Adakah Cara Membuka Sekolah Secara Aman?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kuncinya ialah pada kewaspadaan, kebersihan serta pembatasan jarak fisik. Respons kesehatan masyarakat yang cepat untuk menghentikan penyebaran virus, dan yang terpenting, tingkat penyebaran virus yang rendah di masyarakat.


Dapatkah sekolah dibuka lagi secara aman? Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan yang tiada hentinya di tanyakan, apalagi mengingat masa sekolah telah hampir tiba. Sudahkah kita memiliki kesiapan untuk membuka kembali sekolah-sekolah kita tanpa adanya kekhawatiran?

Mungkin kita perlu melihat pada Korea Selatan. Di sana seluruh anak-anak dalam sekolah manapun makan siang dalam diam, menghadap pembatas plastik yang memisahkan satu anak dari teman-temannya. Mereka mengenakan masker, kecuali pada saat melakukan latihan pembatasan sosial di lapangan. Suhu tubuh mereka diperiksa dua kali setiap pagi, yang pertama saat di rumah dan yang kedua di gerbang sekolah.

Pratik yang dilakukan oleh anak-anak di Korea Selatan ini bisa menjadi suatu kenyataan baru bagi jutaan anak di seluruh dunia, terlebih lagi dengan segera berakhirnya masa liburan bagi negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, dan beberapa negara Eropa, yang hingga kini menutup sekolah-sekolah mereka serta memperdebatkan kapan dan bagaimana sekolah dapat kembali dibuka dengan aman.

Namun, dengan banyak penelitian yang tengah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat cara untuk membuka kembali sekolah dengan aman. Kuncinya ialah pada kewaspadaan, kebersihan serta pembatasan jarak fisik, respons kesehatan masyarakat yang cepat untuk menghentikan penyebaran virus, dan yang terpenting, tingkat penyebaran virus yang rendah di masyarakat. Korea Selatan merupakan salah satu contoh yang baik untuk membuka kembali sekolah dengan aman selama pandemi.

Namun demikian, terdapat peneliti yang mengatakan bahwa jika sekolah-sekolah dibuka sebelum transmisi di masyarakat mencapai level bawah, terdapat peluang kasus penularan akan kembali naik.

Lingkungan yang Beresiko

Young June Choe, seorang dokter anak dan ahli epidemiologi di Universitas Hallym di Chuncheon, Korea Selatan mengatakan bahwa lingkungan sekolah dapat menjadi tempat dengan resiko tinggi. Dalam sekolah, anak-anak sering kali berdesakan di dalam ruangan dengan sistem ventilasi buruk selama delapan jam atau lebih. Juga dalam sekolah terdapat banyak percampuran oleh karena anak-anak yang menghadiri sekolah tersebut datang dari lingkungan berbeda-beda dan datang menggunakan jenis transportasi yang berbeda juga.

Pada awal pandemi, terlihat bahwa virus corona memiliki kemungkina mengenai anak-anak secara berbeda dibandingkan dengan orang dewasa. Oleh karena gejala yang ditunjukan anak-anak jauh lebih ringan, peneliti mengasumsikan bahwa mungkin tidak terlalu menular. Namun demikian, saat ini terdapat bukti bahwa anak-anak juga dapat menularkan virus pada orang lain, terutama bagi mereka yang tinggal serumah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terinfeksi virus memiliki daya tingkat yang sama dengan orang dewasa.

Peneliti memiliki kekhawatiran bahwa jika sekolah dibuka kembali di daerah dengan tingkat penularan komunitas tinggi, maka akan terdapat ledakan penularan yang tidak dapat dihindari serta kemungkinan meningkatnya angka kematian di wilayah tersebut. Buktinya dapat dilihat pada wabah sporadis dan spill-over yang telah terjadi, termasuk didalamnya adalah sekolah menengah atas di Israel dan sebuah perkemahan di Amerika Serikat.

Penyebaran yang Rendah

Studi yang dilakukan di Korea Selatan, Eropa dan Australia menunjukkan bahwa sekolah dapat dibuka dengan aman, dengan ketentuan yakni tingkat transmisi di masyarakat yang rendah. Anak-anak di Korea Selatan telah masuk kembali ke kelas sekolah mereka pada pertengahan Mei, setelah kasus yang dikonfirmasi setiap hari turun menjadi di bawah 50, setara dengan sekitar satu kasus per satu juta orang.

Namun, meski tingkat penularan dapat dikatakan rendah, pemerintah Korea Selatan tetap menerapkan langkah-langkah untuk mengendalikan penyebaran virus, seperti pembukaan sekolah secara bertahap, dimulai dari sekolah menengah atas lalu kemudian sekolah menengah bawah. Di sekolah yang lebih besar, atau di wilayah dimana kasus penularan meningkat, terdapat sedikit murid yang hadir di sekolah. Ketika terdapat seseorang yang dinyatakan positif, pengajaran akan dikembalikan ke online.

Analisis oleh para peneliti di Seoul yang belum ditinjau menemukan bahwa tidak ada peningkatan mendadak akan kasus COVID-19 di antara anak-anak berusia 19 tahun ke bawah dalam 2 bulan setelah sekolah dibuka kembali. Data pemerintah melaporkan bahwa hanya terdapat 1 dari 111 anak usia sekolah yang dites positif diantara bulan Mei dan Juli yang tertular di sekolah. Sebagian besar terinfeksi oleh anggota keluarga, atau pada lokasi lainnya. Dari sini terdapat pesan yang dapat diambil, yakni bahwa dengan kebijakan yang tepat, tingkat penularan di sekolah dapat di control, dalam setting lingkungan dengan transmisi yang rendah. Peneliti menambahkan bahwa cara ini dapat dilakukan dimana saja dan tidak hanya khusus di Korea Selatan.

