Apakah Binatang Juga Menggunakan Obat?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Ketika kita sakit, hal yang paling umum kita lakukan adalah datang ke dokter. Di sana kita kemungkinan akan diminta beristirahat dan meminum obat. Obat-obatan merupakan salah satu pencapaian manusia guna “menambal” dan memperbaiki kerusakan yang dialami oleh tubuh mereka. Namun apakah hal ini hanya khusus untuk manusia? Bagaimana dengan hewan? Apakah mereka tidak menggunakan obat untuk menyembuhkan kerusakan tubuh mereka? Bagaimanakah sebenarnya evolusi dari penggunaan obat?

Seperti halnya setiap sifat yang berevolusi, keadaan ini tergantung pada seleksi alam. Hewan yang menemukan suatu perilaku baru yang bermanfaat dalam beberapa hal kemungkinan besar akan bertahan dan meneruskan perilaku tersebut kepada keturunannya agar mereka juga selamat. Dan hal tersebut juga termasuk dalam pengobatan.

Sebagai contoh, kita bisa lihat pada kupu-kupu monarch. Ulat dari kupu-kupu ini hanya mengkonsumsi tanaman milkweed untuk mempersiapkan bentuk kupu-kupunya. Diketahui bahwa kupu-kupu monarch ini sering kali terinfeksi dengan parasit yang mematikan. Bagaimana mereka mengatasi parasit ini? Rupanya, kpu-kupu betina yang terinfeksi dengan parasit ini cenderung bertelur pada spesies milkweed yang memiliki konsentrasi bahan kimia tinggi yang dapat pembunuh parasit. Bahan kimia ini disebut ‘cardenolides’. Peneliti telah menunjukkan bahwa dengan cara ini, kupu-kupu tersebut dapat mengurangi level dari infeksi pada ulat kupu-kupu yang lahit nantinya. Juga diamati bahwa kuku-kupu monarch yang tidak terinfeksi dengan parasit tidak memilih milkweed dengan bahan kimia sebagai tempat untuk bertelur mereka.

Kupu-kupu monarch ini merupakan satu dari banyak binatang yang kini diyakini untuk “mengobati” diri mereka sendiri menggunak berbagai macam tanaman dan serangga. Sebagai contoh lain, kera simpanse, telah diamati oleh para peneliti untuk menelan keseluruhan daun kasar dari tanaman Aspilia. Daun ini dipercaya para peneliti dapat membersihkan cacing parasit dari dinding usus simpanse sehingga dapat mengeluarkan cacing tersebut dari tubuh mereka.


Contoh lain dapat dilihat pada lebih dari 200 jenis burung yang melakukan sesuatu yang disebut sebagai “anting”. Anting adalah kegiatan burung yang menggosokkan semut di sekujur bulu mereka, atau dengan berguling-guling di sarang semut. Kegiatan ini dinilai merupakan sebuah bentuk lain dari pengendalian parasit. Asam format yang beracun dari semut inilah yang menjadi “obat” yang digunakan oleh kebanyakan burung. Selain hewan-hewan tersebut, gajah Afrika juga diamati melakukan pengobatan terhadap diri sendiri dengan memakan tanaman dari keluarga borage untuk membantu mereka menginduksi persalinan.

Dengan melihat beberap contoh diatas, kita tahu bahwa hewan mungkin juga memiliki pengetahuan akan pengobatan. Tidak hanya itu, sering kali dalam mitos dan cerita rakyat, hewan dianggap sebagai sumber dari pengetahuan medis. Kini mungkin ahli farmasi perlu “belajar” lagi dari hewan-hewan untuk lebih mendapat inspirasi untuk obat-obatan untuk manusia kedepannya. Tanaman Aspilia, sebagai contoh, yang digunakan simpanse untuk membersihkan parasit diketahui juga memiliki sifat antibakteri. Artinya sehingga senyawa yang diekstrak dari tanaman ini dapat digunakn untuk membantu mengobati luka yang terinfeksi.

Contoh lain ada pada orangutan di Indonesia, yang diamati menggosokka campuran berbusa dari air liur dan daun dari tanaman lain, yakni Dracaena cantleyi, pada tubuh mereka. Penduduk setempat juga menggunakan tanaman ini dengan cara yang sama dengan orangutan untuk meredakan nyeri sendi dan otot. Analisis ilmiah dari tanaman ini sejak saat itu menunjukkan bahwa tanaman ini memang memiliki sifat anti-inflamasi. Alam sekitar kita nampaknya memang dipenuhi dengan berbagai amcam obat dan senyawa penyembuh, yang mungkin hewan ketahui namun belum manusaia ketahui. Dengan mengikuti hewan-hewan kita dapat terbantu untuk mendapatkan obat yang benar untuk penyakit yang manusia dapatkan. Dan mungkin dengan “belajar” dari hewan, kita mungkin juga dapat menemukan obat yang tepat untuk membantu kita mneghadapi virus corona saat ini.

Sumber:
Situs sciencefocus. Foto: Pixabay.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti