Ditulis oleh 10:06 am KABAR

Al Qur-an Turun Berangsur-angsur

Dalam satu riwayat Al Qur-an diturunkan selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Selama itu Al Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur, tidak seperti Taurat, Injil dan kitab lainnya yang turun sekaligus.

‎وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al Qur-an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian – (QS Al Isra:106)

Al Qur-an merupakan firman Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk seluruh umat manusia. Al Qur-an diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malaikat Jibril. Al Qur-an itu diturunkan tidak sekaligus sebagai kitab, melainkan berangsur-angsur, bagian demi bagian sesuai dengan kebutuhan.

Al-Qur’an terdiri atas 114 surah, 30 juz dan 6236 ayat menurut riwayat Hafsh, 6262 ayat menurut riwayat ad-Dur, atau 6214 ayat menurut riwayat Warsy. Perbedaan jumlah ini bisa disebabkan oleh dihitungnya atau tidak dihitungnya sebagai ayat apakah bismillaah dan surat yang berawal dengan huruf, misalnya Qaaf, Yaasiin, dsb. Surah-surah dalam Al-Qur’an terbagi atas surah-surah makkiyah (turun di Mekkah) dan madaniyah (turun di Madinah) tergantung tempat penurunan surah tersebut.

Dalam satu riwayat Al Qur-an diturunkan selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Selama itu Al Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur, tidak seperti Taurat, Injil dan kitab lainnya yang turun sekaligus. Pertama kali turun Surah Al Alaq.ayat 1-5, dalam juz 30, pada malam 17 Ramadan tahun 41 dari kelahiran Nabi Muhammad di Gua Hira’ Makkah. Terakhir Surah Al Maidah ayat 3, pada juz 6, turun pada 9 Zulhijjah di saat Nabi Muhammad saw melaksanakan haji Wada pada tahun 63 tahun kelahirannya, atau tahun 10 H di Arafah, Makkah.

Selama Al Qur-an diturunkan, semuanya dihafalkan. Rasulullah saw memberi petunjuk untuk mempelajari Al Qur-an dan menghafalnya. Di antara banyaknya sahabat, ada tujuh orang yang dikenal sebagai penghafal Al Qur-an di zaman Rasulullah saw, mereka adalah: Utsman bin Affan ra, Ali bin Abu Tholib ra, Zaid bin Tsabit ra, Ubai bin.Ka’ab ra, Abu Darda ra, Abdullah bin Mas’ud ra, dan.Abu Musa Al-Asy’ari ra. Di antar tujuh sahabat, yang diamanati untuk menulis wahyu Al Qur-an adalah Zaid bin Tsabit ra, karena dia merupakan sahabat anshar yang cerdas, penulis, penghafal dan mengusai ilmu. Di samping ada sejumlah sahabat yang tidak hafal keseluruhannya. Berkat sahabat pengharafal Al Qur-an, semua ayat Al Qur-an terselamatkan dan terjaga. Di samping Allah swt sendiri yang menjaganya, sebagaimana firman-Nya, yaitu “Inna nahnu nazzalnadz-dzikra, wainnaa lahuu lahaafidzuun”, yang artinya “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al Hijr : 9)

Ada sejumlah alasan, Al Qur-an diturunkan secara berangsur-angsur, di antaranya:

1.    Menguatkan, meneguhkan atau memantapkan hati Nabi ketika menyampaikan dakwah. Nabi kerapkali berhadapan dengan para penentang. Maka, turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu merupakan dorongan untuk gigih net dakwah. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah, Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa Al Qur-an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (QS. Al Furqon : 32).

 2.   Menenangkan hati Nabi ketika turun wahyu. Dalam salah satu firman Allah disebutkan bahwa keagungan dan kehebatan Al Qur-an.dapat membuat gunung bersujud karena takut atas firman Allah swt dalam QS. Al-Hasr: 21, yang artinya “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur-an ini kepada suatu gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” Lalu bagaimana dengan hati Nabi Muhammad saw yang lembut apabila Al Qur-an diturunkan sekaligus semuanya? Tentu hati Nabi Muhammad saw akan merasakan kegelisahan yang sangat dahsyat dan tak akan mampu menerima Al Qur-an secara global dengan kandungan isi yang sangat komplek, sebagaimana sifat manusiawi pada umumnya.

3.    Menentang dan melemahkan para penentang Al Qur-an. Nabi Muhammad saw kerapkali berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang hal-hal batil yang tak masuk akal, seperti hari kiamat yang dilontarkan orang-orang musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi Muhammad saw. Maka turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu, namun bisa juga menantang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al Qur-an. Kemudian ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu, maka hal itu sekaligus merupakan salah satu mu`jizat Al Qur-an.

4.    Memudahkan untuk difahami dan dihafal. Nabi.Muhammad saw sangat merindukan turunnya wahyu. Karena rindunya, suatu ketika mengikuti bacaan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril sebelum wahyu itu selesai dibacakannya. Berdasarkan kondisi.itulah Allah swt berfirman, “Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur-an sebelum disempurnakan dengan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha :114). Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur-an karena hendak cepat-cepat (menguasai). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al Qiyamah: 6-9). Di lain pihak, Al Qur-an pertama kali turun di tengah-tengah masyarakat Arab yang ummi, yakni yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Maka, turunnya wahyu secara berangsur-angsur memudahkan mereka untuk memahami dan menghafalkannya.

5.    Mengikuti setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat al-Qur-an turun) dan melakukan pentahapan dalam penetapan aqidah yang benar, hukum-hukum syari`at, dan akhlak mulia. Hikmah ini diisyaratkan oleh firman Allah, “Dan Al Qur-an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. al-Isra’: 106)

6.    Membuktikan dengan pasti bahwa al-Qur-an turun dari Allah Yang Maha Bijaksana. Walaupun Al Qur-an turun secara berangsur-angsur dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, tetapi secara keseluruhan, terdapat keserasian di antara satu bagian al Qur-an dengan bagian lainnya. Hal ini tentunya hanya dapat dilakukan Allah yang Maha Bijaksana.

Demikian uraian singkat yang bisa menambah wawasan kita tentang proses turunnya Al Qur-an yang berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Dinamika ummat saat itu ikut menentukan ayat-ayat yang diturunkan. Ada ayat-ayat yang nasakh dan mansukh. Ada ayat-ayat muhkamat dan ada yang mutasyabihat, ada ayat-ayat yang berkenaan dengan Ibadah dan muamalah yang sesuai kebutuhan saat itu. Yang jelas bahwa dengan variansi ayat-ayat, diharapkan bisa menjadi pedoman hidup sampai Hari Qiyamat. Kita bersyukur menjadi generasi sekarang yang tinggal menikmati Al Qur-an secara utuh. Semoga kita bisa mengambil pelajaran untuk menyempurnakan amaliah kita. Aamiin.

(Visited 50.154 times, 718 visits today)
Last modified: 27 Mei 2020
Close