29 C
Yogyakarta
19 September 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Amerika Yang Tidak Lagi Digdaya, Eropa Yang Semakin Tua

Oleh: Iwan Setiawan M.S.I.

Tidak dapat dipungkiri negara super power Amerika Serikat tidak lagi menjadi “polisi dunia”. hampir 70 tahun lamanya Amerika Serikat menjadi negara paling digdaya dimuka bumi ini. Setelah selesai perang dunia kedua, tidak ada negara yang bisa menyamai kehebatan Amerika. Adanya hak veto di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), walau dimiliki juga oleh 5 negara yang lain, Amerika tetap menjadi kuncinya. Sekarang kepemimpinan global Amerika mulai surut. Tidak ada lagi polisi dunia seperti Amerika di muka bumi ini.

Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri Amerika merupakan cermin kedigdayaan Amerika. Kalau sebuah bangsa tidak bisa ditaklukkan secara diplomasi, maka invasi adalah langkah selanjutnya. Kita bisa melihat bagaiman operasi militer Amerika di Asia Tenggara, Amerika Latin dan negara Timur Tengah selama 70 tahun terakhir ini menjadikan Amerika sebagai negara tanpa tandingan. Kini NATO yang dipimpin Amerika tidak kedengaran lagi perannya. Tajinya hilang ditelan oleh kemerosotan ekonomi Amerika.

Sebuah bangsa akan mundur, setelah grafik puncaknya tidak dapat dipertahankan. Meminjam istilah Ibnu Khaldun, kegemilangan sebuah peradaban, daya hidupnya seperti gelombang lautan. Saat gelombang lautan naik, gelombang itu perlahan mulai turun. Begitu juga dengan bangsa Amerika di hari-hari ini. tanda-tanda surutnya peradaban negara adikuasa ini mulai terlihat. Gelombang peradaban Amerika mulai turun, setelah puluhan tahun berada dipuncak.

Kemunduran Amerika bisa kita lihat dihari-hari ini. dalam menangani covid-19 (virus corona) Nampak Amerika seperti kehilangan kedigdayaannya. Kota New York lumpuh dan kematian di semua kota di Amerika mencapai puluhan ribu penduduk Amerika. Kalau kita melihat kemegahan Amerika di era dulu, sepertinya mustahil hal ini terjadi. Tetapi sekarang kita bisa menyaksikan, betapa Amerika sangat kedodoran dalam menangai covid-19. Apakah karena langkah Trump yang salah sejak awal yang menyepelekannya atau sistem kesehatan di Amerika yang mulai tidak digdaya yang menjadikan kondisi ini makin runyam.

Setali tiga uang dengan Eropa, tanda-tanda kemunduran peradaban Eropa mulai terasa. Eropa yang yang dulu, dengan kisah renaissance dan kegemilangan zaman pencerahan mulai memudar. Walau tidak secepat Amerika, tetapi kemunduran Eropa ( Uni Eropa terdiri dari 27 Negara) mulai bisa dilihat, apalagi setelah Inggris “brexit” keluar dari Uni Eropa. Eropa semakin tua dan rapuh. Krisis ekonomi yang melanda Yunani menjadi sinyal pertama dilanjutkan dengan munculnya kelompok ekstrim kanan, lewat gerakan sosial atau pendirian partai politik ekstrim kanan. Peralahan-lahan eropa mulai kehilangan daya kecerdasannya. Berakibat pada inovasi ilmu pengetahuan yang tidak lagi berkiblat ke Eropa, tetapi sedikit-demi sedikit menuju ke Asia.

Buku Memudarnya Supremasi Barat di Tengah Kebangkitan Asia karya Prof Bambang Cipto ini dengan gamblang bicara tentang pergeseran ini. Prof Bambang Cipto yang merupakan ahli Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini secara runtut mengungkapkan sebab kemunduran supremasi Barat dan peradaban mana yang akan menggantikan. Kemunduran supremasi ini dapat dilihat dari formula “sihir” kapitalisme culas, sebuah sistem ekomoni yang mendewakan ekonomi pasar dan menyedikitkan peran negara dalam mengatur kesejahteraan masyarakat.

Kapitalisme menyebabkan ketimpangan pendapatan yang nyata. Kekayaan bangsa hanya dikuasai oleh segelintir elite ekonomi dan politik saja. Akibatnya terjadi lingkaran oligarki, yang oleh Jeffrey Winter oligarki diterjemahkan sebagai segelintir aktor politik dan ekonomi yang menguasai SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam) sebuah bangsa. Akibatnya ketimpangan terjadi yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat. Berimbas pada penghisapan kekayaan negara oleh segelintir elit saja. Sistem Kapitalisme melegitimasi praktek ini.

Akibat penghisapan ini terjadi masalah SDA. Dimana tinggal jutaan masyarakat yang mengandalkan hidupnya dari lingkungan tersebut. Saat keos terjadi antara masyarakat sipil yang mempertahankan SDA, kekuasaan bicara dengan senapan. Lalu siapa yang dibela oleh militer? Tentu elite yang menguasai mereka. Praktik Kapitalisme yang culas juga berujung pada krisis ekonomi. Sering sebuah bangsa dalam melaksanakan pembangunan, didasarkan pada utang semata. Gali lubang tutup lubang. Pada saat terjadi krisis banyak bangsa yang tidak siap untuk mengatasinya. Akibatnya bangsa tersebut akan ambruk. Saat krisisi ekonomi terjadi pun, yang diselamatkan bukan usaha rakyat, tetapi kelompoknya sendiri, elite oligarki yang menopang kekuasaan rezim yang berkuasa.

Saat hegemoni Amerika mulai bergeser, siapa yang akan menggantikan? Dalam buku ini tidak dijelaskan munculnya bangsa yang akan menjadi “polisi dunia” menggantikan Amerika. Tetapi akan muncul bangsa-bangsa yang menjadi kiblat baru bagi bangsa yang lain. Bangsa di Asia seperti Cina, Korea dan Rusia (Rusia Utara masuk di Benua Asia, Rusia Timur masuk di Benua Eropa) adalah bangsa yang akan menjadi kiblat baru yang akan menggantikan Amerika dan Eropa. Kemajuan teknologi ketiga negara di Asia ini patut diperhitungkan. Kemampuan dalam menangani covid-19 juga menjadi signal bagi kemajuan dunia bioteknologi negara-negara Asia ini.

Buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca bagi penikmat ilmu pengetahuan yang suka pada bahasan tema dunia internasional. Buku ini menarikan karena memberi info aktual. Tesis tentang perpindahan penguasa global dari Barat ke Timur akan kita uji beberapa tahun yang akan datang. Apa tesis ini benar, sangat benar atau kurang benar.

Penulis: Pengasuh Diskusi Buku Yayasan Abdurrahman Baswedan dan Dosen AIK UNISA Yogyakarta.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA