Ditulis oleh 10:39 am KABAR

Afrika Menyatakan Bebas dari Virus Polio Liar

Akan tetapi ini bukanlah akhir dari pekerjaan. Menurut CDC, vaksin polio oral, termasuk yang digunakan di Afrika, yang mengandung virus polio yang dilemahkan, terkadang dapat bermutasi menjadi bentuk yang berperilaku seperti virus liar.

Setelah perpuluh tahun berjuang memeranginya dengan kampanye vaksinasi, kini Afrika menyatakan telah bebas dari virus polio liar, menurut laporan berita.

Sebuah badan independen bernama Komisi Sertifikasi Regional Afrika (ARCC) untuk Pemberantasan Polio membuat pengumuman tersebut pada tanggal 25 Agustus 2020 di dalam konferensi video Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagaimana yang dilaporkan Reuters. Dari 47 negara di wilayah WHO Afrika, Nigeria telah memberantas virus baru-baru ini, dan kini, empat tahun telah berlalu semenjak kasus polio liar terbaru di negara tersebut.

Penyakit yang dikenal sebagai polio ini disebabkan oleh tiga jenis virus polio yang berbeda, yang terkadang menyerang sel saraf di sumsum tulang belakang dan menyebabkan kelumpuhan sebagian atau seluruh anggota tubuh. Mayoritas orang yang terkena polio tidak menjadi lumpuh, tetapi mereka yang terkena polio dapat tetap mendapat cacat permanen atau meninggal karena kondisi tersebut oleh karena otot-otot yang mendukung pernapasan dapat menjadi lumpuh, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Menurut CDC, orang dapat tertular virus polio melalui kontak dengan kotoran orang yang terinfeksi, atau melalui makanan, air dan benda terkontaminasi oleh karena bersentuhan dengan mulut orang yang terinfeksi. Kasus yang lebih jarang adalah virus tersebut menyebar saat orang yang terinfeksi bersin atau batuk. CDC menambahkan bahwa meskipun tidak ada pengobatan khusus untuk polio, vaksinasi polio yang lengkap memiliki tingkat keefektifan lebih dari 99% untuk mencegah infeksi.

Seperti yang dilaporkan oleh The Guardian, untuk membasmi virus polio liar di Nigeria, sebuah koalisi pemerintah nasional dan pemimpin lokal yang disebut Inisiatif Pemberantasan Polio Global mengoordinasikan sebuah kampanye untuk memberikan vaksinasi pada anak-anak di Negara Bagian Borno, yang terletak di wilayah timur laut negara itu.

Dr. Matshidiso Moeti, direktur regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika, mengatakan dalam konferensi pers, yang diliput oleh The Guardian, bahwa selain memberikan vaksinasi, koalisi tersebut meningkatkan sistem pengawasan untuk memantau wabah ini polio dan bekerja dengan para korban selamat virus polio guna meningkatkan kesadaran akan kampanye vaksinasi tersebut. Disamping usaha untuk mengkampanyakan vaksinasi ini para petugas kesehatan juga menghadapi ancaman serangan dari pemberontakan Boko Haram di Nigeria utara, serta kekerasan sesekali dari komunitas lokal yang menentang upaya vaksinasi karena kekhawatiran tentang dampaknya.

Dr. Tunji Funsho, koordinator anti-polio Nigeria untuk organisasi nirlaba Rotary International, mengatakan bahawa untuk melindungi para petugas kesehatan, koalisi bekerja dengan anggota militer dan milisi yang disetujui pemerintah yang bertindak sebagai pengawal mereka. Misbahu Lawan Didi, presiden Asosiasi Korban Selamat Polio Nigeria, mengatakan bahwa melibatkan para korban selamat polio didalam tim pemberantasan polio terbukti penting untuk mendapatkan kepercayaan dari komunitas lokal.

Didi menyatakan bahwa terdapat banyak yang menolak vaksin polio. Namun demikian orang-orang yang menolak ini melihat betapa kerasnya perjuangan para petugas medis untuk menjangkau mereka, dan untuk berbicara dengan mereka. Dirinya menambahkan bahwa mereka berusaha membuat para penolak ini untuk memikirkan keselamatan anak-anak mereka agar tidak juga terkena virus polio.

Sekarang, berkat upaya ekstensif tersebut, Afrika telah dinyatakan bebas dari virus polio liar. Akan tetapi ini bukanlah akhir dari pekerjaan. Menurut CDC, vaksin polio oral, termasuk yang digunakan di Afrika, yang mengandung virus polio yang dilemahkan, terkadang dapat bermutasi menjadi bentuk yang berperilaku seperti virus liar dan dapat menginfeksi individu yang tidak divaksinasi. Di daerah dengan cakupan vaksin yang rendah, wabah virus polio yang diturunkan dari vaksin dapat terjadi bahkan ketika jenis virus liar telah dibasmi.

Reuters melaporkan bahwa kini Nigeria dan 15 negara Afrika lainnya sedang mengalami wabah kecil virus polio yang berasal dari vaksin, dan menurut BBC News, secara total, terdapat 177 kasus virus polio yang berasal dari vaksin telah dilaporkan di Afrika tahun ini. Untuk menghindari polio yang diturunkan dari vaksin, AS berhenti memberikan vaksin polio oral pada tahun 2000 dan sekarang secara eksklusif menggunakan apa yang disebut vaksin virus polio yang tidak aktif, yang diberikan sebagai suntikan dan berisi virus polio yang sudah mati, bukan yang dilemahkan.

CDC, di dalam situsnya mencatat bahwa pemberantasan polio secara global membutuhkan penghentian semua [vaksin polio oral] dalam imunisasi rutin, secepat mungkin setelah pemberantasan penularan virus polio liar. Moeti mengatakan dalam konferensi pers, sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian bahwa dengan lenyapnya virus polio liar di Afrika, “kita semua harus tetap waspada dan mempertahankan tingkat vaksinasi untuk mencegah kebangkitan virus polio liar dan mengatasi ancaman lanjutan dari polio yang diturunkan dari vaksin”.

Virus polio liar dapat muncul kembali di Afrika, mengingat virus tersebut masih berada dilingkaran Afghanistan dan Pakistan, ujar Michael Galway, seorang ahli polio di Bill and Melinda Gates Foundation. Dirinya menambahkan bahwa sampai virus polio liar telah berhasil diberantas di mana-mana, risiko untuk virus tersebut masih berada di mana-mana. (njd/livescience)

(Visited 10 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 27 Agustus 2020
Close