dapat melandasi dan menghayati kehidupan umat manusia dihari depan, ternyata manusia pada hakikatnya menghadapi nisbahnya dengan alam. Manusia primitif dikuasai oleh alam, kehidupannya diatur menurut kemauan alam. Manusia pra modern menonjolkan keserasian, harmoni dengan alam, baik dalam kehidupan lahiriah (material) maupun dalam kehidupan batiniahnya (spriritual). Manusia modern memisahkan dirinya secara sadar dari alam, sehingga ia dapat menguasai alam dan mengeksploitasinya secara zalim dan serakah. Oleh karena itu, maka pendekatan yang tepat dan ideal yang dapat ditempuh, yaitu dengan perspektif budaya atau kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil endapan pemikiran manusia. Manusia dalam alam budaya harus  memiliki pandangan dan sikap manusia dalam menghadapi manusia (view of man), alam (view of nature) dan waktu (view of time).

Setelah melihat berbagai peristiwa yang terjadi sekarang ini tepatlah kiranya apabila kita menarik hikmah dari apa yang terjadi di Barat, yang pada kenyataan akhirnya menunjukkan beberapa titik lemah. Titik lemah ini kiranya tidak perlu diulang lagi di negara Indonesia. Sudah tiba saatnya bagi untuk menyusun suatu paradigma  baru, baik mengenai manusia (view of man), alam (view of nature) dan mengenai waktu (view of time) sedemikian rupa agar kesalahan-kesalahan yang terjadi di dunia Barat tidak perlu harus diulangi dan dialami apalagi berkaitan dengan persoalan covic 19 ini.

Pembangunan hendaknya jangan lagi dianggap sebagai perlombaan untuk semata-mata persoalan ekonomis atau teknologis semata-mata untuk mengejar predikat negara “maju”. Pembangunan sebagai suatu pengertian yang dinamis, hendaknya lebih menekankan sebagai karya dan upaya yang tumbuh dari, dan dipupuk atas dasar nilai-nilai kemanusiaan serta pengalaman sejarah dan sumberdaya kearifan lokal masyarakat yang bersangkutan dalam konteks keIndonesiaan. Hal ini membuka mata serta cakrawala kita untuk dapat selalu waspada menanggapi masalah-masalah yang diakibatkan oleh COVID 19, demi kelangsungan eksistensi kehidupan  kita bernegara yang dihadapi sekarang dan dihari depan.

Pembangunan hendaknya jangan lagi dianggap sebagai perlombaan untuk semata-mata persoalan ekonomis atau teknologis semata-mata untuk mengejar predikat negara “maju”.

Permasalahan ini ternyata masih membutuhkan pemikiran dan perenungan mendalam. Manusia Indonesia  rupa-rupanya dalam alam kehidupan modern ini  berpijak pada dua tahapan yang berbeda. Di satu pihak masih berpijak pada strata mitis, di pihak lain berpijak di tahap fungsional tanpa melalui pemahaman terhadap manusia, alam dan waktu secara komprehensi dan integral. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi dimungkinkan juga pada negara berkembang lainnya. Dengan memahami latar belakang sejarah bangsa Indonesia, maka implikasi hal tersebut, akhirnya harus menuju ke arah penemuan suatu paradigma baru, sesuai dengan tuntutan serta kebutuhan manusia dewasa ini dan yang akan datang.

Akhirnya, “bercerai-berainya tiga nilai kehidupan -cipta, rasa, karsa- sehingga mengakibatkan sulitnya keutuhan hidup manusia masa kini”. Hal ini dapat memberikan informasi yang sangat berharga untuk memperkuat dan menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal pada kebudayaan yang sudah ada. “Covid-19 bukan untuk dilawan dan diperangi, membangun bangsa dan negara Indonesia Tangguh dan berdaya Tahan jauh lebih penting ”.

Salam Indonesia Tangguh dan berdaya Tahan.

Yogya memang Istimewa

(Visited 472 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020