Sebuah survei oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa juga menemukan bahwa pembukaan kembali sekolah mulai pertengahan Mei dan seterusnya di beberapa negara Eropa sejauh ini belum dikaitkan dengan peningkatan yang signifikan dalam penularan di masyarakat.

Negara bagian New South Wales (NSW) di Australia menutup sebagian sekolahnya pada saat puncak epidemi negara bagiannya pada bulan Maret, namun mereka tetap membuka pusat penitipan anak. Kristine Macartney, direktur Pusat Penelitian dan Pengawasan Imunisasi Nasional Australia di Sydney, serta rekannya menganalisis data dari sekolah dan pusat penitipan anak dalam periode antara akhir Januari hingga awal April. Sekolah tetap terbuka untuk anak-anak dari pekerja perawatan kesehatan atau mereka yang tidak memiliki alternatif.

Selama masa studi, negara bagian tersebut memiliki rata-rata 193 kasus perhari, atau sekitar 24 per satu juta orang, akan tetapi 58% kasus terjadi pada traveller yang kembali dari luar negeri. Macartney dan peneliti lainya menemukan bahwa hanya 25 dari 7.700 sekolah atau pusat penitipan anak yang melaporkan infeksi utama selama masa penelitian. Dari kasus-kasus tersebut, hanya empat fasilitas yang memiliki transmisi lanjutan.

Macartney menunjukkan bahwa hasil tersebut harus dilihat dalam konteks respons kesehatan masyarakat negara yang kuat. NSW mempertahankan tingkat pengujian yang tinggi pada masyarakatnya. Kasus dapat diidentifikasi dengan cepat juga disertai dengan pelacakan kontak, serta penutupan perbatasannya, semua dengan penegakan karantina yang ketat.

Macartney mengatakan bahwa bila penularan terjadi tanpa terkendali di masyarakat, dirinya yakin hal ini juga akan menyebar ke sekolah-sekolah. Dirinya juga mencatat bahwa dalam lonjakan kasus baru-baru ini di negara bagian tetangga, Victoria, titik pusat yang telah diidentifikasi ada di sekolah-sekolah. Hal ini diibaratkan seperti virus yang memanfaatkan celah apa pun di dalam pertahanan kita.

Ruang Kelas yang Padat

Di tempat-tempat di mana kini tengah terjadi penularan di masyarakat yang tinggi, sekolah serta perkemahan telah menjadi pusat lokasi dari penyebarannya. Virus menjangkiti perkemahan di negara bagian Georgia AS pada pertengahan Juni. Pada hari pertama perkemahan, ​​Georgia melaporkan 993 kasus baru untuk COVID-19. Para pekemah tidur di kabin dalam kelompok beranggotakan hingga 26 orang, tidak mengenakan masker dan bernyanyi serta bersorak setiap harinya. Tiga perempat dari 344 peserta yang diuji ternyata positif SARS-CoV-26.

Ledakan penularan besar lainnya terdeteksi di sebuah sekolah menengah di Yerusalem, Israel, 10 hari setelah semua sekolah dibuka kembali pada pertengahan Mei. Terdapat sekitar 127 kasus yang dilaporkan perhari di negara itu pada awal Mei, tetap ketika beberapa anak mulai kembali ke sekolah, ini setara dengan 15 kasus per satu juta orang.

Oleh karena suhu udara yang melebihi 40 ° C, anak-anak muda duduk di ruangan ber-AC dengan lebih dari 30 orang lainnya didalam kelas tanpa menggunakan masker. Virus menurari 153 siswa dan 25 anggota staf, serta 87 saudara kandung, orang tua dan teman mereka.

Lingkungan sekolah juga dapat berperan untuk meningkatkan risiko penyebaran lebih lanjut di masyarakat. Pada pertengahan Maret, sebuah sekolah besar di Santiago, Chili, mengalami ledakan penularan yang cukup besar dalam tempo sembilan hari setelah negara tersebut mendeteksi kasus pertama COVID-19. Sekolah tersebut memiliki lebih dari 30 anak dalam satu kelas, dan tengah sibuk mengadakan pertemuan orang tua-guru. Peneliti mendeteksi antibodi SARS-CoV-2 pada 10% siswa dan 17% staf ketika diuji sekitar dua bulan kemudian.

Wabah sekolah di Israel dan Chili menunjukkan bahwa ukuran kelas yang besar memiliki peran dalam penularan di sekolah, menurut pendapat Edward Goldstein, ahli epidemiologi penyakit menular di Harvard T.H. Sekolah Kesehatan Masyarakat Chan di Boston, Massachusetts.

Sekolah-sekolag haruslah menerapkan langkah-langkah untuk menjaga jarak yang secara wajar. Sebagai contoh dengan membagi shift pagi dan sore untuk mengurangi jumlah murid dalam ruang kelas, dan dengan mencegah terdapatnya kumpulan orang tua setta guru di pintu masuk dan keluar sekolah, menurut Miguel O’Ryan, seorang peneliti penyakit menular pediatrik di University of Chile di Santiago yang memimpin studi sekolah Santiago.

Jika sekolah dibuka kembali dalam wilayah dimana tingkat penularan dimasyarakat tinggi, penggunaan masker, ukuran kelas, mencuci tangan secara teratur, serta mengujian dan menelusuri menjadi hal yang wajib dilakukan, menurut Katherine Auger, peneliti pediatrik di Cincinnati Children’s Hospital Medical Center di Ohio. Dirinya juga menambahkan bila hal ini tidak dilakukan secara cerdas dan terus menerus, maka keadaan akan memburuk dan menjadi tidak aman kembali. (Disadur dari situs nature) 

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti