Apakah Mungkin untuk Menjadi ‘Anti Kuman’?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Permukaan dapat didesinfeksi dengan tisu atau semprotan rumah tangga sehari-hari, dan hal tersebut pasti menghilangkan mikroba yang ditemukan di permukaan itu. Akan tetapi permukaan tersebut cenderung terus terkontaminasi ulang.

Setiap orang mungkin telah melakukannya hal ini ratusan kali, terutama akhir-akhir ini: menggosok tangan dengan sabun dan pembersih tangan, meja dapur yang digosok dengan tisu antibakteri, menepuk penutup dudukan toilet di toilet umum dan menggunakan kaki, siku atau bahu untuk mencoba membuka pintu kamar mandi. Kesemua tersebut dilakukan atas dasar menjauhkan dan menghilangkan kuman kotor, menakutkan, dan tak terlihat. Namun apakah tindakan ini semua membuahkan hasil? Bagaimana jika semua pembersihan yang cermat ini merupakan hal yang sia-sia? Apakah sebenarnya mungkin untuk mengusir kuman?

Ilmuwan berpendapat tidak juga. Emily Sickbert-Bennett, direktur program Pencegahan Infeksi Pusat Medis Universitas Carolina Utara (UNC) dan profesor epidemiologi dan penyakit menular di Fakultas Kedokteran UNC mengatakan bahwa terdapat lebih banyak bakteri di dalam dan di tubuh kita daripada sel. Dirinya menambahkan bahwa banyak bakteri yang secara alami ada di mana-mana, di air dan tanah dan pada hewan lain.

Namun, tidak semua mikroba ini buruk. Faktanya, kebanyakan dari bakteri tersebut tidak berbahaya kecuali jika mereka berakhir di tempat yang salah, seperti bakteri staphylococcus yang hidup tidak berbahaya di hidung seseorang tetapi dapat mematikan di aliran darah.

Mikroba lain selalu bersifat patogen, yang berarti selalu berisiko penyakit. Virus yang menyebabkan COVID-19 merupakan salah satunya. Mikroba yang lebih bermasalah ini kemungkinan besar adalah hal yang dikhawatirkan kebanyakan orang ketika mereka mencoba membasmi “kuman”. Lalu apakah ada cara untuk menjaga lingkungan kita bersih dari makhluk mikroskopis jahat ini?

Menurut ilmuwan pertanyaan yang lebih baik diajukan bukanlah bagaimana menjaga permukaan bebas kuman, akan tetapi bagaimana menghentikan kuman yang ditemukan di lingkungan kita agar tidak menyebabkan infeksi.

Permukaan dapat didesinfeksi dengan tisu atau semprotan rumah tangga sehari-hari, dan hal tersebut pasti menghilangkan mikroba yang ditemukan di permukaan itu. Akan tetapi permukaan tersebut cenderung terus terkontaminasi ulang. Setiap kali dua permukaan berinteraksi, seperti kenop pintu dan jari, mikroba bertukar. Selain itu, mikroba di udara dapat dengan cepat bermukim kembali di permukaan yang baru saja didesinfeksi.

Hal terpenting, menurut ilmuwan, adalah benar-benar memikirkan tentang ‘rantai infeksi’, yakni langkah kecil yang harus terjadi agar mikroba seperti virus dapat menginfeksi seseorang. Di mana titik-titik di sepanjang rantai itu dan di mana kita dapat memotongnya?

Dengan kata lain, meskipun beberapa mikroba berbahaya mungkin masuk ke rumah atau ke kulit kita, intinya adalah memastikan mereka tidak sampai ke tempat yang dapat menyebabkan infeksi. COVID-19, misalnya, perlu dipindahkan dalam keadaan utuh ke sistem pernapasan atau mata seseorang. Oleh karena dengan mencuci tangan sebelum menyentuh hidung, mulut, atau mata, maka rantai penularan COVID-19 terputus.

Jadi pikirkan untuk menjauhkan E. Coli dari usus dengan memasak makanan secara tepat, dan mencoba untuk menjauhkan adenovirus, penyebab umum mata merah, keluar dari mata dengan mencuci tangan dan tidak menyentuh mata. Namun sebaliknya jangan terlalu menekankan tentang dunia mikroba tempat manusia hidup. Mayoritas kuman tersebut memiliki tujuan dan tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia. Faktanya, banyak mikroba yang benar-benar membantu hewan berkembang dan bertahan hidup, menurut penelitian yang meneliti tikus bebas kuman.

Bahkan di dalam tubuh kita sendiri terdapat banyak bakteri baik yang membantu untuk mengalahkan bakteri yang lebih patogen dan membuat kita tetap sehat.

Sumber:
Situs livescience.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti