Apakah Tuhan Merupakan Realitas Kebenaran Tertinggi yang Dapat Dicapai Ilmu Pengetahuan? (Bagian Kedua)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pendekatan yang secara sistematik dapat dipakai guna mengargumentasikan bahwa ilmu pengetahuan diperlukan dan dapat digunakan untuk memahami kebenaran Tuhan perlu dirancang secara sungguh-sungguh.

Prinsip kelima, Shadra menegaskan hubungan antara sifat-sifat Tuhan dengan ZatNya. Sifat-sifat Tuhan identik dengan Zat Tuhan itu sendiri. Tuhan terhindar dari penihilan dan antropomorfisme[1].

Prinsip keenam, Shadra menulis tentang ketunggalan dan kesempurnaan ilmu Tuhan. Ia menerangkan bahwa pengetahuanNya tentang segala sesuatu merupakan realitas yang tunggal. Tapi pada saat pengetahuanNya tersebut bersifat tunggal, ia juga merupakan pengetahuan tentang tiap hal. Ia tidak meninggalkan apa pun baik yang kecil maupun yang besar, ia “mencatat” semuanya. Jika tidak terdapat sesuatu yang tidak ada ilmunya tentang sesuatu itu, maka hal itu bukanlah Realitas pengetahuan, namun pengetahuan di satu sisi, dan kebodohan di sisi lain.

PengetahuanNya sesungguhnya kembali kepada WujudNya. Bagi orang yang kesulitan memahami bahwa pengetahuanNya tunggal namun sekaligus merupakan pengetahuan tentang segala hal. Shadra mengkritik, karena orang tersebut membayangkan bahwa ketunggalan itu bersifat numerik, kuantitatif dan bahwa pengetahuanNya adalah satu dalam jumlah. PengetahuanNya tunggal secara hakiki, demikian pula seluruh sifat-sifatnya yang lain[2].

Prinsip ketujuh, Shadra mengkritik pandangan-pandangan yang keliru perihal ilmu Tuhan mengenai hal-hal partikular. Pertama ia mengkritik kaum Stoa dan pengikutnya seperti Syaikh al-Maqtul al Suhrawardi, ‘Allamah al-Thuusiy dan lain-lain yang mengatakan bahwa pengetahuanNya atas hal-hal yang kontingen sama dengan esensi hal-hal kontingen yang ada secara eksternal.

Pandangan Mu’tazilah juga salah, karena hal-hal yang tidak ada. Yang mereka pandang ada secara aktual dalam pengetahuan Tuhan, tidak ada sama sekali. Dalam pandangan Shadra, Asy’ariyah juga keliru dalam membayangkan bahwa pengetahuanNya kekal, namun hanya menjadi berhubungan dengan hal-hal kontingen pada saat hal kontingen tersebut beawal di dalam waktu. Kritik Shadra juga tertuju pada Plato yang beranggapan bahwa pengetahuanNya mengandung esensi dan bentuk yang terpisah dari Nya.

Pandangan-pandangan lain juga mendapatkan sorotan dari Shadra, seperti pandangan yang mengatakan bahwa bentuk-bentuk material adalah bentuk-bentuk pengetahuan yang hadir padaNya. Sebab bagaimana mungkin bentuk intelligible, sejauh ia secara aktual adalah intelligible tetap merupakan bentuk material dan yang terkena pembagian ke dalam kuantitas-kuantitas dan lokasi dalam ruang. Karena wujud intelektif adalah cara wujud yang terpisah dan berbeda dari wujud material yang spasial. Oleh karena itu tidak mungkin perbuatan intelek bersifat jasmaniah, atau bahwa hal yang jasmaniah bisa menjadi intelligible[3].

Prinsip kedelapan, “pembicaraan” Tuhan adalah ekspresi penetapanNya atas kata-kata yang sempurna dan diturunkannya melalui, baik ayat yang muhkamat dan mutasyabihat, terbungkus dalam kata dan pernyataan. Pembicaraan Tuhan berbeda dengan pengertian “kitab” karena kitab termasuk dalam dunia penciptaan. Karena pembicaraanNya termasuk dalam alam perintah dan tempatNya ada di dalam hati-hati dan dada-dada kemanusiaan, maka hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang disucikan dan terpelihara dari penecemaran dunia yang fana[4].

Prinsip kesembilan, Shadra menggambarkan tentang penyatuan Tuhan dan pembicaraanNya dalam seluruh wujud-wujud dengan menganalogikan sebagai berikut: Ketika kita melihat manusia berbicara, bentuk huruf-huruf dan bentuk-bentuk pembicaraan muncul dari nafas dalam dadanya, tenggorokannya, dan tempat-tempat lain yang menghasilkan bunyi-bunyi dan huruf-huruf, dan nafasnyalah yang menyebabkan pembicaraan ada. Maka ia “menulis” dengan kekuatannya, pada “lembaran” nafasnya, dan akhirnya pada tempat yang menghasilkan berbagai suara. Ia adalah individu yang sama yang melaluinya pembicaraan mengada. Analogikan hal tersebut ke dalam manifestasi diri kreatif abadi atau “Nafas ar-Rahman” yang saling memberi nasehat dan bukan yang saling bertengkar[5].

Prinsip kesepuluh, mengenai kesatuan yang mengetahui dan yang diketahui, Shadra menjelaskan bahwa segala sesuatu yang intelligible dalam wujudnya juga bisa secara aktif menginteleksi. Sebenarnya, setiap bentuk dalam persepsi, apakah ia intelligible atau yang terindera, bersatu dalam wujudnya dengan apa yang merasakannya. Kita dapat mengatakan bahwa bentuk dalam penginderaan, yang wujudnya benar-benar sama dengan yang diindera, wujudnya tidak mungkin terpisah dari wujud substansi yang menginderanya, sehingga substansi yang menginderanya mempunyai wujud dan substansi yang berbeda. Bukan hal yang mustahil, karena keluasannya yang luar biasa, sebuah hakikat tunggal bisa menjadi sempurna dan meningkat demikian banyak dalam kekuatan hakikatnya dan intensitas tahap wujudnya. Sehingga dapat menjadi dasar bagi sesuatu yang sebelumnya bukan dasar dan menjadi sumber hal-hal yang belum dikembangkan sebelumnya[6].

Prinsip kesebelas, tentang nama-namaNya yang Maha Agung, Shadra mengatakan bahwa nama-nama Tuhan adalah suatu alam yang teramat luas rentangannya, mengandung semua realitas hakiki dalam bentuk mereka yang primordial dan paling terinci. Merupakan kunci kegaiban dan dasar pengetahuanNya atas semua yang ada[7].

Prinsip keduabelas, adalah pandangan Shadra mengenai cara kegiatan Tuhan sehubungan dengan alam. Yang secara prinsip menunjukkan dimensi kreatif Tuhan dalam penciptaan alam[8] yang secara lebih detil justru dipaparkan dalam prinsip ketigabelas dan keenambelas.

Prinsip ketigabelas, mengenai bermulanya alam Shadra menulis bahwa seluruh alam bermula dalam waktu, karena semua yang di dalamnya dimulai dengan wujudnya dengan ketiadaan dalam waktu. Ada kata kunci yang menarik dalam prinsip ketigabelas ini yakni: “gerak”. Yang dimaksudkannya secara umum, setiap tubuh dan setiap hal jasadi yang wujudnya dengan suatu cara terhubungkan dengan materi, diperbarui secara kontinyu dalam kedirian dan tidak tetap baik dalam wujudnya maupun individualitasnya. Adalah melalui gerak atau transubstansiasi universal wujud, Yang Kekal dihubungkan dengan yang bermula dalam waktu. Arti “gerak” dalam arti yang nyata dan primer adalah pembaharuan terus menerus dari keadaan suatu benda. Munculnya gerak, sebagai sesuatu proses berangsur-angsur dari potensialitas ke aktualitas hanyalah ide abstrak yang secara relatif diturunkan dari pikiran. Karena gerak dalam pengertiannya yang primer merupakan pembaharuan terus-menerus.

Bukti bahwa alam kejasmanian ini merupakan substansi yang wujudnya secar terus-menerus mengalir, diperbarui terus menerus, dijelaskan lebih rinci oleh Shadra dalam buku yang lain, yakni al-Asfar al-Arba’ah terutama dalam kesepakatan para filsuf mengenai kesementaraan dan hilangnya dunia dan pembaharuan terus-menerus segala sesuatu yang tersusun atas materi dan bentuk[9].

Prinsip keempatbelas, mengenai hubungan antara jiwa dengan tubuh. Shadra memulainya dengan mengatakan bahwa perantara yang secara langsung menyebabkan adanya gerak atau perubahan adalah alam itu sendiri. Alam merupakan prinsip esensial setiap gerak, apakah itu dikerjakan oleh jiwa, seperti gerakan yang disengaja atau ketika dibatasi oleh sebuah kekuatan luar seperti batu yang dilemparkan ke atas. Jiwa memiliki dua alam sehubungan dengannya, yang satu muncul dari hakikatnya sendiri, dan yang kedua adalah milik unsur-unsur tubuh. Yang pertama digunakannya dengan ketaatan bebasnya, dan yang kedua melawan suatu resistensi tertentu[10].

Prinsip kelimabelas, di sini Shadra mengubah kosmologi Aristotelian yang diterima pada abad pertengahan yang menurunkan tubuh-tubuh langit dan biasanya dianggap lebih tinggi dari manusia. Menurut Shadra tentu saja status ontologis dan kedekatan alam semesta tidak lebih dekat dengan Tuhan dibandingkan manusia[11].

Prinsip keenambelas, mengenai kemungkinan kosmos fisik, Shadra mengatakan bahwa setiap “bola”[12] mempunyai penggerak jasadiah yang bisa sirna dan sebuah penggerak imaterial yang terpisah yang merupakan tujuan geraknya. Perantara yang langsung menyebabkan gerak langit adalah sesuatu yang secara hakiki mengalir dan diperbaharui dalam kediriannya. Sehingga terbukti bahwa alam ini merupakan dunia yang bakal punah, peralihan dan menghadapi kematian sedangkan alam lain adalah dunia kestabilan, dan bahwa dunia ini dan segala yang ada di dalamnya tergantung dari dunia yang lainnya itu[13]

Drs. Achmad Charris Zubair, MA.

Drs. Achmad Charris Zubair, MA.

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta. Ketua Departemen Budaya ICMI Orwil DIY. Dosen Filsafat UGM

Terbaru

Ikuti