Apakah Kepribadian Berubah Seiring Usia?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Berulang kali, penelitian longitudinal menemukan hasil yang serupa. Kepribadian cenderung menjadi "lebih baik" dari waktu ke waktu. Para psikolog menyebutnya sebagai "prinsip kedewasaan".

Manusia mengalami berbagai fase dalam rentang hidupnya. Pada rentang waktu diantara masa remaja dan dewasa, kita cenderung mengalami berbagai perubahan, seperti mencari pekerjaan, perhubungan dengan orang lain, yang merupakan beberapa contohnya. Namun bagaimana dengan diri kita yang sebenarnya? Apakah seiring bertambahnya usia, kepribadian kita juga berubah?

Kepribadian merupakan suatu pola pikiran, perasaan, serta perilaku unik yang ada pada seseorang. Banyak orang yang menganggap bahwa kepribadian diri mereka tetap. Namun menurut psikolog, hal ini kurang benar. Brent Roberts, seorang psikolog di University of Illinois at Urbana-Champaign mengatakan bahwa kepribadian adalah suatu fenomena perkembangan. Artinya kepribadian bukanlah hanya suatau hal statis yang terus bersama kita tanpa bisa mengubahnya.

Namun demikian, hal ini tidak berarti bahwa kita adalah orang yang berbeda setiap paginya. Roberts mengatakan bahwa bila dilihat dalam jangka pendek, perubahan kepribadian memang hampir tidak terlihat. Namun bila dilakukan studi longitudinal, di mana para peneliti mensurvei kepribadian peserta secara teratur selama bertahun-tahun, menunjukkan bahwa kepribadian kita sebenarnya stabil dalam skala waktu yang singkat.

Dalam suatu studi, yang diterbitkan pada tahun 2000 di jurnal Psychological Bulletin, para peneliti menganalisis hasil dari 152 studi longitudinal tentang kepribadian, yang diikuti oleh para peserta dengan beragam umur, mulai dari kanak-kanak hingga mereka yang berada pada usia 70-an. Masing-masing dari studi ini mengukur tren dalam lima besar ciri kepribadian.

Kelompok sifat yang meliputi ekstroversi, keramahan, kesadaran, keterbukaan terhadap pengalaman, dan neurotisme, merupakan alat andalan dalam suatu penelitian kepribadian. Para peneliti menemukan bahwa level individual dari setiap ciri kepribadian, relatif terhadap peserta lain, cenderung tetap konsisten dalam setiap dekade kehidupan.

Brent Donnellan, profesor dan ketua psikologi di Michigan State University mengatakan bahwa pola konsistensi tersebut dimulai sekitar usia 3 tahun, dan terdapat kemungkin dapat terjadi lebih awal, kata. Ketika psikolog mempelajari anak-anak, mereka tidak mengukur ciri-ciri kepribadian dengan cara yang sama seperti pada orang dewasa. Sebaliknya, mereka melihat temperamen, yakni intensitas reaksi seseorang terhadap dunia.

Dapat dikatakan bahwa manusia datang ke dunia dengan temperamen yang unik, dan penelitian menunjukkan bahwa temperamen kita sebagai anak-anak, sebagai contoh, apakah santai atau mudah marah, ingin atau enggan untuk mendekati orang asing, berkesesuai dengan ciri kepribadian orang dewasa. Donnellan mengatakan bahwa seorang anak berusia 3 tahun yang pemalu bertindak sangat berbeda dari seorang pemalu di usia 20-an. Namun demikian terdapat inti yang mendasarinya.

Temperamen terdahulu kita nampaknya memengaruhi pengalaman hidup di kemudian hari. Sebagai contoh, dalam suatu studi pada tahun 1995 yang diterbitkan dalam jurnal Child Development. Studi tersebut meneliti anak-anak dari usia 3 hingga 18 tahun. Para peneliti menemukan, sebagai contoh, bahwa anak-anak yang pemalu dan lebih pendiam cenderung tumbuh menjadi remaja yang tidak bahagia.

