Ditulis oleh 8:02 am COVID-19

Arif Membaca Musibah Pandemi Covid-19

Musibah sebagai bentuk ujian dari Tuhan untuk menaikkan kualitas iman dan rasa cinta Tuhan pada manusia.

Oleh: M. Wiharto, S.Sy., S.Pd.I., M.A

Musibah, berbeda dengan azab. Musibah dalam ajaran Islam dipahami sebagai bentuk pembelajaran bagi umat manusia untuk mengasah kesabaran dan kekuatan mental (Qs.2:155), bentuk rasa sayang Tuhan kepada hamba-Nya, agar tidak melupakan hakikat kehambaan-nya dan tidak menyombongkan diri (Qs.57:22-23). Sedangkan azab, sebagai bentuk hukuman terhadap  orang-orang yang kufur nikmat, (Qs.14:7). Karakteristik  azab  bersifat hukuman langsung tunai terhadap umat yang menentang dan membangkang akan perintah Tuhan, seperti azab  Allah kepada kaum nabi Nuh AS (Qs.10:73-74), kaum nabi Luth AS, kaum nabi Ibrahim AS, kaum Ad, kaum tsamud dan tentara Fir’aun (Qs.26 :131-135, Qs. 89:6-14, Qs.11:67-68).

Orang beriman, mensikapi musibah sebagai bentuk ujian dari Tuhan untuk menaikkan kualitas iman dan rasa cinta Tuhan pada manusia.  Sedang orang kufur, musibah dianggap sebagai azab. Nabi Muhammad saw pernah berdoa’a agar umatnya tidak mendapatkan  azab dari Allah SWT dan di kabulkan Tuhan (HR.Muttafaq alaihi).

Jika merujuk pada ayat dan hadits diatas, tentu dengan arif kita katakan bahwa Pandemi Covid-19 sebagai ujian dari Tuhan karena hendak menaikkan kualitas hidup masyarakat  dunia (global society) dan bangsa Indonesia pada khususnya. Bisa juga sebagai bentuk menyadaran kolektif dari Tuhan, atas segala perilaku, ucapan dan tindakan yang manusia sangat melebihi otoritas Tuhan, seperti bangga dengan hasil capaian manusia dalam ekonomi, kekayaan, bangga dengan status sosial dan sebagainya bersifat duniawi yang sering manusia lalai bahwa semua yang diperoleh sesungguhnya sebagai karunia Tuhan yang maha pemberi rizki.

Harus disadari bahwa realitas kehidupan yang tengah dan akan di alami kita saat pandemi Covid-19 ini, merupakan pergulatan menghadapi kesulitan hidup yang tidak mudah, tentu sebagai manusia yang beriman kepada kuasa Tuhan memahami bahwa kesulitan hidup saat ini merupakan sunatullah bersifat causalitas ditetapkan Tuhan secara permanen, suka atau tidak, rela atau terpaksa, pasti manusia akan menghadapinya dengan segala kesulitan yang berbeda tiap manusia (Qs.2:155), kendati masih ada harapan bahwa setiap kesulitan akan diikuti kemudahan (Qs.94:5-6)

Setiap manusia pasti membenci kesulitan, merindukan kemudahan dan keamanan. Karena itu fitrah manusia. Apalagi kesulitan seringkali mewariskan kegetiran, penderitaan serta rintihan dan sangat menyiksa. Namun, jika manusia menggunakan akal dan kesadaran diri, tentu di balik kesulitan yang kerap kita pandang dari sisi negatifnya saja, tersimpan kasih sayang Tuhan kepada kita hamba-Nya. Jika mau jujur, sebenarnya kesulitan itu membawa hikmah dan manfaat yang besar.

Kesulitan akan menghasilkan pengetahuan, karena ia hakikatnya adalah pengalaman yang mengajarkan kita banyak hal. Kesulitan akan menjadikan kita semakin kuat dan lebih kreatif menghadapi kehidupan ini. kesulitan adalah sarana Tuhan untuk menyapa hamba_Nya dan memberi peluang mengampuni dan menggugurkan dosa manusia. Bersikap arif dan sabar, dalam masa Pandemi sekarang ini sangat tepat.  Kita tentu tidak ingin merugi dua kali; rugi karena pandemi dan rugi karena gagal menangkap pesan moral dari pandemic Covid-19 ini.

Mengubah musibah menjadi nikmat

Pertama, bersikap husnu-dzan kepada Tuhan. Musibah tidak selalu negatif dan bukan sesuatu yang  selamanya harus kita benci. Ada sisi positif, dimana kita dapat mengambil sisi positif dari musibah tersebut. Orang yang telah menyatakan beriman, pasti akan di uji oleh Tuhan. (Qs.29:2-3).  Terampil memanfaatkan sisi positif pandemi, akan mengubah kesulitan menjadi prestasi. Sebaliknya berkeluh-kesah, menyalahkan Tuhan semakin memperburuk keadaan (Qs.7:156).

Sungguh tepat pesan al Ghazali, “jika seseorang  meminum segelas air jeruk yang masam, jangan dibuang tapi tambahkan gula secukupnya”. Sangat selaras dengan firman Tuhan “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” (Qs.2:216). Demikian pula pandemi Covid-19 ini, ambillah sisi positifnya. Karena boleh jadi Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuk kita.

Kedua, pelihara kebahagiaan saat terdampak musibah. Di antara anugerah terindah yang kita miliki adalah mempunyai hati yang tenang, tenteram dan bahagia. Karena dalam kebahagiaan, akal menjadi terang dan seseorang akan terdorong melakukan tindakan yang dinamis dan positif, sehingga ia akan menjadi manusia yang produktif. Kebahagiaan adalah seni yang harus dipelajari. Agar kita mendapatkan berkah dalam hidup ini. Cara mensiasatinya, prinsip dasarnya adalah dengan menahan kepedihan dan mampu beradaptasi dalam situasi dan kondisi apapun. Tidak berlarut-larut, karena itu, kita tidak boleh diatur oleh kondisi yang sulit, kita juga tidak boleh terusik dengan hal-hal yang sepele. Atas dasar kejernihan hati dan kemampuannya menghadapi kesulitan maka kita akan tercerahkan. Ketika kita melatih diri untuk bersikap sabar dan berbesar hati, tentu, musibah mudah kita taklukkan.

Ketiga, hadapi musibah dengan ketenangan jiwa. kelemahan menghadapi musibah biasanya disebabkan kepanikan yang berlebihan, sering terjebak pada tindakan dan sikap yang emosional. Emosi yang membuncah mengalahkan kesadaran diri, ujungnya melahirkan tindakan yang ektrem sehingga memunculkan musibah baru, yang memperparah yang ada. Karena itu, perlu menciptakan dan mengembangkan sikap dan suasana yang tenang, sadar dan penuh percaya diri. Biarkan musibah itu datang sebagaimana lazimnya harus datang, namun kesadaran tetap harus terjaga. Ketika kesadaran melemah bahkan sampai lenyap, maka sungguh kita berjalan di atas ketidaksadaran. Padahal kesadaran adalah lentera, yang cahayanya akan menerangi langkah dijalan yang gelap.

Keempat, Pelihara keimanan sebagai fondasi hidup.  Menata hati dari kecemasan di saat musibah dengan keyakinan sempurna dan pasrah kepada Tuhan suatu yang niscaya. Kehidupan ini tidak memiliki arti dan makna hakiki jika iman dalam hati telah sirna. Orang yang celaka adalah bukanlah orang yang kehilangan harta benda, kekuasaan dan jabatan karena musibah yang menimpanya. Tetapi orang yang celaka adalah orang yang kehilangan keimanannya karena musibah itu, sehingga nabi Muhammad SAW pernah bersabda, hampir-hampir kemiskinan itu membawa manusia pada kekufuran-. Betapa hinanya kehidupan ini tanpa keimanan.

Dengan keimanan, maka akan dapat menentukan kebahagiaan dan ketenangan jiwa. “siapa yang mengerjakan amal shaleh, laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari yang telah mereka kerjakan” (Qs.16:97).

Kami berikan kehidupan yang baik yakni , pertama,  merujuk pada keimanan yang kuat akan janji Tuhan yang Maha  kuasa dan hati yang teguh dalam mencintai-Nya (Qs.al Baqoroh/2:165). Kedua, Orang yang menjalani kehidupan yang baik memiliki jiwa yang tenang ketika tertimpa musibah. Ia puas dengan segala sesuatu yang terjadi kepada mereka, karena musibah itu sudah ditentukan oleh kehendak-Nya.

Penulis adalah GPAI SMKN 3 Yogyakarta/Wakil Ketua PWM DI Yogyakarta

(Visited 125 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 1 Mei 2020
Close