Ditulis oleh 7:20 am COVID-19

Bangkit untuk Bersatu Melawan Covid-19: Refleksi Harkitnas ke-112 Tahun 2020

Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Lalu bagaimana korelasi semangat nilai-nilai perjuanagan Budi Utomo dengan kondisi Indonesia sekarang ini ?

Setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional, pada tahun 2020 ini diperingati Harkitnas yang ke-112 tahun. Ada yang beda tentunya, seperti halnya peringatan hari pendidikan nasional pada tanggal 2 Mei, kegiatan peringatan dilaksanakan dengan penuh kesederhanaan dan keprihatinan di tengah wabah Covid-19. Kita perlu kilas balik sebuah peristiwa penting yang menjadi “embrio” lahirnya semangat kebangkitan nasional bangsa Indonesia, dalam upaya melawan penindasan bangsa penjajah.

Kebangkitan Nasional Indonesia adalah periode awal abad ke-20, masyarakat Indonesia mulai tumbuh kesadaran nasional sebagai “orang Indonesia” ditandai dengan peristiwa penting yaitu berdirinya organisasi modern yang pertama bernama “Boedi Oetomo” . Budi Utomo (ejaan van Ophuijsen: Boedi Oetomo) adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908.

Digagaskan oleh Dr Wahidin Sudirohusodo, organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Lalu bagaimana korelasi semangat nilai-nilai perjuanagan Budi Utomo dengan kondisi Indonesia sekarang ini ?

Kondisi bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia masih dilanda pandemik Covid-19, maka setiap kita mempunyai peran yang berbeda sesuai dengan pekerjaan dan kedudukan kita dalam berbangsa dan bernegara, untuk melawan Covid-19. Data di Indonesia yang disampaikan oleh ketua Gugus Tugas Percepatan Penangan Covid-19, Sabtu (2/5/2020) terjadi penambahan kasus terkonfirmasi positif menjadi 10.843 orang, sedangkan yang dinyatakan sembuh menjadi 1.665, dan yang meninggal 831 orang. Kalau kita bandingkan data tersebut, per 12 Mei 2020, kasus terkonfirmasi positif menjadi 14.749 orang, sedangkan yang dinyatakan sembuh menjadi 3.063, dan yang meninggal 1.007 orang. Dari data tersebut kita dapat gambaran bahwa pandemik Covid-19 belum meredah, bahkan cenderung terus meningkat, bagaimana peran warga negara untuk ikut mengurangi atau mencegah penularan covid-19 ?

Hal-hal yang setiap orang bisa lakukan (sebagai seorang pahlawan untuk diri sendiri dan lingkungannya) dalam upaya untuk bersatu bangkit melawan Covid-19 dengan spirit hari kebangkitan nasional, antara lain:

Pertama, Cuci Tangan dengan Sabun. Tindakan pertama yang dapat dilakukan untuk menangkal virus corona adalah dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Cuci tangan dengan durasi minimal 20 detik untuk membunuh virus corona. Tindakan pencegahan ini dianggap lebih efektif untuk membunuh kuman, bakteri, termasuk virus corona. Cuci tangan merupakan langkah yang disarankan oleh banyak pihak, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kegiatan cuci tangan dengan sabun, hal sederhana dan sangat mudah serta semua orang bisa lakukan dan yang juga menjaga kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan, serta meningkatkan “imun” tubuh dengan memakan makanan 4 sehat 5 sempurna.

Kedua, Social Distancing, pembatasan sosial atau menjaga jarak adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonformasi yang dimaksud untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular, termasuk Covid-19. Dengan kita menjaga jarak, maka semakin kecil kita kemungkinan tertular atau menularkan virus corona. Ketiga, Stay at Home atau harus tetap di rumahmerupakan antisipasi pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Corona. Perintah yang mengharuskan setiap orang untuk tidak keluar rumah demi keselamatan dan kesehatan orang tersebut. Larangan stay at home, jangan sekali-kali untuk mengambil kesempatan, seperti berlibur atau mengadakan kegiatan yang mengumpulkan orang dalam skala banyak, bahkan untuk kegiatan ibadah juga hendaknya dilaksanakan di rumah. Selama diam di rumah banyak hal yang bisa dilakukan seperti olahraga, bermain dengan anak-anak, shalat berjama’ah dengan keluarga, mengikuti kegiatan seminar daring dan juga bekerja dari rumah.

Keempat, Work from Home atau bekerja dari rumah . Secara umum biasanya work from home diartikan dengan cara kerja karyawan yang berada di luar kantor. Entah dari rumah, dari café atau restoran sesuai dengan keingingan karyawan. Sistem kerja work from home sedang menjadi solusi karena adanya wabah virus Corona. Hal ini agar mengurangi risiko penularan virus corona dan kesehatan karyawan. Kelebihan dari work from home antara lain; menghemat biaya pengeluaran bagi karyawan, fleksibel, mendekatkan diri kepada keluarga.

Kelima, Keluar rumah menggunakan Masker. Meskipun Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan hanya mereka yang sakit yang mengenakan masker, ternyata studi terbaru mengarahkan semua orang harus bermasker untuk mencegah penularan infeksi virus Corona baru (COVID-19). Penggunaan masker harus digunakan setiap kita keluar rumah dalam berbagai aktivitas. Menurut Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan kurang lebih 90% penularan kasus Covid-19 melalui droplet (percikan cairan). Oleh karena itu, penggunaan masker sangat penting digunakan ketika melakukan perjalanan atau segala aktivitas di luar rumah.

Keenam, Tidak Mudik. Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) soal larangan mudik 2020 hanya berlaku untuk daerah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), zona merah, dan aglomerasinya. Mudik (oleh KBBI disinonimkan dengan istilah pulang kampong) adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk pulang ke kampong halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang lebaran idul fitri atau idul adha. Tetapi pada kondisi pandemik Covid-19 ini, hendaknya kita semua bisa menahan diri untuk tidak mudik, karena bukan saja membahayakan kita, tetapi keluarga yang di kampung bisa tertular virus corona.

Sebagai catatan terakhir, ada seorang perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Suryanti Suroso Jakarta, pada kegiatan amal EMTEK Group pada tanggal 10 Mei 2020, Perawat tersebut bernama Kristin ada pernyataan yang menarik dari beliau “ bahwa yang menjadi garda terdepan dalam melawan Covid-19 adalah masyarakat sedangkan para medis adalah pertahanan terakhir”. Pernyataan tersebut bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2020 ini, saatnya kita Bangkit untuk Bersatu Melawan Covid-19. Semoga Allah SWT segera mengangkat pandemi Covid-19, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara bisa normal kembali. Amien.

(Visited 290 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close