Amandemen Konstitusi, Kini Rusia Akui Keberadaan Tuhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Oleh karena itu, memasukkan Tuhan dalam konstitusi menjadi sesuatu yang besar bagi Rusia.

Rusia merupakan negara sekuler, lembaga keagamaan terpisah dari negara dan setara dihadapan hukum. Baru-baru ini dalam amandemen konsitusinya, Rusia mulai bergerak ke kanan dengan menyatakan kepercayaannya terhadap keberadaan Tuhan.

Perdebatan mengenai agama di Rusia terus berlangsung sejak pecahnya Uni Soviet awal tahun 1990-an. Sebagai negara sekuler, tidak ada agama yang memiliki keistimewaan dari yang lain dan setara di hadapan hukum.

Walau demikian Undang-undang Federal Kebebasan Hati Nurani dan Asosiasi Keagamaan menempatkan posisi istimewa Gereja Ortodoks dalam sejarah Rusia. Rusia memang menghormati berbagai agama yang ada mulai Kristen, Islam, Yahudi dan Buddha.

Amandemen konstitusi yang memberikan kesempatan kepada Presiden Vladimir Putin untuk berkuasa hingga 12 tahun lagi, baik sebagai presiden maupun perdana menteri, juga memasukan pasal kepercayaan pada Tuhan. 

“Dipersatukan oleh sejarah seribu tahun, mengakui perkembangan sejarah persatuan bangsa sementara melestarikan kenangan leluhur yang memberi kami gagasan, kepercayaan pada Tuhan dan melanjutkan pembangunan negara Rusia,” demikian bunyi rancangan salah satu klausa di Pasal 3 Amandemen Konstitusi Rusia, seperti dikutip dariRepublika.co.id

Dirunut dari sejarah, perpustakaan Kongres Amerika Serikat (AS) Library of Congress memiliki sejumlah surat mengenai kampanye antiagama era Uni Soviet. Pada Maret 1922 Lenin memerintahkan Politbiru untuk mengejar menghabisi tokoh agama yang disebut Black Hundreds (Piter) dan pengikutnya. 

Catatan tersebut juga menyebutkan bahwa Uni Soviet merupakan negara pertama yang memiliki ideologi objektif untuk menyingkirkan agama dalam kehidupan bernegara. Pada akhirnya rezim Komunis, saat itu, menyita properti gereja, melecehkan agama, menyerang pengikutnya dan mempropagandakan ateisme di sekolah-sekolah. 

Memang organisasi keagamaan di Uni Soviet tidak pernah dilarang, tapi tindakan terhadap mereka berdasarkan kepentingan negara. Gereja Ortodoks menjadi lembaga agama yang paling diincar pada 1920-an hingga 1930-an. Dari 50 ribu lebih Gereja Ortodoks, pada tahun 1939 hanya tersisa 500. 

Namun, setelah Nazi Jerman menyerang Uni Soviet pada 1941, Joseph Stalin membangkitkan Gereja Ortodoks Rusia untuk membangun rasa patriotik semasa perang. Pada 1957 sekitar 22 ribu lebih Gereja Ortodoks kembali aktif lagi. 

Tahun 1959 lagi-lagi Gereja Ortodoks Rusia menjadi sasaran. Saat itu Nikita Khrushchev menginisiasi kampanye anti-Gereja Ortodoks Rusia yang membuat 12 ribu lebih gereja ditutup, sehingga tersisi 7.000 gereja di tahun 1985. 

Belum lagi banyak pejabat-pejabat gereja yang dipenjara atau dipaksa keluar Rusia. Lalu digantikan pejabat yang lebih patuh serta memiliki koneksi dengan KGB.

Oleh karena itu, memasukkan Tuhan dalam konstitusi menjadi sesuatu yang besar bagi Rusia. Walau Kremlin menegaskan Amandemen ini tidak akan mengubah sifat alami Rusia yang sekuler.

Juru bicara Putin, Dmitri Peskov mengatakan akan mensosialisasikan amandemen secara besar-besaran. “Sebelum amandemen di sahkan, akan ada kampanye masif untuk menjelaskannya,” kata Peskov. 

Putin sendiri mengatakan keyakinannya bahwa Rusia melakukan hal yang benar dalam Amandemen ini, untuk memperkuat kebangsaan dan menciptakan kondisi untuk pembangunan yang progresif dalam beberapa dekade mendatang.

Sumber: Republika.co.id

Erik T.

Erik T.

Terbaru

Ikuti