Ditulis oleh 9:52 am COVID-19

Aku Rindu Kamu, Pemimpin

Pada situasi seperti ini dibutuhkan pemimpin pemerintahan yang tegas dengan aturannya serta kongkrit dalam perkataannya.

Pemimpin itu bukanlah seseorang atau manusia melainkan rasa dan pemikiran yang bertujuan untuk menggerakan potensi dari lingkungan sekitarnya. Pemimpin dapat tumbuh dalam pribadi siapa saja yang menurut saya terbuka pikiran dan hatinya. Karena jika masih memiliki pemikiran yang picik, lantas “pemimpin” itu tidak akan muncul atau jika memang “pemimpin” itu dipaksakan muncul, mau dibawa kemana para pengikutnya?

Pemimpin memunculkan pengikut yang mensupport jalan menuju tujuan bersama. Pentingnya mempelajari ilmu kepemimpinan karena ilmu ini dapat diterapkan dalam situasi apapun. Ilmu ini mengajarkan untuk menumbuhkan potensi diri sendiri sehinggal sikap pemimpin akan tergali dan terpupuk.

Menurut saya dalam menghadapi situasi seperti ini pemimpin (pemerintah dalam konteks ini) akan lebih baik jika mempertegas aturan yang ada serta kongkrit dengan perkataannya. Jika pemimpin sudah membuat peraturan, maka pemimpin juga harus menjadi contoh bagi pengikutnya. Kebijakan-kebijakan yang telah dibuat pemerintah sejauh ini cukup bagus dan saran sebagai seorang pemimpin harus memperhatikan dampak-dampaknya juga.

Jikalau memang kita akan mengadakan lockdown, maka pemerintah lebih baik juga memperhatikan persediaan bahan pokok serta aspek keamanan (militer) dalam rangka pengamanan distribusi supply baik itu makanan ataupun obat-obatan. Dan sebenarnya di negara ini, Indonesia tercinta, banyak orang-orang yang kaya akan material mulai dari youtuber, pengusaha, pejabat, dll. Akan lebih baik apabila potensi-potensi bantuan seperti itu juga dikumpulkan dalam membantu sesama dan mengamalkan sila kedua Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Jikalau ada hal yang dapat kita lakukan, itu tentang kemanusiaan. Membantu sesama, memupuk kesadaran diri, disiplin pada aturan, dan cerdas dalam mencari serta menyebar informasi. Informasi sangatlah sensitif, karena dapat menyebarkan ketakutan yang berujung perpecahan. Jadi, untuk menghindari itu semua mari kita bangkit, saling mengingatkan serta melengkapi, jangan saling menyalahkan namun menguatkan saja. Karena kita berada dalam satu atap yaitu Indonesia Raya, satu jiwa yaitu Pancasila, dan satu keluarga yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Jangan biarkan Ibu kita, Ibu Pertiwi, menangis melihat tingkah kita.

(Visited 96 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close