Ditulis oleh 7:50 am COVID-19

Antisipasi Covid-19: Membangun Etos Kerja Islami

Dalam ajaran Islam, bekerja dan aktivitas lain tidak hanya diarahkan kepada pencapaian prestasi-prestasi duniawi semata, tetapi juga prestasi akhirat.

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

Islam mewajibkan umatnya bekerja maksimal. Sedang menghadapi berbagai ujian —semisal Covid-19 — pun jangan sampai menurunkan produktivitas dan efektifitas kerja. Pekerjaan manusia adalah tugas rasio (akal) dan fisik; jika manusia tidak bekerja maka ia tidak dapat memenuhi tugas hidupnya. Manusia harus menggunakan akalnya untuk berfikir dan menjadikan pemikiran sebagai pedoman dalam kehidupan, sehingga tidak dikalahkan oleh hawa nafsu.

Pemikiran yang negatif  (negative thinking) akan mengakibatkan kerugian bagi dirinya dan orang lain. Bekerja merupakan tugas manusia dalam hidup, namun sayangnya masih banyak manusia yang tidak sungguh-sungguh mengerjakan apa yang menjadi beban  tugas dan kewajibannya, bahkan banyak yang menjadikan pekerjaan itu hanya sekadar  kegemaran, tanpa memperhatikan efektifitas dan efisiensi pekerjaan yang dilakukan.

Pekerjaan merupakan sarana untuk memperoleh rizqi dan sumber penghidupan yang layak bagi kehidupan. Dapat pula dikatakan bahwa bekerja adalah kewajiban dan kehidupan itu sendiri. Manusia hidup mempunyai tujuan, yang kemudian diderivat dalam visi dan misi hidup yang dicanangkannya.  Ia hidup bukan sekadar untuk penghidupan saja, dan bukan pula sekadar menjaga eksistensi diri.

Tujuan hidup manusia adalah perjuangan dan perlawanan. Perjuangan di jalan kebenaran dan perlawanan terhadap apa yang melemahkan kebenaran dan memperkuat kebatilan. Misi kebenaran adalah misi kebaikan, misi kerjasama yang bernilai dalam hidup, dan juga misi kasih sayang sesama manusia. Jadi, melakukan misi ini merupakan realisasi tujuan manusia dalam hidupnya.

Islam menjadikan bekerja  sebagai hak dan sekaligus kewajiban individu, tetapi berfungsi sosial. Rasulullah menganjurkan bekerja dan berpesan agar melakukannya sebaik mungkin. Rasulullah berpesan juga agar berlaku adil dalam menentukan upah kerja dan menepati pembayarannya. Fondasi utama yang diletakkan Islam dalam mengatur perolehan penghidupan (makanan pokok) manusia adalah dengan bekerja. Al-quran juga menjelaskan bahwa pengemban risalah agama dari kalangan Nabi dan Rasul sepanjang sejarah adalah orang-orang yang berkarya. Di samping mengemban misi suci (risalah agama), mereka juga bekerja.

Tujuan hidup manusia adalah perjuangan dan perlawanan.

Nabi Nuh a.s. adalah seorang Nabi dan Rasul, namun ia juga salah seorang perintis di bidang industri. Allah mewahyukan kepadanya untuk membuat kapal laut untuk menyelamatkan dirinya dan orang-orang yang beriman dari keganasan angin topan. Permulaan pembuatan kapal adalah dengan tangannya sendiri.

Bapak para nabi (abul an-biya) Nabi Ibrahim a.s. menangani pembangunan gedung. Bersama putranya, Nabi Ismail a.s. pernah mengangkat fondasi Ka’bah di Makkah al-Mukarramah. Nabi Yusuf a.s. menggagas pemikiran ekonomi dalam rangka perbaikan manajemen pangan rakyat. Beliau pernah ditugaskan oleh penguasa Mesir untuk mengelola sumber-sumber alam di negeri itu untuk membantu rakyat meningkatkan penghasilan mereka. Demikian juga Nabi Musa a.s. dengan didukung  fisik yang kuat dan kejujurannya (qowiyyul amin) bekerja pada Nabi Syu’aib a.s. dalam mengelola harta dan membantunya selama sepuluh tahun hingga akhirnya dinikahkan dengan salah seorang putrinya. Contoh lain, Nabi Daud a.s. adalah seorang nabi yang memelopori pembutan baju perang dari besi, dan beliau makan dari hasil jerih payahnya sendiri.

Dalam ajaran Islam, bekerja dan aktivitas lain tidak hanya diarahkan kepada pencapaian prestasi-prestasi duniawi semata, tetapi juga prestasi akhirat. Fokus yang hanya bertindak untuk  mewujudkan prestasi-prestasi duniawi memang menghasilkan keberhasilan material, namun gagal memenuhi kebahagiaan ruhani manusia. Sebaliknya, menfokuskan diri pada pencapaian prestasi akhirat saja dengan menghabiskan waktu beribadah kepada Allah terus-menerus dengan mengabaikan kebahagiaan duniawi, tindakan ini juga tidak tepat. Proporsionalitas, profesionalitas  dan keharmonisan menjadi  satu hal yang disukai agama Islam.

Bila satu dimensi prestasi saja yang dikejar manusia, maka problem susulan akan segera menghadang hidup manusia. Peradaban Barat misalnya, yang hanya mengejar kemajuan material dan tidak ditopang oleh kemajuan moral-spiritual ternyata menghasilkan stres dan depresi di kalangan masyarakatnya. Banyak orang pandai yang tidak berbahagia, bahkan mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat mengenaskan, yaitu bunuh diri. Kembali kepada tuntunan Islam dalam mengembangkan etos kerja merupakan imperatif yang harus dilakukan setiap umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Semoga!!!

Penulis: Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan


Kembali kepada tuntunan Islam dalam mengembangkan etos kerja merupakan imperatif yang harus dilakukan setiap umat Islam pada khususnya dan umat manusia pada umumnya.


(Visited 273 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 15 April 2020
Close