15.9 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Aligator Juga Dapat Menumbuhkan Kembali Ekor Mereka

Ketika cicak terancam bahaya, salah satu cara yang dapat mereka lakukan untuk mengalihkan perhatian pemangsa adalah dengan melepaskan ekor mereka sendiri. Setelah beberapa waktu, ekor yang telah diputuskan ini akan tumbuh kembali. Kemampuan ini juga ditemukan di kadal-kadal kecil lainnya. Namun, terdapat pertanyaan apakah reptil besar, seperti aligator, dapat juga melakukannya. Dalam sebuah studi terbaru dari para ilmuan lintas disiplin dengan menggunakan teknologi pencitraan yang canggih, memberikan jawaban atas pertanyaan apakah aligator juga memikiki kemampuan regeneratif layaknya kadal-kadal kecil lainnya mengingat ukuran badan mereka yang sangat besar .  

Para peneliti tersebut, yang berasal dari Arizona State University dan Louisiana Department of Wildlife and Fisheries menemukan bahwa aligator muda memiliki kemampuan untuk menumbuhkan kembali ekornya hingga tiga perempat kaki, yakni sekitar 18% dari total panjang tubuh mereka. Para peneliti bespekulasi bahwa menumbuhkan kembali ekornya memberi aligator keuntungan fungsional di habitat air keruh mereka.

Mereka menggabungkan teknik pencitraan canggih dengan metode yang diperagakan dalam mempelajari anatomi dan organisasi jaringan untuk memeriksa struktur dari ekor yang tumbuh kembali tersebut. Ditemukan bahwa ekor baru ini memiliki struktur yang kompleks, dengan kerangka pusat yang terdiri dari tulang rawan yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang terhubung dengan pembuluh darah dan saraf. Temuan tersebut ini telah dipublikasikan di jurnal Scientific Reports.

Cindy Xu, lulusan PhD baru-baru ini dari program biologi molekuler dan seluler School of Life Sciences ASU. dan penulis utama studi menganggap bahwa hal yang membuat aligator menarik, selain ukuran tubuh mereka, adalah bahwa ekor yang tumbuh kembali menunjukkan tanda-tanda regenerasi dan penyembuhan luka dalam struktur yang sama.

Pertumbuhan kembali tulang rawan, pembuluh darah, saraf, dan sisik konsisten dengan penelitian sebelumnya tentang regenerasi ekor kadal dari laboratorium para peneliti. Akan tetapi mereka terkejut ketika menemukan jaringan ikat mirip bekas luka menggantikan otot rangka pada ekor aligator yang tumbuh kembali. Dengan adanya data ini, sebuah studi komparatif di masa depan akan diperlukan guna memahami mengapa kapasitas regeneratif bervariasi di antara berbagai kelompok reptil dan hewan.

eanne Wilson-Rawls, penulis senior dan profesor asosiasi di Sekolah Ilmu Kehidupan ASU mengagumi spektrum kemampuan regeneratif antar spesies. Dirinya berpendapat bahwa untuk memproduksi otot yang baru pastinya diperlukan usaha dan dampak yang besar bafi mereka.

Buaya, kadal, dan manusia semuanya termasuk dalam kelompok hewan dengan tulang punggung yang disebut amniota. Selain penelitian sebelumnya tentang kemampuan kadal untuk menumbuhkan kembali ekornya, penemuan sebuah ekor baru yang besar dan kompleks pada aligator memberikan informasi baru yang cukup banyak tentang proses regeneratif pada klasifikasi hewan amniota yang lebih besar. Hal tersebut juga menimbulkan pertanyaan baru tentang sejarah dari kemampuan ini, serta kemungkinan masa depannya.

Rekan penulis senior Kenro Kusumi, profesor dan direktur Sekolah Ilmu Kehidupan ASU dan dekan di The College of Liberal Arts and Sciences mengatakan bahwa nenek moyang dari aligator, dinosaurus dan burung terpisah sekitar 250 juta tahun yang lalu.

Temuan dari para peneliti adalah bahwa aligator telah mempertahankan mesin seluler untuk menumbuhkan kembali ekor kompleks sementara burung telah kehilangan kemampuan itu menimbulkan pertanyaan kapan selama evolusi kemampuan tersebut hilang. Dirinya mempertanyakan juga apakah ada fosil dinosaurus yang garis keturunannya mengarah ke burung modern, dengan ekor yang tumbuh kembali. Sejauh ini mereka belum menemukan bukti dalam literatur yang diterbitkan.

Para peneliti berharap temuan mereka akan membantu mengarah pada penemuan pendekatan terapeutik baru untuk memperbaiki cedera dan mengobati penyakit seperti radang sendi.

Rebecca Fisher, rekan penulis dan profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Arizona dan Sekolah ASU. Ilmu Kehidupan mengatakan bahwa jika kita dapat memahami bagaimana hewan yang berbeda mampu memperbaiki dan meregenerasi jaringan, pengetahuan ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan terapi medis.

Sumber:

Situs sciencedaily. Materi pertama berasal dari Arizona State University

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA