Apakah Tuhan Merupakan Realitas Kebenaran Tertinggi yang Dapat Dicapai Ilmu Pengetahuan? (Bagian Pertama)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kalau ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk membuka tabir realitas dan menemukan kebenaran, tentunya Tuhan sebagai realitas pun harus dapat di”temu”kan dengan ilmu pengetahuan.

Sebelumnya perlu digambarkan mengenai struktur keilmuan se­cara sederhana, sebagai pengantar pemahaman kita tentang kedudukan ilmu-ilmu[1].

Persoalan yang menyangkut eksistensi Tuhan menjadi paling krusial dalam bahasan Filsafat Ilmu. Sebab di satu sisi eksistensi dan Tuhan dianggap sebagai kebenaran mutlak dan tertinggi, namun pemahaman tentang kebenarannya di sisi lain didasarkan atas keyakinan dogmatik yang bersifat cenderung tertutup. Kalau ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk membuka tabir realitas dan menemukan kebenaran, tentunya Tuhan sebagai realitas pun harus dapat di”temu”kan dengan ilmu pengetahuan. Walaupun tentu saja harus ditentukan terlebih dahulu alat-alat kemanusiaan yang digunakan, cara pendekatan serta metode yang tepat untuk itu.

Sangat menarik belajar dari pengalaman Karen Amstrong pada masa kecilnya[2] yang diharuskan menghafal jawaban katekismus terhadap pertanyaan: “Apakah Tuhan itu?” dengan mengatakan bahwa “Tuhan adalah Ruh Mahatinggi, Dia ada dengan sendirinya dan Dia sempurna tanpa batas”. Tidak mengherankan jika konsep itu kurang bermakna bagi Karen. Bahkan Karen mengakui hingga saat dewasanya bahwa konsep tersebut malah membuatnya “ngeri”, karena merupakan definisi yang amat kering, angkuh dan arogan.

Pengertian dan definisi tentang pemahaman ilmiah harus direvisi kembali. Pemisahan yang bersifat dikotomis antara ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang konkret-empirik dan kemudian disebut ilmiah karena rasional dengan ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat human bahkan transenden, yang sering disebut tidak ilmiah, harus digugat.

Memang harus diakui bahwa pengetahuan tentang Tuhan bagi manusia sering bersifat dogmatik, dan itu tidak dapat terlepas dari realitas kemanusiaan yang bersifat tergantung atas nasib yang tak tertolak dan merupakan keniscayaan. Dalam kehidupan manusia nasib dan takdir menjadi bagian yang paling misterius. Seberapa jauh ikhtiar manusia dapat mengubah nasib manusia, seberapa jauh pula usaha hanya menghasilkan kesia-siaan.

Wacana mengenai nasib dan takdir manusia pada gilirannya akan menghasilkan pandangan-pandang­an yang berkutubkan deterministik atau sebaliknya indeterministik. Seringkali pula, karena dianggap paling ideal adalah sistesis dari keduanya. Pandang­an yang deterministik akan menghasilkan manusia yang bersikap fatalis, di mana seluruh hidup manu­sia telah terbelenggu oleh keniscayaan. Sementara pandangan indeterministik akan menghasilkan manusia sepenuhnya bebas, karena telah terlahir merdeka (condemned to be free).

Pertanyaan yang berkaitan dengan otonomi akan mengarah kepada keunikan, kedirian, eksistensi ke-satu-an manusia. Sedangkan pertanyaan yang berke­naan dengan dependensi manusia akan cenderung kepada korelasi, kebersamaan, massifikasi manusia, Bagaimana pun kedua jenis pertanyaan tersebut me­rupakan pertanyaan-pertanyaan ontologis yang pa­ling fundamental.

Anton Bakker dalam karyanya yang bertajuk On­tologi: Metafisika Umum (1992)menulis, bahwa tugas metafisika umum adalah mencari jawaban atas pertanyaan: “Pengada (ens) itu berotonomi atau berkorelasi?” Menurut hemat saya masalah korelasi dalam hidup manusia menjadi menarik, terutama kalau mengingat bahwa bagaimana pun manusia dibatasi oleh kesementaraan hidupnya di dunia. Manusia, baik secara individual maupun secara komunitas, pasti berawal dan berakhir.

Waktu yang dimiliki atau lebih tepat dihayati manusia menjadi sangat relatif, artinya menjadi sesuatu yang harus dihubungkan dengan kondisi-kondisi terutama matra ruang. Se­mentara di lain pihak, manusia “harus” pula menghayati waktu illahiyah yang bersifat abadi. Waktu illahiyah secara total akan memuat segala sesuatu yang berada dalam dimensi kemanusiaan, yang disebut sebagai waktu lampau, kini dan yang akan datang.

Kesadaran ini akan dapat dikembangkan sebagai pendekatan keilmuan bagi manusia memahami eksistensi Tuhan sebagai realitas kebenaran tertinggi. Kita memahami waktu dengan kemarin, kini dan hari esok, karena kita berada di ruang yang bernama bumi dengan peredarannya, kita bisa membayangkan bagaimana seandainya “ruang” bumi yang kita sadari tiba-tiba musnah. Pertanyaannya di mana waktu pada situasi semacam itu, waktu menjadi sebuah rentang tak terbatas dan tak terukur.

Kekinian Tuhan adalah keabadian. Manusia berelasi dengan Tuhan, bermakna; manusia secara re­lasional-kekinian dependen terhadap keabadian Tu­han. Di sini waktu Tuhan mengatasi waktu dalam dimensi manusia.

Masalah otonomi manusia muncul pada dasarnya tidak terlepas dari realitas kesemestaan manusia se­bagai makhluk jasmaniah dan ruhaniah sekaligus. Salah satu dari keduanya harus diberi prioritas on­tologis. Sebab otonomi manusia pada dasarnya tidak terlepas dari tugas dan tanggung jawab manusia untuk menjadi makhluk yang mengatasi dimensi jasmaniahnya. Realitas kesemestaan menunjukkan bahwa jasmaniah dengan ruang sebagai konsekuensi logisnya, seiring waktu akan semakin rapuh. Demikian pula dengan pengada-pengada jasmaniah yang lain. Di pihak lain dimensi ruhaniah sudah se­harusnya semakin kuat.

Menurut hemat saya, struktur realitas konkret amat mendukung argumentasi pikiran tersebut di atas. Pusat realitas adalah manusia, sementara realitas paling jelas dan eksplisit diketemukan dalam refleksi atas eksistensi pribadinya. Dunia infra human yang amat dependen menunjukkan adanya struktur on­tologis yang sederhana, material dan cenderung di­dominasi dimensi jasmaniah. Sementara dunia manusia yang otonom menunjukkan adanya struk­tur ontologis yang lebih rumit, spiritual dan cenderung ke arah dimensi ruhaniah. Di atas manu­sia dan dunia realitas menjulang satu puncak ke­sempurnaan dan tentu saja paling otonom, yakni Allah. Otonomi manusia merupakan usaha untuk meraih derajat kesempurnaan itu sebagai titik ideal, yang menurut Teilhard de Chardin sebagaimana bab sebelumnya dalam buku ini, disebut “titik omega”.

Drs. Achmad Charris Zubair, MA.

Drs. Achmad Charris Zubair, MA.

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta. Ketua Departemen Budaya ICMI Orwil DIY. Dosen Filsafat UGM

Terbaru

Ikuti