Bangkit Menuju Kenormalan Baru: Telaah Perubahan, Pemikiran dan Kebangkitan untuk Pendidikan Pasca Pandemi Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Perlu disadari bahwa dunia saat ini semakin terhubung, sehingga membutuhkan pemikiran-pemikiran baru, inovator-inovator baru, dan semangat inklusi yang baru. Pandemi global ini telah membawa kesulitan dalam pelaksanaan pendidikan konvensional

Masifnya penyebaran covid-19 membuat World Helth Organization/WHO menetapkan status pandemi global. Badan kesehatan dunia tersebut telah menyatakan virus corona tak pernah hilang. Dengan penetapan dan pernyataan tersebut, maka dunia harus bersiap-siap menghadapi sejumlah perubahan pasca pandemi covid-19. Hal inilah yang dikatakan sebagai “new normal”.

New normal atau kenormalan baru akan berlaku pada seluruh aspek kehidupan tak terkecuali pendidikan. Dalam hal ini akan terjadi perubahan yang bersifat permanen, jika ditinjau dari pelaku pendidikan baik pendidik maaupun terdidik, metode, hingga pada teknologi belajar yang mau tak mau harus menjadi bagian utama dari proses pendidikan selanjutnya.

Saat ini, rumah telah menjadi sekolah, orangtua telah menjadi guru, dan belajar pun tak terhalangi oleh batasan ruang dan waktu. Hal ini sejalan dengan ajaran Ki Hajar Dewantara mengenai konsep “Keluarga sebagai Paguron” yang melihat bahwa alam keluarga adalah salah satu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan. Anak dan orangtua belajar bersama yang dihadapkan pada tuntutan pemanfaatan teknologi belajar yang beragam.

Kondisi di atas telah merubah mainstream yang selama ini melekat pada masyarakat Indonesia, bahwa pendidikan itu selalu identik dengan sekolah yang diwujudkan dengan kemewahan bangunan yang seakan menjadi nilai jual bagi calon peserta didiknya. Namun pandangan tersebut saat ini benar-benar terbantahkan, dan mendorong kita semua untuk menyadari bahwa wabah telah membawa pada suatu perubahan yang menuntun kita semua untuk tidak sekedar bertahan, namun lebih pada bersiap untuk menuju kenormalan baru selanjutnya, sebagai wujud dari pandangan bahwa life must go on, dan pendidikan pun tetap harus berjalan. Disinilah, perlunya pemikiran tentang apa dan bagaimana menghadapi perubahan pendidikan pasca pandemi.

Kepastian akan terjadinya perubahan, yang dibarengi dengan ketidakpastian sebagai sifat alami dari perubahan, memiliki implikasi yang kompleks dan mendalam bagi pendekatan kita terhadap pendidikan. Namun, karena kita tidak bisa memprediksikan dengan tepat apa yang perlu diketahui generasi muda zaman sekarang dalam 10-20 tahun ke depan, maka apa yang diajarkan kepada mereka saat ini menjadi berasa kurang penting dibandingkan dengan bagaimana mereka belajar untuk diriya sendiri.

Peserta didik dipastikan perlu memiliki fondasi matematika dan sains dasar. Mereka perlu memahami bagaimana bahasa sehingga bisa berkomunikasi secara efektif. Mereka perlu memiliki kesadaran sejarah dan politik agar dapat merasa layaknya di rumah, serta mengenal seni agar dapat menghargai rasa dahaga manusia terhadap kemuliaan. Namun, di luar hal-hal fundamental tersebut tugas krusial pendidikan adalah mengajarkan anak-anak tentang: bagaimana cara belajar, mengarahkan mereka agar ingin belajar, menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong keajaiban, dan menanamkan kepercayaan sehingga nantinya mereka memiliki perangkat untuk mencari jawaban dari banyak pertanyaan.

Berkaitan dengan uraian yang disebutkan, maka pendidikan konvensional dengan penekanan terhadap hafalan, konsep-konsep pengikat artifisial, dan kurikulum satu untuk semuadengan target terlalu sempit pada pengetesan, jelas tidak tepat untuk diterapkan saat ini. Pada masa ini telah terjadi perubahan dengan tuntutan fleksibilitas dan memunculkan pandangan bahwa pendidikan konvensional telah menjadi sesuatu yang rapuh.

Perlu disadari bahwa dunia saat ini semakin terhubung, sehingga membutuhkan pemikiran-pemikiran baru, inovator-inovator baru, dan semangat inklusi yang baru. Pandemi global ini telah membawa kesulitan dalam pelaksanaan pendidikan konvensional (baca sekolah), dimana institusi pendidikan konvensional tampak kaget bahkan schock berat terhadap solusi-solusi teknologi belajar yang tersedia untuk membuat pendidikan tidak hanya lebih baik, tetapi juga terjangkau dan dapat diakses oleh lebih banyak orang di lebih banyak tempat.

Hal penting yang perlu dilakukan saat ini adalah memandang dan menyikapi permasalahan pandemi Covid-19 yang menuntut perubahan pola pendidikan ini sebagai desain masalah dengan akhir terbuka, yang menghadirkan atmosfer sosial dan intelektual yang kaya akan ilmu pengetahuan teknologi secara kontekstual dan autentik, untuk berkreasi dengan berbagai inovasi yang membuat mereka berharga bagi dunia.

Kebangkitan bernalar dengan menjadikan masalah sebagai pijakan dalam melangkah ke depan sangat tepat diterapkan saat ini, dimana Indonesia secara nasional harus bertekad untuk menghadapi segala perubahan yang akan membawa pada suatu kenormalan baru yang memang berbeda dibandingkan dari masa sebelumnya. Nafas kebangkitan nasional sebagai hari yang didedikasikan untuk memperingati para pendahulu negeri ini, yang telah berhasil membangun negeri ini dari organisasi.

Organisasi kedokteran Budi Oetomo ketika itu telah berhasil membuat masyarakat melek, dan mendorong masyarakat untuk saling belajar, menguatkan, dan mengatur strategi agar Indonesia bisa merdeka. Dan hasilnya, Indonesia akhirnya merdeka dan lepas dari penjajahan. Semangat kebangkitan nasional ini, perlu dijadikan landasan bagi kita untuk terus bangkit dan menjalankan proses pendidikan dengan berbagai metode, model dan teknologi yang tepat serta terus berproses dalam situasi dan kondisi apapun, dengan semangat menghadapi perubahan dan mengarungi kenormalan baru.

Dr. Iin Purnamasari, S.Pd., M.Pd.

Dr. Iin Purnamasari, S.Pd., M.Pd.

Kepala Pusat Pendidikan dan Humaniora Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat/LPPM UPGRIS

Terbaru

Ikuti