30.3 C
Yogyakarta
18 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Bangsa Maya, Pembuat Sistem Penyaringan Air Pertama di Dunia Barat

Bangunan-bangunan prasejarah dari kota Maya di Tikal terkenal dengan istana dan kuilnya yang menjulang tinggi. Akan tetapi, terdapat sesuatu yang jauh lebih sederhana yang mempertahankan fungsi dari kota Tikal ini, yaitu sistem penyaringan airnya, yang merupakan sistem paling awal diketahui dari jenisnya. Para peneliti baru-baru ini menemukan mineral vulkanik yang menangkap mikroba dan logam berat di salah satu waduk terbesar di Tikal. Karena bahan tersebut tidak ditemukan di dekatnya, temuan tersebut menunjukkan adanya filter yang sengaja dibuat.

Penemuan tersebut bertentangan dengan gagasan lama bahwa kemajuan teknologi dunia kuno terkonsentrasi di tempat-tempat seperti Yunani, Roma, Mesir, dan Cina. Peneliti berpandangan bahawa dalam hal pemurnian air, bangsa Maya sudah ribuan tahun lebih maju.

Terletak di hutan tropis Guatemala utara, Tikal telah bertahan dan tumbuh subur selama lebih dari 1000 tahun. Di puncak kemakmurannya, sekitar 700 M, kota tersebut diperkirakan telah menjadi rumah bagi lebih dari 45.000 orang. Kota ini dapat dikatakan sebagai salah satu kota Maya yang terkemuka.

Tetapi orang-orang Tikal harus menghadapi musim kemarau yang berlangsung kira-kira dari November hingga April. Peneliti mengatakan bahwa menyimpan air di dalam waduk adalah solusinya, akan tetapi air tersebut harus layak untuk diminum. Sehingga menjaga kebersihan air sangatlah penting.

Beberapa tahun yang lalu, para peneliti menggali sedimen dari beberapa waduk Tikal. Mereka terkejut menemukan bahwa salah satu reservoir terbesar, Corriental, memiliki kontaminasi yang jauh lebih sedikit dari logam berat, ganggang penghasil racun, dan mineral yang terkait dengan polusi tinja dibandingkan yang lain. Kualitas air di Corriental jauh lebih tinggi dibandingkan tempat lain.

Para peneliti kemudian berspekulasi bahwa entah bagaimana bangsa Maya menyaring air Corriental. Salah satu pendapat adalah mereka menggunakan taman sebagai kamar mandi mereka, maka air yang masuk ke waduk tidak akan terlalu bersih.

Jadi, para peneliti melihat lebih dekat sedimen di dasar waduk. Petunjuk pertama dari filter kuno adalah penemuan kristal kuarsa. Para peneliti menemukan empat lapisan yang berbeda, masing-masing setebal beberapa sentimeter, dari kristal berwarna kecoklatan berskala milimeter (Butir seukuran pasir seperti itu dapat digunakan untuk menyaring air, tetapi tidak menangkap semua mikroba berbahaya.) Kemudian, para peneliti memeriksa kuarsa secara lebih detail dan menemukan itu dihiasi dengan kristal “zeolit” yang bahkan lebih kecil. Jenis mineral vulkanik ini dapat memurnikan air dengan menjebak mikroba dan logam berat dalam struktur berpori, dan mereka masih digunakan secara luas hingga saat ini. Hampir semua air yang minum, dari air kemasan hingga minuman lain, disaring melalui filter zeolit.

Diperkirkan bahwa bangsa Maya tidak akan tahu tentang zeolit dalam batuan, akan tetapi mereka mengenali kemampuan pemurniannya. Sebuah formasi batuan kaya kuarsa dan zeolit sekitar 30 kilometer timur laut Tikal kemungkinan merupakan sumber material di reservoir Corriental, tim tersebut mengusulkan bulan lalu dalam Laporan Ilmiah. Peneliti mengatakan bahwa air di situs ini jernih dan terasa enak.

Nanum sayangnya, tidak ada bukti langsung tentang seperti apa sistem filtrasi Corriental. Namun, terdapat ide yang dilontarkan para peneliti: Anyaman buluh mungkin telah menahan batuan yang mengandung kuarsa dan zeolit di bawah air tepat di hulu aliran masuk waduk. Susunan tersebut secara berkala akan tersapu oleh banjir bandang setelah badai, yang akan menjelaskan lapisan kuarsa dan zeolit yang ditemukan di dasar waduk.

Penemuan tersebut merupakan pengingat kuat dari kemampuan teknologi bangsa Maya, yang juga menambah kekaguman akan kemampuan dan capaian para bangsa terdahulu yang dianggap “kuno”.

Sumber:
Situs sciencemag.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA