Beberapa Catatan Tentang Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab (1934): Suatu Revolusi Pemikiran

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Karangan ini diangkat dari buku 45 Tahun Sumpah Pemuda yang diterbitkan oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta 20 Mei 1974, dengan pengantar dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin.

Dari Redaksi:

Dengan persetujuan pengarangnya setelah diadakan beberapa perubahan dan tambahan kecil, karangan ini diangkat dari buku 45 Tahun Sumpah Pemuda yang diterbitkan oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta 20 Mei 1974, dengan pengantar dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin.

Buku tersebut memuat serangkaian tulisan dari tokoh-tokoh terkemuka seperti Dr. Bahder Djohan, Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Mohamad Roem, dan lain-lain, juga A.R. Baswedan sebagai pencetus Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab dan pendiri PAI (Partai Arab Indonesia, 1934) sebagai kelanjutan dari Sumpah Pemuda Indonesia tahun 1928.

Tulisan ini kami anggap perlu diketahui oleh angkatan muda generasi baru, khususnya dari kalangan keturunan Arab sendiri yang banyak tidak mengetahui sejarah penting tersebut.

EMPAT puluh tahun yang lalu, tepatnya 4 Oktober 1934, tercetuslah Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab dalam sebuah konferensi di Semarang. Sebuah peristiwa yang pantas dicatat dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sebagai kelanjutan dari Sumpah Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 yang amat terkenal. 

Sumpah tersebut berisi: (1) Tanah air Peranakan Arab adalah Indonesia (sebelumnya, mereka merasa bertanah air Yaman, negara asal mereka), (2) Karenanya, mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi), dan (3) Memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia. 

Dalam konferensi itu langsung didirikan Partai Arab Indonesia (PAI) berdasarkan sumpah tersebut di atas, dengan pucuk pimpinan berikut: Ketua: A.R Baswedan (Al-Irsyad), Penulis I: Nuh Alkaf (Al-Rabithah), Penulis II: Salim Maskatie (Al-Irsyad), Bendahara: Sagaf Assegaf (Al-Rabithah), Komisaris: Abdurrahim Argubi (Al-Irsyad). 

Tokoh-tokoh pemuda yang hadir dalam konferensi tersebut berasal dari Jakarta, Pekalongan, Solo, Semarang dan Surabaya. Mereka merupakan “motor” dalam perkumpulan-perkumpulan Arab yang saling bertentangan dan didominasi oleh kalangan totok. Peristiwa tersebut menggemparkan seluruh lapisan masyarakat, pemerintah kolonial, kaum nasionalis, dan bahkan kalangan Arab sendiri.

Memilih Bersama Rakyat Pribumi 

Pemerintah kolonial Belanda segera menyoroti karena menyadari pengaruh sumpah tadi yang diikuti lahirnya Partai Arab Indonesia (PAI). Kaum pergerakan nasional gembira karena mendapat kawan dalam situasi gawat yang sedang dialami. Pada masa itu pemerintah Belanda terus melakukan penangkapan terhadap pemimpin utama partai-partai politik nasional yang berhaluan radikal, membubarkan partainya, dan mengasingkan mereka. 

Dalam situasi gawat itulah pemuda Arab justru bangkit dan memproklamasikan keyakinan dan sikapnya. Meskipun mereka diberi status “Timur asing” berdasarkan Undang-undang Kerakyatan Hindia Belanda, tetapi, mereka juga disebut “asing” oleh masyarakat sekelilingnya walaupun mereka seagama. Mereka lalu memilih berposisi di antara (= bersama) rakyat pribumi yang oleh Belanda disebut inlander. 

Bagi kalangan Arab sendiri (terutama golongan totok), peristiwa itu menimbulkan berbagai kekhawatiran, sangat mengejutkan, dan menimbulkan sikap pro-kontra serta emosi yang berlebihan. Sebab, sebelum terjadinya sumpah dan berdirinya partai politik tersebut, pemuda- pemuda itu terbagi dalam dua kubu utama: Al-Irsyad versus Al-Rabithah Al-Alawiyah. Keduanya bermusuhan selama puluhan tahun dan merembet jauh hingga ke tanah air nenek moyangnya di Yaman, bahkan sampai terjadi bentrok fisik dan pembunuhan. Permusuhan internal kaum Arab tersebut disulut pula oleh politik devide et impera pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, kaum Arab terpecah belah dan terpisah dari permasalahan politik rakyat sehingga menurun derajatnya. Pergulatan mereka berputar-putar di persoalan konflik internal di antara mereka saja. 

Dengan lahirnya PAI, kaum peranakan Arab secara berangsur-angsur bersatu. Mereka dipersatukan oleh keyakinan baru sebagai putra-putra Indonesia. Mereka keluar dari isolasi berpikir maupun ruang gerak di lingkungannya sendiri yang telah berlangsung berpuluh tahun. Lalu mereka mulai memasuki gelanggang perjuangan nasional yang luas dan idealistis. Bergabung dengan saudara-saudara sebangsa, mereka mencita-citakan kemerdekaan tanah air dan bangsa Indonesia. Kaum totok yang semula memusuhi kaum peranakan akhirnya terpengaruh dan secara tidak resmi kedua kubu melakukan “gencatan senjata”. 

Itulah sebabnya PAI dalam waktu singkat menjadi sangat populer. Semua harian dan majalah nasional di seluruh tanah air mempropagandakan PAI yang dianggap gerakan yang amat progresif. Semua pemimpin tingkat nasional atau daerah/lokal-terutama dari partai-partai politik baik yang berdasarkan nasionalisme ataupun Islamisme memberikan dukungan positif. Misalnya, mereka ikut membina PAI dan kader-kadernya.

Maka, ketika GAPI (Gabungan Politik Indonesia) berdiri, PAI dapat diterima menjadi anggotanya. Hal ini merupakan pengakuan resmi bahwa peranakan Arab dianggap dan diterima sebagai putra-putra dan sesama bangsa Indonesia. Mereka telah dipercayai sepenuhnya oleh sesama anak bangsa. Ketika GAPI menyelenggarakan gerakan Indonesia Berparlemen, beberapa pemimpin PAI ditugasi memimpin konferensi gerakan tersebut di beberapa daerah (di antaranya A.R. Baswedan sendiri) yang dihadiri oleh tokoh-tokoh partai anggota GAPI. 

PAI juga diterima menjadi anggota Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI) yang merupakan federasi semua partai dan perkumpulan Islam karena PAI yang nasionalis itu berdasar Islam dan tokoh-tokoh PAI mengambil peran di dalamnya.

Menolak Pendekatan Perkauman 

MAKA, tatkala Republik Indonesia diproklamasikan, kaum peranakan Arab turut berkiprah dalam menyiapkan berita proklamasi di masa tentara Jepang masih berkuasa. Waktu itu PAI telah mengembangkan cabangnya di seluruh Indonesia. Hampir 60 cabangnya terdapat di kota-kota besar dengan anggota dan pengikut yang tersebar di semua pelosok tanah air. Tercatat ada aksi-aksi cukup berbahaya yang dilakukan secara heroik. Misalnya, Mustafa Baisa dan Ali Bahfen, keduanya pemuda PAI, diutus oleh Komite Nasional Pusat KNIP ke Sumatera untuk menyiarkan berita proklamasi. Di sana mereka ikut bertempur melawan Jepang di tempat-tempat yang dikunjunginya. 

Dengan berdirinya Republik Indonesia, mereka sepakat tidak mau menghidupkan lagi PAI yang telah dibubarkan oleh rezim Jepang bersama partai-partai Indonesia anggota GAPI lain. Mereka menolak pendekatan perkauman, anggapan sebagai kaum minoritas, dan perwakilan perkauman dalam badan-badan perwakilan. Sebab, mereka menganggap diri sebagai warganegara RI yang setara dengan kaum-kaum lain sebangsanya, meskipun ketika itu belum ada Undang-undang Kewarganegaraan.

Mereka tidak mau disebut sebagai warga negara baru, dan karena itu tidak ada seorang pun peranakan Arab yang menolak kewarganegaraan Indonesia. Mereka memang bukan warganegara dari suatu negara Arab (Yaman) dan juga tidak diklaim sebagai warga negara oleh suatu negara Arab. Lebih-lebih, generasi-awal para bapaknya datang ke Kepulauan Indonesia tanpa ditemani para istrinya. Jadi, kaum peranakan Arab yang ada di Indonesia sekarang semuanya merupakan hasil percampuran darah, yang lahir dari ibu-ibu asli Indonesia. 

A.R. Baswedan

A.R. Baswedan

Anggota BPUPKI. Menteri Muda Penerangan di awal kemerdekaan. Pahlawan Nasional.