Tapi seiring bertambahnya dekade, kepribadian kita masih akan mengalami perubahan, namun secara perlahan. Hal ini menurut Roberts merupakan sesuatu yang “halus”. Kita tidak dapat menyadarinya dalam skala waktu lima hingga 10 tahun, tetapi dalam jangka panjang, perubahan tersebut mulailah terlihat.

Pada tahun 1960, psikolog mensurvei lebih dari 440.000 siswa sekolah menengah, sekitar 5% dari semua siswa di negara tersebut pada saat itu. Para siswa menjawab pertanyaan tentang segala hal mulai dari bagaimana mereka bereaksi terhadap suatu situasi emosional hingga seberapa efisien mereka menyelesaikan suatu pekerjaan.

Lima puluh tahun kemudian, para peneliti melacak 1.952 mantan siswa ini dan memberi mereka survei yang sama. Hasilnya, yang diterbitkan pada 2018 di Journal of Personality and Social Psychology, menemukan bahwa di usia 60-an, partisipan mendapat skor yang jauh lebih tinggi daripada pada saat mereka remaja dalam pertanyaan-pertanyaan yang mengukur ketenangan, kepercayaan diri, kepemimpinan, dan kepekaan sosial.

Berulang kali, penelitian longitudinal menemukan hasil yang serupa. Kepribadian cenderung menjadi “lebih baik” dari waktu ke waktu. Para psikolog menyebutnya sebagai “prinsip kedewasaan”. Orang menjadi lebih ekstravert, stabil secara emosional, menyenangkan dan teliti seiring bertambahnya usia. Dalam jangka panjang, perubahan ini sering kali terlihat.

Beberapa individu mungkin berubah lebih sedikit dari yang lain, namun secara umum, prinsip kedewasaan berlaku untuk semua orang. Hal ini membuat perubahan kepribadian lebih sulit untuk dikenali dalam diri kita sendiri, yakni bagaimana kepribadian kita bila dibandingkan dengan rekan-rekan kita tidak berubah sebanyak perubahan kepribadian kita secara keseluruhan, oleh karena orang lain juga berubah.

Donnellan mengatakan bahwa terdapat bukti bagus, bahwa rata-rata pengendalian diri orang yang berusia 30 tahun lebih tinggi daripada orang berusia 20 tahun. Dia menambahkan bahwa pada saat yang sama, orang-orang yang relatif dapat mengontrol diri pada usia 18 cenderung memiliki kontrol diri yang relatif pada usia 30.

Jadi mengapa kita banyak berubah? Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa perubahan ini bukanlah suatu peristiwa kehidupan yang dramatis, seperti pernikahan, kelahiran anak, atau kehilangan orang yang dicintai. Beberapa psikolog mengatakan bahwa peristiwa ini memperkuat kepribadian kita saat kita membawa karakteristik diri kita pada situasi tertentu.

Malah, mengubah ekspektasi yang ditempatkan pada kita, seperti saat kita menyesuaikan diri dengan universitas, tenaga kerja, memulai sebuah keluarga, secara perlahan akan mengubah kita, hampir seperti sepasang sepatu yang dipakai seiring kita tumbuh. Roberts mengatakan bahwa seiring waktu, kita diminta dalam banyak konteks di seluruh kehidupan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang sedikit berbeda. Tidak ada panduan tentang cara bertindak, namun terdapat norma implisit yang sangat jelas tentang bagaimana kita harus berperilaku dalam situasi ini. Sehingga kita beradaptasi.

Bergantung pada bagaimana kita melihatnya, hal ini adalah semacam wahyu yang meresahkan atau penuh harapan. Seiring waktu, kepribadian berubah, secara progresif dan konsisten, layaknya lempeng tektonik yang bergeser dan bukanlah gempa bumi. Namun menurut Roberts, hal ini membuka pertanyaan: Selama perjalanan hidup kita, seberapa jauh kita menjadi orang yang berbeda?. (Disadur dari situs livescience)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti