22.6 C
Yogyakarta
21 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Anak-anak dan Covid-19

Dampak secara langsung dari Covid-19 pada anak-anak tampaknya tidak separah pada orang dewasa, tetapi memiliki konsekuensi tidak langsung dan tersembunyi, justru akan memiliki efek jangka panjang. Pilihan tindakan yang dilakukan oleh orang tua  dapat mencegah beberapa dampak terburuk dari Covid-19 ini.

Akibat Covid-19, di berbagai belahan dunia saat ini, sekolah ditutup dan sebagian besar aktivitas keluarga terbatas pada rumah mereka. Ketidakpastian dan kecemasan yang saling berkaitan adalah masalah yang nyata dihadapi, dengan hambatan pada pendidikan anak-anak serta waktu mereka dengan teman-teman yang terkurangi, apalagi tidak adanya kesempatan untuk eksplorasi diri lebih luas, dan bermain serta rekreasi.

Ada 10 hak dasar anak yang harus dipenuhi sesuai dengan Undang-undang Perlindungan Anak No 23 tahun 2002, yaitu : (1) Mendapatkan nama sebagai identitas, (2) Mendapatkan kewarganegaraan, (3) Mendapatkan makanan, (4) Mendapatkan perlindungan, (5) Mendapatkan pendidikan, (6) Mendapatkan akses kesehatan, (7) Bermain, (8) Mendapatkan persamaan, (9) Mendapatkan sarana rekreasi, (10) Mendapatkan kesempatan untuk berperan dalam pembangunan.

Berdasarkan 10 hak dasar anak ini yang tentunya jika tidak terpenuhi akan mengalami perkembangan yang terhambat baik fisik maupun mental. Dalam kondisi pandemic ini, tentunya anak juga merasa tidak mendapatkan kepastian yang jelas kapan bisa melakukan aktivitas seperti sediakala. Maka banyak anak yang mengalami kebosanan, sehingga melakukan perbuatan destruktif di rumah dan mengakibatkan orang tua akan emosional, sementara di rumah orang tua juga memiliki beban kerja dan kebutuhan yang harus terpenuhi. Ada beberapa hak anak di atas yang tidak bisa maksimal terpenuhi dalam kondisi pandemic ini, yaitu mendapatkan makanan, mendapatkan pendidikan, mendapatkan akses kesehatan, bermain, dan mendapatkan sarana rekreasi.

Berdasarkan 10 hak dasar anak ini yang tentunya jika tidak terpenuhi akan mengalami perkembangan yang terhambat baik fisik maupun mental.

Permasalahan ini tentu saja terlihat tidak adil. Anak-anak dari rumah yang lebih berkecukupan akan memiliki lebih banyak ruang, akses yang lebih besar pada permainan dan kesempatan untuk belajar, dukungan yang lebih besar dari sekolah mereka dan akses yang lebih baik ke sumber daya internet. Kita harus memastikan bahwa mereka adalah sebagian kecil lapisan masayarakat yang tidak terlalu terpengaruh akan adanya Covid-19 ini. Namun tentu saja akan berbeda cerita dengan anak yang berada dalam keluarga kelompok menengah ke bawah yang merupakan gambaran sebagian besar masayarakat Indonesia.

Anak-anak ini akan mengalami kendala yang lebih kompleks, dari mulai pemenuhan gizi yang bisa jadi tidak bisa tercukupi, apalagi mendapatkan akses yang baik dalam pendidikan dan tentu saja internet di tengah pandemi Covid-19 ini. Belum mereka akan menghadapi kenyataan bahwa orang tua mereka juga sedang mengalami kesusahan walau sekedar untuk bertahan hidup.

Paul Ramchandani, Profesor Lego dari Cambridge University dalam majalah New Scientist UK 11 April 2020, menyampaikan bahwa akan terus terjadi efek yang jelas dari coronavirus pada pendidikan anak-anak, kehidupan sosial dan kesehatan fisik dan mental. Untuk anak-anak dalam tahap perkembangan kunci, seperti yang masih anak-anak dan mereka yang remaja, gangguan selama berbulan-bulan akan memiliki dampak yang lebih besar pada perkembangan sosial.

Salah satu tugas perkembangan anak menuju remaja dan masa remaja sendiri adalah kebutuhan untuk bersosialisasi, meskipun dalam kondisi pandemik Covid-19 ini mereka bisa melakukan dengan smartphone yang dimiliki untuk berkomunikasi dengan teman, namun esensi dari social secara luas tentunya belum bisa terpenuhi, yaitu pengenalan dan pengalaman diri terhadap manusia dan lingkungan sekitar.

Efek-efek ini sedikit demi sedikit akan merusak dan berkelanjutan. Persoalan ini bisa muncul karena anak dihadapkan pada posisi yang tidak bisa berekspresi dengan leluasa. Ditambah dengan kejenuhan pada lingkungan sekitar dan faktor eksternal yang lain. Meskipun tidak terlihat secara langsung, tentunya kita dapat bertindak segera untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ada banyak contoh, tetapi akan dibahas tiga hal. Pertama, anak-anak yang paling kecil (termasuk yang belum dilahirkan) adalah berpotensi paling rentan terhadap stres dan kecemasan keluarga. Efek pada mereka mungkin tidak segera terlihat, tetapi ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa depresi dan kecemasan pada kedua orang tua memiliki keterkaitan dengan risiko yang lebih besar pada masalah kesehatan mental pada anak-anak. Ini tidak diatur secara formal, sehingga intervensi dan dukungan keluarga saat ini, seperti terapi psikologis untuk orang tua, akan memberikan perubahan yang lebih banyak keluarga kepada keluarga.

Kedua, karantina di rumah tampaknya mengarah pada peningkatan kekerasan dalam rumah tangga. Anak-anak yang mengalami atau menyaksikan ataupun mengalami kekerasan di rumah berada pada risiko yang jauh lebih tinggi dari kesulitan psikologis dalam kehidupan mereka. Kekerasan bisa terjadi karena banyaknya persoalan dalam keluarga tersebut, termasuk imbas dari Covid-19 ini yang diarasakan oleh orang tua, maka tidak jarang terkadang anak menjadi pelampiasan. Masyarakat setempat dan staf sekolah melakukan pekerjaan yang luar biasa pekerjaan untuk mendukung anak-anak dan keluarga yang rentan selama pandemi, tetapi ketika sekolah tutup dan kunjungan rumah oleh tetangga atau saudara berkurang, maka akan lebih banyak anak dalam situasi yang tertekan ini yang tidak akan terdengar dan tidak diperhatikan.

Kekerasan bisa terjadi karena banyaknya persoalan dalam keluarga tersebut, termasuk imbas dari Covid-19 ini yang diarasakan oleh orang tua, maka tidak jarang terkadang anak menjadi pelampiasan.

Ketiga, dan mungkin yang terbesar dalam hal kesehatan dan peluang masa depan anak-anak, adalah dampak dari penurunan ekonomi. Anak-anak yang berada dalam ekonomi keluarga menengah ke atas akan mendapatkan kemudahan dalam akses kesehatan, namun anak-anak kalangan menengah ke bawah tentunya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadahi juga tidak leluasa.

Di Inggris, India, selama dekade terakhir, beban rasa sakit ekonomi dirasakan secara luas, dengan penghentian harapan hidup, begitu juga di berbagai Negara yang lain pun juga mengalami hal yang sama, terlebih di Indonesia yang sebagian besar rakyatnya bergantung pada bidang ekonomi. Kebijakan yang diberlakukan untuk mengatasi resesi memiliki dampak terbesar pada keluarga dari kelompok menengah ke bawah, dengan perkiraan 30 persen anak-anak yang hidup dalam kemiskinan dan terdapat peningkatan yang besar serta terus-menerus besar jumlah keluarga menggantungkan pada bantuan dari pemerintah serta masyarakat umum.

Gelombang guncangan ekonomi berikutnya mungkin lebih besar, tetapi pilihan bertahan hidup dapat dibuat tentang bagaimana tantangan tersebut bisa dicarikan solusi. Adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa kota besar mengakibatkan banyaknya sector ekonomi yang mengalami gulung tikar, sehingga korban PHK pun juga besar, tidak bisa dipungkiri akhirnya banyak rakyat yang bergerak untuk kembali di daerah, namun efek ini justru akan lebih besar. Ingat, anak-anak tidak harus menanggung beban saat ini.

Krisis yang terjadi karena coronavirus sudah mempengaruhi kehidupan anak-anak, tetapi mungkin lebih memprihatinkan adalah secara tersembunyi mereka akan terpengaruh dalam beberapa bulan dan tahun mendatang. Kita dapat mengurangi efek ini jika kita membuat pilihan yang tepat. Krisis adalah masa yang penuh ketidakpastian dan kecemasan, tetapi juga saat ketika opsi baru menjadi mungkin. Sekarang adalah waktu untuk merencanakan masa depan yang kita inginkan.


Anak-anak yang berada dalam ekonomi keluarga menengah ke atas akan mendapatkan kemudahan dalam akses kesehatan, namun anak-anak kalangan menengah ke bawah tentunya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadahi juga tidak leluasa.


Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA