Al-Qur’an dan Pancasila

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pancasila menempatkan manusia pada keluhuran harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, dengan kesadaran untuk mengembangkan kodratnya sebagai makhluk pribadi maupun sosial.

Al-Qur`an memperkenalkan diri sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia dan pembeda (furqan) antara hak dan batil (QS 2:185). Fazlur Rahman menyebutnya dokumen keagamaan dan etika yang bertujuan praktis menciptakan masyarakat yang bermoral baik dan adil, terdiri atas manusia-manusia saleh dan religius dengan kesadaran yang peka terhadap adanya satu Tuhan yang memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan.

Sungguh Al-Qur`an ini memberi petunjuk kepada segala yang terbaik, stabil, dan membawakan berita gembira kepada orang yang beriman, yang mengerjakan amal kebaikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar. (QS 17:9).

Al-Qur`an adalah jamuan Tuhan. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuan-Nya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya. (Nabi Muhammad saw).

Al-Qur`an petunjuk bagi manusia untuk memenuhi kesaksiannya kepada Tuhan dan menunaikan perannya di bumi. Al-Qur`an menjadi pusat kehidupan Islam dan dunia di mana setiap muslim hidup. Al-Qur`an mengisi sekaligus menyerap jiwa manusia beriman ke dalam alam keabadian dengan suatu cara yang sangat halus. Demikian, tulis Fritjof Schuon.

Ayat-ayat Al-Qur`an bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang Anda lihat, kata Abdullah Darraz.

Mohammed Arkoun menulis, Al-Qur`an memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk interpretasi baru; tidak pernah pasti, dan tertutup dalam interpretasi tunggal.

Menurut Muhammad ‘Ata al-Sid, tak seorang pun dalam Islam yang mengklaim dirinya sebagai otoritas atas dan penjaga pemahaman yang tepat mengenai Al-Qur`an. Seluruh umat Islam bertanggung jawab terhadap pengabadian, pengembangan pemahaman, dan implementasi ideal-ideal Al-Qur`an.

Navid Kermani menyatakan bahwa Al-Qur`an adalah “karya keagamaan”, kitab petunjuk. Untuk bisa mencapai petunjuk itu kita harus menafsirkannya. Al-Qur`an adalah pesan Tuhan yang memiliki kode dan “saluran” berupa bahasa Arab. Kita membutuhkan analisis teks, lebih dari sekadar disiplin filologi, yang menempatkan Al-Qur`an sebagai teks poetik yang terstruktur. Al-Qur`an tidak masuk kategori teks puisi; ia teks keagamaan yang multi fungsi.

Al-Qur`an memiliki keampuhan bahasa yang tak tertandingi, lebih dari sekadar bentuk atau gayanya, tapi juga karena isi pesan yang dikandungnya. Kekuatan penggerak bahasa Al-Qur`an terletak pada kemampuan dan keampuhannya menghadirkan ide-ide ketuhanan, kemanusiaan, dan wawasan kosmik, yang sama sekali baru dari kepercayaan paganisme Arab, yang sulit diingkari oleh nalar sehat, dan hati yang jernih serta terbuka, tulis Komaruddin Hidayat.

Al-Qur`an adalah kitab peradaban terbesar. Tak seorang pun tahu rahasia, hingga seorang mukmin, ia tampak sebagai pembaca, namun Kitab itu ialah dirinya sendiri. (Mohammad Iqbal)

Al-Qur`an diturunkan dalam rentang waktu 23 tahun, sama dengan masa belajar pendidikan formal pada seluruh jenjang, sejak TK sampai dengan Doktor. Al-Qur`an terdiri atas 114 surat; terpendek terdiri atas tiga ayat, dan terpanjang terdiri atas 286 ayat. Surat pertama Al-Fatihah (pembukaan), dan terakhir An-Nas (manusia).

Surat-surat Al-Qur`an merupakan satu kesatuan yang padu, serasi, dan tidak terpisah satu dari yang lain. Demikian pula ayat-ayatnya, baik dalam setiap suratnya yang pendek, sedang, maupun panjang. Boleh jadi satu surat mengandung sejumlah pesan pokok yang seolah-olah terpisah satu dari yang lain. Akan tetapi selalu ada benang merah yang menghubungkan seluruh gagasan yang menunjukkan kesatuan bangunan pesannya.

Terdapat dua bentuk hubungan antarayat dalam Al-Qur`an. Pertama, hubungan ayat demi ayat sesuai dengan urutan ayatnya. Kedua, hubungan antarayat yang terpisah-pisah satu dari yang lain, baik dalam satu surat maupun dalam surat-surat yang berbeda. Al-Quran saling menafsirkan satu dengan yang lain.

Hubungan antara ayat pertama, keempat, dan keenam surat Al-Fatihah, misalnya, tampak sebagai berikut.

Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.

Penguasa hari perhitungan.

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Ya Allah, Engkau Maha Pemurah, Maha Penyayang.

Atas dasar kasih dan sayang-Mu, Kautentukan hari perhitungan atas perbuatan setiap insan.

Dengan kasih dan sayang-Mu, tunjukilah kami jalan yang lurus, agar kami selamat di hari perhitungan-Mu itu.

Hubungan dan keserasian terdapat pada penutup surat pertama (Al-Fatihah) dan pembukaan surat kedua (Al-Baqarah), yakni sama-sama memuat pesan tentang petunjuk.

Keserasian terdapat pada ayat pertama dan terakhir dari surat ketiga (Ali Imran) sebagai berikut.

Alif Lam Mim. Allah. Tiada tuhan selain Dia, Yang hidup, Yang berdiri sendiri, Abadi. (QS 3:1-2); Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, serta perkuatlah dirimu satu sama lain, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil. (QS 3:200).

Pembukaan surat keempat berikut berhubungan dengan penutup surat ketiga terdahulu.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Ia memperkembangbiakkan sebanyak-banyaknya laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu meminta, dan peliharalah silaturahmi. Allah selalu menjagamu. (QS 4:1).

Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag

Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga
KALAM

JUJUR

Terbaru

Ikuti