Apakah Duduk Buruk untuk Pikiran?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Mereka yang lebih banyak melakukan kegiatan fisik memiliki kecepatan, memori, dan kemampuan bernalar yang baik. Mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu melakukan pekerjaan dengan duduk menunjukkan kemampuan kosa kata dan nalar yang jauh lebih baik.

Telah diketahui secara umum nasihat kesehatan bahwa orang tua pada umur berapapun disarankan untuk mengurangi duduk dan lebih banyak menggerakkan badan. Serta berolahraga secara teratur untuk lebih menyehatkan badan dan mengurangi resiko terkena penyakit kronis. Namun demikian, menurut sebuah studi mengenai lansia dari Colorado State University, untuk otak dan kemampuan belajar, bekerja yang membutuhkan untuk duduk lama tidak sepenuhnya buruk, selama aktifitas fisik dasar telah dilakukan dan terpenuhi.

Dalam studi tersebut, yang dilakukan oleh Asisten Profesor Aga Burzynska di CSU Department of Human Development and Family Studies, mempelajari asosiasi antara aktifitas fisik yang diukur dengan sensor dan kemampuan kognitif dalam 228 sampel lansia dengan umur 60 hingga 80.

Hasil studi, yang dipublikasi pada Psychology and Aging, menunjukkan bahwa dari para relawan, mereka yang lebih banyak melakukan kegiatan fisik, baik sedang maupun yang berat, memiliki kecepatan, memori, dan kemampuan bernalar yang baik. Akan tetapi, data yang diperoleh juga menunjukkan bahwa mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu melakukan pekerjaan dengan duduk menunjukkan kemampuan kosa kata dan nalar yang jauh lebih baik. Hasil tersebut mungkin dapat menjadi suatu kabar yang menggembirakan bagi mereka yang bekerja dengan duduk dalam waktu yang lama.

Pengukuran yang Sensitif

Menurut Burzynska, asosisasi antara meningkatnya aktifitas fisik dan meningkatnya kesehatan jantung dan metabolisme adalah sesuatu yang telah didokumentasikan secara baik. Namun hubungan antara perbedaan intensitas dari kegiatan fisik rutin dan kesehatan kognitif masih kurang dipahami, khususnya pada para lansia.

Burzynska mengatakan bahwa ketika seseorang bertambah tua bahkan jika mereka tidak mengalami pelemahan kognitif, orang yang berumur 60 ke atas mulai menunjukkan penurunan kecepatan, fungsi eksekutif, dan memori. Pengurangan tersebut berada pada taraf normal. Namun, studi yang dirinya lakukan berusaha untuk mengerti bagaimana perilaku dan kebiasaan kita kemungkinan berkolerasi dengan hasil kognitif di umur lansia.

Hal yang membedakan studi tersebut dengan studi lainnya adalah bagaimana para peneliti mengukur aktifitas fisik harian, dengan menggunakan sensor yang divalidasi secara ilmiah yang lebih akurat daripada alat yang biasa dipakai para konsumen untuk mengukur aktifitas mereka. Studi lain mengandalkan data yang diukur oleh relawan sendiri untuk mengukur aktifitas fisik, dan Burzynska tahu bahwa mereka terkadang terlalu melebih-lebihkan pergerakan harian mereka dan mengabaikan waktu mereka duduk. Dirinya menambahkan ketika ditanya berapa lama waktu duduk para relawan, kemungkinan besar mereka akan menjawab 2 hingga 3 jam, walau dalam kenyataannya bisa lebih dari 6 hingga 8 jam.

Lebih jauh lagi, dimana studi lain mungkin hanya menggunakan satu atau dua pengukuran dari kognisi dan definisi umum dari aktifitas fisik. Studi yang dilakukan Burzynska menggunakan penugasan yang lebih luas dengan tes 16 kegiatan kognitif. Selain itu, para peneliti studi juga mengukur dan mengontrol faktor sosial ekonomi dan kesehatan, seperti status pekerjaan, tingkat pendapatan, kebugaran aerobik, tekanan darah, dan masalah mobilitas.

Burzynska mengatakan bahwa studi mereka memiliki pengukuran berkualitas tinggi yang tidak dapat dilakukan secara “cepat dan kotor”

Lansia yang mengikuti studi tersebut dipasangkan sensor di pinggul mereka selama tujuh hari, di mana sensor tersebut menangkap waktu yang mereka habiskan untuk duduk atau waktu yang mereka habiskan untuk berolahraga ringan dengan yang sedang dan berat.

Kognisi Fluid vs Kognisi Crystallized

Tugas kognitif studi tersebut membuat para relawan untuk memilih pola, mengisi bagian yang kosong, dan mengidentifikasi bentuk, serta masih banyak lagi. Hasil dari tugas ini akan membantu para peneliti untuk mengukur apakah terdapat korelasi antara aktifitas fisik dan kognisi fluid vs kognisi crystallized.

Kemampuan yang disebut “fluid” atau cair, seperti kecepatan dan memori, menyelesaikan masalah, dan kemampuan bernalar cenderung untuk menurun ketika seseorang bertamabah tua. Namun demikian para relawan studi yang melakukan kegiatan fisik sedang hingga berat dapat melakukan tugas fluid dengan baik. Hal ini mungkin dikarenakan olahraga menghilangkan efek yang biasanya terjadi pada otak ketika bertambah tua.

Akan tetapi, sebagian besar relawan studi tidak menghabiskan banyak waktu pada aktivitas fisik. Faktanya, data studi menunjukkan bahwa, rata-rata, sebagian besar relawan menghabiskan kurang dari 2,7% waktu mereka untuk melakukan aktivitas sedang hingga berat. Lansia yang duduk lebih banyak setiap harinya memiliki kinerja yang lebih baik pada aktivitas berbasis pengetahuan, seperti tes kosa kata atau pemahaman bacaan. Kemampuan yang “crystallized” atau mengkristal ini cenderung menguat seiring bertambahnya usia oleh karena orang dewasa memperoleh lebih banyak pengetahuan dan pengalaman.

Yang menarik adalah para peneliti melihat tidak adanya hubungan antara aktivitas fisik ringan, seperti mencuci pakaian, memasak, atau pekerjaan rumah tangga lainnya, dan kognisi. Meskipun mengganti kegiatan duduk dengan aktivitas fisik ringan telah direkomendasikan agar memiliki kesehatan metabolik yang lebih baik, namun tidak terdapat bukti hubungan pada tingkat kognitif.

Meski hasilnya adalah murni korelasi dan tidak memiliki penyebab yang jelas, para peneliti berspekulasi bahwa ketika seseorang tidak banyak bergerak, mereka cenderung berada dalam aktivitas yang mendidik dan merangsang, seperti membaca, bermain game atau teka-teki, atau menonton sebuah drama, yang kemungkin berguna untuk meningkatkan kognisi crystallized.

Burzynska mengatakan terdapat sebuah pandangan besar dalam kesehatan dan kebugaran, bahwa duduk selalu buruk bagi tubuh, dan meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa otak mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk duduk mungkin menua lebih cepat, namun nampaknya pada tingkat kognitif, waktu yang digunakan unuk duduk mungkin juga memiliki arti.

Cara Menghabiskan Waktu Duduk Kita

Akan tetapi, diperlukan studi ke depannya untuk menentukan bagaimana para relawan menghabiskan waktu mereka untuk duduk sebelum kesimpulan pasti dapat dibuat tentang aktivitas berkerja dengan duduk dan kesehatan kognitif.

Burzynska mengatakan bahwa penelitian tersebut memperkuat rekomendasi bahwa olahraga yang teratur baik untuk kesehatan secara umum, akan tetapi bagi para lansia yang mungkin tidak dapat aktif secara fisik, melakukan aktivitas yang lebih membutuhkan kognitif juga dapat menjadi suatu pilihan.

Dirinya tidak akan memberi saran untuk untuk lebih banyak duduk, akan tetapi bila kita mencoba untuk seaktif mungkin secara fisik dan memastikan terdapat stimulasi yang cukup ketika sedang duduk, dan tidak hanya berdiam diri ketika duduk, maka kombinasi tersebut mungkin merupakan cara terbaik untuk menjaga otak kita. Dirinya berharap studi ini memberikan suatu pesan positif bagi mereka yang tidak memiliki waktu yang cukup dan terbatas untuk berolahraga selama pandemi.

Di dalam pencarian untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang, keseimbangan mungkin merupakan jawabannya. Burzynska menambahkan bahwa ketika sedang berolahraga, cobalah untuk menikmatinya. Namun ada pula waktunya untuk duduk dan menikmati kegiatan lainnya, seperti membaca buku.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Colorado State University. Naskah pertama kali ditulis oleh Hannah Halusker. Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti