Agama Islam sebagai Agama Samawi

18.6.6. Agama - Khamim
Al-Qur’an menjelaskan bahwa bila manusia mengikuti petunjuk dan batas-batas yang telah ditentukan Allah, maka selamatlah kehidupannya di dunia maupun di akherat.

A. Agama Islam Dalam Sejarah

Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah mata rantai terakhir dari agama Allah SWT yang diturunkan melalui para Rasul terdahulu. Inilah yang ditegaskan oleh QS, Asy-Syura, 42: 13. Sasaran agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah ummat manusia seluruh alam (universal), QS Saba: 28, Al-Ambiya’: 107, Al’A’raf: 158. Sedangkan sasaran agama para Rasul sebelumnya adalah ummat atau kaum tertentu saja (lokal), QS, Ar-Rum: 47; Hud: 25, 50, 61, 84, 79; Ali Imran: 47, 47-49.

Seluruh Rasul Allah diutus untuk membawa ajaran yang sama yaitu Islam. Hal ini tersebut dalam al-Qur’an antara lain:

  • Nabi Ibrahim AS (1800 SM), Ismail dan Ya’qub diutus dengan membawa Islam (Al-Baqarah, 2: 130).
  • Nabi Musa AS (1300 SM) diutus kepada Bani Israil dengan membawa Islam (QS, Al-A’raf: 125-126).
  • Nabi Isa AS diutus (juga) kepada Bani Israil dengan membawa Islam (QS, Ali Imran: 52).

Semua syariat samawi diturunkan Allah di kawasan Timur Tengah. Hal ini karena ada tiga alasan: (1) Letak geografis strategis (untuk bisnis), (2) Tabiat masyarakatnya seperti bahan baku yang mudah diolah dan (3) Perlu petunjuk Tuhan. Ajaran Islam diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari dan dibagi kepada dua periode: Mekah (13 tahun) dan Madinah (10 tahun).

B. Hubungan Antara Islam Dengan Agama Samawi Sebelumnya

Islam dengan agama-agama sebelumnya mempunyai hubungan yang bersifat:

  • Ta’kid, Artinya menegaskan kembali ajaran yang pernah dibawa oleh para Rasul sebelumnya, tanpa perubahan atau perbedaan sama sekali. Terkait dengan ini adalah hal-hal menyangkut masalah aqidah/keyakinan.
  • Tabdil, artinya menggantikan atau membatalkan syariat yang pernah dibawa oleh para Rasul sebelumnya.
  • Tatmim, artinyamenyempurnakan syariat terdahulu, QS, Al-Maidah: 3.
  • Tausik, artinya meluaskan jangkauan dakwah yang pernah dilakukan oleh para Rasul terdahulu. Muhammad untuk seluruh umat manusia (QS, Saba: 28; al-Ambiya’: 107); sedangkan Rasul-rasul sebelumnya hanya untuk kaum tertentu saja (Ar-Rum: 47).

C. Ciri-Ciri Khusus Agama Islam

Dalam Al-Qur’an kita jumpai penegasan-penegasan tentang unsur universalitas dan keabadian Islam yang benar-benar meyakinkan dan dalam waktu yang sama merupakan ciri-ciri khusus Agama Islam, yaitu:

  • Islam adalah agama fitrah, yaitu sesuai tuntutan pembawaan watak manusia (QS, Ar-Rum, 30: 30). Islam bukannya bukannya agama tradisi sosial, bukan pula agama hasil pemikiran manusia. Setiap manusia lahir fitrah (diberi watak suka menerima ajaran agama yang benar yang mengajarkan tauhid yang mutlak), dalam pertumbuhan jiwanya ia bergantung lingkungannya (Hadits).
  • Islam adalah agama yang menempatkan akal manusia pada tempat sebaik-baiknya. Akal merupakan nikmat karunia Allah yang merupakan unsur utama bagi manusia. Bila ia tidak difungsikan secara baik berarti menurunkan martabat kemanusiaannya. Jahannam bagi mereka yang tidak mau memikirkan ayat-ayat Allah swt (QS, Al-A’raf, 7: 179). Mereka berkata : seandainya dulu kita mau mendengarkan dan memikirkan (ajaran-ajaran agama Islam yang disampaikan kepada kita) niscaya kita tidak menjadi penghuni neraka (QS, Al-Mulk, 67: 10)
  • Islam adalah agama yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang berkepribadian (mempunyai harga diri), bebas bertanggung jawab atas prilakunya. Manusia adalah makhluk mulia dan sesuai dengan kemuliaannya itu ia diberikan fungsi yang mulia pula “khalifah Allah” di bumi. Untuk tugas itu manusia diberi potensi dan kemampuan akal dan jiwa atau hatinurani untuk mempertinggi martabatnya sebagai makhluk yang mulia. Manusia tidak terbebani tanggungjawab atas perbuatan orang lain.

D. Sumber Ajaran Islam

Sumber dapat diartikan suatu wadah yang darinya dapat ditemukan atau ditimba norma hukum. Ada dua sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

1. Al-Qur’an

Pengertian. Secara bahasa al-Qur’an mempunyai arti bacaan. Kata “Qur’an” digunakan sebaai nama kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Secara istilah mempunyai banyak definisi antara lain: Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan Jibril dalam bahasa Arab untuk menjadi petunjuk bagi manusia sepanjang masa.

Al-Qur’an (satu-satunya) kitab agama yang paling terpelihara keasliannya

Ajaran pokok. Ajaran-ajaran pokok yang terkandung di dalam Al-Qur’an adalah:

  • Aqidah.
  • Hukum peribadatan dan mu’amalah.
  • Akhlak.
  • Tamsil (sejarah) sebagai peringatan.

Keaslian. Al-Qur’an (satu-satunya) kitab agama yang paling terpelihara keasliannya, sebagaimana difirmankan Allah: “Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami pulalah yang akan memeliharanya (QS, Al-Hijr, 15: 9)

Fungsi dan Tujuan. Al-Qur’an diturunkan kepada manusia mempunyai fungsi dan tujuan sebagai berikut:

  • Sebagai hudan, artinya petunjuk bagi kahidupan manusia (QS, Al-Baqarah, 2: 2)
  • Sebagai rahmat, artinya keberuntungan yang diberikan Allah dalam bentuk kasih sayang Nya (QS, Luqman, 31: 2-3).
  • Sebagai furqon, artinya pembeda antara yang baik dengan yang buruk, halal dengan haram, salah dengan benar, indah dengan jelek, yang dapat dilakukan dengan yang dilarang (QS, Al-Baqarah, 2: 185).
  • Sebagai mauidhah, artinya pengajaran, bimbingan ummat untuk mencapai bahagia hidup di dunia dan akherat (QS, Al-A’raf, 7: 145).
  • Sebagai nur, artinya cahaya yang menerangi kehidupan manusia (QS, Al-Maidah, 5: 46).
  • Sebagai syifaushshudur, artinya obat rohani yang sakit (QS, Al-Isra’, 17: 82).
  • Dan masih banyak fungsi dan tujuan yang lain.

Al-Qur’an sebagai Petunjuk. Dari berbagai fungsi dan tujuan tersebut, secara keseluruhan Al-Qur’an diturunkan dapat disimpulkan menjadi dua fungsi dan tujuan pokok yaitu (1) Sebagai rahmat, (2) Sebagai hudan atau petunjuk. Petunjuk Al-Qur’an dapat diklasifikasikan ke dalam dua bentuk:

  • Petunjuk langsung. Dalam Al-Qur’an itu terdapat aturan, ketentuan dan petunjuk dalam bentuk tuntutan, larangan atau membiarkan. Di sini terbatas batasan mengenai apa saja yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, baik hubungannya denganAllah mauoun dalam hubungannya dengan sesama manusia. Al-Qur’an menjelaskan bahwa bila manusia mengikuti petunjuk dan batas-batas yang telah ditentukan Allah, maka selamatlah kehidupannya di dunia maupun di akherat.
  • Petunjuk tidak langsung. Dalam Al-Qur’an terdapat pokok-pokok dasar ilmu pengetahuan yang melingkupi segenap bidang. Pokok dasar ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an itu memerlukan pengembangan melalui nalar manusia sehingga menjadi satu ilmu yang sistematis. Melalui penerapan ilmu hasi nalar itu manusia akan mendapatkan rhmat dan membukakan matanya untuk menempuh kehidupan di dunia sebagai persiapan bagi kehidupannya di akherat.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020