Ditulis oleh 3:06 am KALAM

(PUISI) Antar Guru dan Bekas Muridnya

Kata Sang Guru
Wahai anakku muda remaja
Dengarkan nasihat orang tua
Sudah banyak makan garam
Walau sekarang ia diam
Tidak bergerak sebagai dulu
Seperempat abad yang baru lalu
Bahkan sudah separo abad!

Dengarkan daku, dengarkan baik
Walaupun kau seorang cerdik
Pandai berpikir pandai mengarang
Suka bergerak gemar berjuang
Tetapi tidak sebagai aku
Cukup “tajarub” lihat rambutku,
Putih alamat setengah abad
Kudengar banyak tentang engkau
Memangnya kau sangat terlampau
Engkau belum berpengalaman
Baru saja di sekolah zaman
Lepaskan itu, turutlah aku
Ujarku hasil seperempat abad

Sambutan bekas Murid:
Kudengar baik nasihat Tuanku
Tentu terukir dalam hatiku
Tapi izinkanlah aku bicara
Walaupun aku remaja putera
Usia muda tidak pun cerdik
Ibarat tangkat baru memutik
Hendak menjadi pohon nan rindang

Bukankah Tuanku penanam benih
Di tanah subur tersiram kasih
Benih: Pandai Berpikir Sendiri”
Tidak menghiraukan itu dan ini
Asalkan sudah cukup selidik
Seperti tuanku biasa mendidik
Hak dan benar tentu ‘kan menang……….

Bukankah selalu Tuanku anjuri
Orang gunakan otak sendiri
Jangan menjadi orang “Pak Turut”
Bagai bayangan atau buntut
Walau terhadap Imam Syafi’i
Jangan sebagai tukang menari
Dengar kecapi lantas berdendang

Bukankah selalu Tuan katakan
“Jangan langkah kau patahkan
Oleh celaan dari khalayak
Biarpun mereka terus menyalak
Jangan kafilah hendak berhenti
Jangankan kau, sedangkan Nabi
Utusan Allah dinista orang”

Tidak, tidaklah wahai Tuanku
Tidak kan kulepas cita-citaku
Sudah mendalam di darah daging
Hasil berpikir dengan membanding
Bukan aku keras kepala
Tetapi sejak dahulu kala
Tuanku didik berterus terang
……”salah” sendiri

Puisi ini pernah dimuat di Insaf No. 5 Th I, Mei 1937.


Sumber: Buku A.R. Baswedan: Revolusi Batin Sang Perintis (Kumpulan Tulisan dan Pemikiran), Penyusun Nabiel A. Karim Hayaze’, Mizan Pustaka, 2015, halaman 197-199.

(Visited 28 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 12 Juni 2020
Close