Ditulis oleh 10:33 am KALAM

Akhlak Pemimpin Sejati

Pemimpin yang diharapkan harus memiliki dua sayap kekuatan, pertama, adalah pribadi yang mampu menjadi pembelajar dan sekaligus menjadi guru.

Semua komunitas masyarakat manapun selalu mengharapkan pemimpin sejati. Yaitu pemimpin yang memiliki dua sayap kekuatan  dalam menjalankan peran-peran kepemimpinannya. Sayap pertama adalah pribadinya mampu menjadi pembelajar (becoming a learner) dan sekaligus menjadi guru (becoming a guru).

Sebagai pembelajar, maka seorang pemimpin dituntut untuk  bersedia menerima tanggung jawab melakukan dua hal penting, yaitu: pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha  mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial, seperti “Siapakah aku?”, “Siapakah yang menciptakan aku?”, “Kemanakah aku akan pergi?”, “Apakah yang menjadi tanggung jawabku dalam hidup ini?” dan kepada siapakah aku harus percaya?”; dan kedua,   berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensi kreatifnya, mengekspresikan dan menyatakan dirinya seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang “bukan dirinya”. Secara pribadi seorang pemimpin dituntut oleh dirinya sendiri untuk terus berproses “menjadi” yang terbaik dari dirinya, yaitu dengan terus belajar dan berlatih. Dengan belajar, maka  pengalamannya akan semakin kaya, pengetahuannya semakin luas, dan ketrampilan (manajerialnya) semakin bisa diandalkan. Jadi, seorang pemimpin itu pribadinya selalu membawa kesegaran, pembaruan, gagasannya tidak pernah usang (out of date) bagi komunitas yang dipimpinnya.

Sebagai guru, pemimpin adalah pendamping utama warga komunitasnya yang memainkan peran sebagai “aktor intelektual” dan  selalu menjalankan falsafah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani.  Dirinyatidak menganggap penting lagi popularitas, keudukan dan kekuasaan (politik), tetapi ia lebih menempatkan diri sebagai penyelaras antara “spiritualitas-hati nurani”, “rasionalitas-akal budi” dan “aktivitas-otot” yang ada pada komunitas yang dipimpinnya.

Sementara itu, sayap kekuatan kedua seorang pemimpin adalah kemampuan dirinya mengakomodasi dan mewujudkan  harapan komunitas yang dipimpinnya dalam tata sosial yang  damai, aman, sejahtera, demokratis, terpenuhinya hak-hak semua warga dan terbebaskan dari kebodohan, kemiskinan,  rasa takut dan sebagainya. Dengan demikian, seorang pemimpin benar-benar mampu  menumbuhkan suasana hidup yang  tercerahkan. Kapabilitas atau kemampuan dirinya benar-benar menjadi faktor pengikat harapan semua warga komunitas sehingga ia bisa diterima secara total, dan efektif dalam menumbuhkan kesamaan visi, orientasi, tujuan dan langkah dalam membangun masa depan komunitasnya.

Empat Kemampuan Pemimpin Sejati

Pemimpin sejati bukanlah seseorang yang hanya ada dalam impian. Tetapi, sebenarnya bisa lahir dari siapa saja yang memang benar-benar mau dan mampu menjadikan dirinya untuk terus belajar dan berlatih. Ada empat kemampuan yang perlu dimiliki oleh pemimpin sejati :

1. Visioner
Pemimpin sejati dituntut memiliki kemampuan berpikir jauh ke depan. Artinya bahwa sekalipun masa kepemimpinannya mungkin hanya beberapa tahun, tetapi apapun peran dan tanggung jawab yang dilakukannya adalah dalam rangka mempersiapkan keberlangsungan kepemimpinan organisasi dan membangun masa depan yang lebih baik, sebagaimana penegasan Allah dalam ayat berikut :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhataikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakawalahkepada Alalah, sesungguhnya Allah Maha Mengathuhi apa yang kamukerjakan. (QS. Al Hasr: 18)

Seorang pemimpin berkewajiban untuk mempersiapkan masa depan komunitas yang dipimpinnya. Karena itu, pemimpin sejati tidak akan pernah “memanfaatkan” jabatannya atau “mumpung berkuasa”  kemudian  menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi, keluarga atau status quo.   

2. Ahli strategi. 
Pemimpin sejati dituntut memiliki kemampuan menjabarkan visi, misi dan tujuan organisasi ke dalam program-program yang strategis dan bermanfaat bagi kemajuan organisasi. Ia mampu mendesain atau merancang strategi untuk pemberdayaan organisasi, merancang diskripsi pekerjaan (job disscription) yang menyangkut wewenang, tugas, dan tanggung jawab secara adil, sehat dan terbuka.  Dengan begitu, penanganan sebuah program tidak akan terjadi tumpang tindih, tidak ada lempar tanggung jawab dan eksploitasi di antara  komponen organisasi.

3. Kemampuan sinergis.
Pemimpin sejati mampu membaca, menggali dan mensinergikan  semua kepemimpinannya, yaitu  mendayagunakan seluruh potensi organisasi, sehingga mampu diaktualisasikan secara maksimal untuk kemanfaatan bersama. Tidak ada yang disepelekan atau diutamakan. Dari tingkat paling atas sampai paling bawah memiliki fungsi tanggung jawab dan peranan yang penting untuk kemajuan organisasi.

4. Motivator. 
Pemimpin sejatimampu memberikan inspirasi dan motivasi – bukan mendikte –  terhadap komunitas yang dipimpinnya. Dengan inspirasi dan motivasi itu, maka akan tumbuh partisipasi aktif semua komponen organisasi yang pada akhirnya akan melahirkan dinamisasi dan progresifitas organisasi secara produktif dan konstruktif (membangun).

Dengan empat kemampuan di atas, seorang pemimpin sejati itu  tidak saja menjadi menajer yang berperan mengatur pekerjaan yang bersifat struktural dan mekanis, tetapi kepemimpinannya  akan menciptakan iklim yang terbuka, sejuk dan bebas, sehingga  melahirkan budaya (cultur) organisasi  yang positif dan perilaku organisasi yang produktif dan konstrukif.

Tangga Kualitas Pemimpin

Menjadi pemimpin sejati tidak bisa dicapai secara instant, tetapi perlu proses waktu  melalui  tangga-tangga kualitas, antara lain :

1. Dicintai. Dicintai adalah tangga paling dasar bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin dituntut mampu membangun hubungan batin dengan warga komunitasnya.   sebagai modal utama untuk tumbuhnya rasa cinta dari komunitasnya.

2.  Dipercaya. Setelah pemimpin itu diterima dan dicintai, maka  akan tumbuh kepercayaan  untuk  membangun integritas. Kepercayaan dari komunitas akan menjadi modal utama untuk membangun  kekompakan di dalam organisiasi.

3. Diikuti. Pemimpin yang bisa dipercaya, maka akan melahirkan dorongan dari komunitas yang dipimpin untuk mengikuti kebijakan atau peraturan yang diterapkan di dalam komunitas.

4.  Kaderisasi. Tugas pemimpin bukan sekedar menjalankan program untuk masa sekarang, tetapi yang juga  penting dan strategis adalah mempersiapkan kader untuk keberlanjutan proses kepemimpinan.

5. Pemimpin abadi. Tangga kelima ini adalah hadirnya pribadi seorang pemimpin yang telah mampu merepresentasikan  hati. Artinya bahwa jabatan kepemimpinannya, bukan sekedar jabatan praktis, mekanis atau politis yang bersifat material. Tetapi, menjadi pemimpin itu adalah amanah yang harus diwujudkan dalam bentuk “menjadi” pemimpin secara total. Hal ini bisa dilihat ketika pemimpin itu harus selesai dari masa jabatan kepemimpinannya, tetapi pribadinya terus hidup mengilhami dan memberikan inspirasi proses kepemimpinan berikutnya. Inilah puncak tangga seorang pemimpin, pemimpin abadi, atau pemimpin sejati yang namanya akan tetap hidup.    

(Visited 42 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 18 Mei 2020
Close