Ditulis oleh 11:06 am COVID-19

Angkringan

Sepinya kota, tidak hanya ketiadaan kerumunan, atau tidak adanya aktivitas, namun porak-porandanya kehidupan yang menopang wajah kota tersebut.

Diam di rumah, tidak membatasi pikiran untuk berkelana, mengunjungi “yang lalu”. Salah satu tempat yang dirindukan adalah angkringan. Pasti bukan pertama-tama kangen pada sajiannya, tetapi pada “ruang” di sana, suasananya. Panganan bisa bisa ditemukan di lain tempat, tetapi suasana hanya ada di sana.

Untuk yang tidak punya pengalaman “ngangkring”, pasti bertanya-tanya. Apa yang ada di sana, sehingga layak untuk diincar kehadirannya? Atau tempat pertama yang akan dikunjungi jika wabah telah berlalu. Ada apa? Padahal tempat tersebut ada di pinggir jalan, yang padat lalu lalang kendaraan bermotor. Asap kendaraan berseliweran, ikut membentuk suasana. Apa yang menarik, sehingga membuat ketagihan?

Pertanyaan yang sulit dijawab. Oleh sebab jawabannya mengandung pengetahuan unik yang berbasis pada pengalaman pribadi. Kedalaman makna, bergantung pada peristiwa yang membentuknya. Sementara, dari sekian banyak kunjungan ke lokasi tersebut, pasti hanya ada satu, yang demikian berkesan, dan mungkin karena itu, kunjungan berikutnya diselenggarakan.

Kunjungan setelah kunjungan yang penuh kesan tersebut, merupakan upaya untuk menemukan peristiwa yang sama. Dapat diduga bahwa dalam kunjungan tersebut, yang dicari tidak ditemukan, malah mungkin bertemu dengan kesan yang lain, yang kembali ingin ditemukan pada kunjungan selanjutnya. Demikian seterusnya.

Pengalaman pribadi-pribadi tersebut, mungkin merupakan faktor utama dari pembentukan sebutan angkringan. Subyek bukan pada si pedagang, tetapi pada konsumen. Bahkan kini, angkringan sudah bukan tentang konsumen, melainkan tentang suasana. Lukisan angkringan sebagai suasana, dapat dilihat pada lagu Jogjakarta, karya KLA Project.

Gambar angkringan (kaki lima), yang ditampilkan adalah gambar ruang dengan ornamen yang kaya. Ruang tersebut merupakan ruang interaksi yang sangat hangat, akrab dan menyenangkan. Artinya, ruang di maksud, bukanlah ruang fisik, melainkan ruang non fisik. Disebut di sini sebagai ruang percakapan.

Oleh karena itu, bagi yang berkesempatan mengamati angkringan atau mungkin yang hadir langsung di sana, akan menemukan bahwa di lokasi tersebut terbentuk lingkar-lingkar kecil, mulai dari satu orang, dua orang dan lebih dari dua. Yang sendiri, asyik dengan pikirannya. Sendiri ditengah keramaian. Yang berdua atau lebih, hanyut dalam obrolan yang mengabaikan pergerakan jarum jam.

Sang pedagang, walaupun nyatanya menjual panganan, namun mungkin sungguh-sungguh “dibeli” oleh konsumen, adalah “suasana”. Sesuatu yang memungkinkan berlangsungnya percakapan, keakraban dan kedekatan. Dengan demikian, layanan si pedagang, merupakan jenis komoditas non fisik, yang diperoleh lewat makanan dan minuman. Konsep inilah yang kini, nampaknya diadopsi oleh cafe-cafe. Yang juga menjual “suasana”, dengan ruang yang lebih eksklusif. Angkringan datang dari bawah, cafe dari arah sebaliknya.

Tentu terasa aneh, jika ada pertanyaan: mengapa ruang percakapan layaknya di angkringan, tidak dapat ditemukan di rumah? Bahkan banyak keluarga merasa perlu pergi ke angkringan atau ke cafe, hanya untuk bertemu dengan ruang tersebut? Jawabannya membutuhkan riset tersendiri. Namun yang sangat jelas adalah bahwa ketika kebutuhan untuk berdiam di rumah datang, atau ada keharusan berdiam di rumah, maka terjadi dinamika. Ada yang senang, karena waktu bertemu bersama keluarga menjadi bertambah. Ada yang bosan, dan merindukan angkringan, atau tempat sejenis yang dapat memberi tempat pada percakapan.

Angkringan, sebagai jenis usaha, kini menghadapi tantangan yang besar. Tinggal di rumah, merupakan pukulan bagi sang pedagang. Keadaan tersebut berarti sepinya pengunjung. Komoditas yang ditawarkan, seperti kehilangan peminat, meski nyatanya yang ingin datang banyak, tetapi tidak mungkin. Kalau pun memaksa diri buka, maka sang pedagang akan kena sanksi karena memungkinkan adanya kerumunan orang, tetapi bisa juga tidak ada yang datang, karena tidak ingin ada penyebaran wabah di lokasi tersebut. Tetapi, jika tidak buka, maka penghasilan harian akan hilang. Dan demikian itulah yang terjadi. Pun pula yang terdampak bukan hanya dapur sang pedagang, tetapi pada pensuplai panganan, karena umumnya makanan dagangan tersebut adalah milik pedagang yang lain.

Angkringan dengan demikian punya wajah yang kompleks. Terdapat jaringan hidup dan makna. Sepinya kota, tidak hanya ketiadaan kerumunan, atau tidak adanya aktivitas, namun porak-porandanya kehidupan yang menopang wajah kota tersebut. Angkringan pasti hanya salah satu dari titik kehidupan tersebut. Kerinduan konsumen pada suasana angkringan, berarti harapan para pedagang untuk agar dapur mereka tetap mengepul. Keadaan bisa memaksa ruang-ruang keakraban berubah wajah, bentuk dan warna. Rumah yang semula tidak memuat ruang percakapan, kini perlahan-lahan, mungkin mulai tercipta. Yang semula bosan, mungkin telah mulai terbiasa dan menciptakan keasyikan yang baru. Bagaimana dengan para pedagang tersebut? Apakah dapur bisa bersalin rupa? Semoga wabah segera berlalu

(t.red)

(Visited 68 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 April 2020
Close