Beda Pendapat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Jika berbeda pendapat karena faktor akhlaq, inilah yang menjadi biang perpecahan. Inilah persoalan yang paling rumit untuk diselesaikan.

Pernah suatu ketika Imam Yunus bin Abdil A’la berbeda pendapat dengan Gurunya (Imam Assyafi’i RA.).

Sambil marah ia berdiri, meninggalkan pelajaran dari Sang Guru dan pulang ke rumah.
Saat malam tiba, ia mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.

Yunus: “Siapa di pintu?”
Pengetuk pintu: “Muhammad bin Idris”
Yunus bercerita: “Aku berusaha mengingat ingat setiap orang yang bernama Muhammad bin Idris. Seingatku tiada yang lain selain Assyafi’i. Kemudian aku buka pintu dan aku dikagetkan dengan kehadiran Imam Assyafii.”

Beliaupun menasehatiku :

‎يا يونس، تجمعنا مئات المسائل وتفرقنا مسألة ؟!!
“Wahai Yunus.. Ratusan masalah telah menyatukan kita. Masa hanya satu masalah saja harus membuat kita bercerai ?!”

‎يا يونس، لا تحاول الانتصار في كل الاختلافات .. فأحيانا “كسب القلوب” أولى من “كسب المواقف”.
“Wahai Yunus.. janganlah engkau berusaha membela diri dalam setiap perbedaan pendapat. Seringkali menata hati jauh lebih baik dibanding menata sikap atau pendapat.”

‎يا يونس، لا تهدم الجسور التي بنيتها وعبرتها .. فربما تحتاجها للعودة يوما ما
“Wahai Yunus.. Jangan kau hancurkan jembatan yang telah kau bangun setelah kau lewati. Bisa jadi suatu hari kau membutuhkanya kembali.”

‎اكره “الخطأ” دائمًا… ولكن لا تكره “المُخطئ”
“Bencilah setiap kesalahan selamanya, tapi jangan kau benci pelakunya.”

‎وأبغض بكل قلبك “المعصية”… لكن سامح وارحم “العاصي”.
“Bencilah segala bentuk maksiat dengan sepenuh hatimu. Tetapi maafkan dan kasihanilah pelakunya.”

‎يا يونس، انتقد “القول”…لكن احترم “القائل”… فإن مهمتنا هي أن نقضي على “المرض”… لا على “المرضى.
“Wahai Yunus… Kritiklah ucapan atau pendapatnya. Tapi hormatilah dan hargailah orangnya. Karena kepentingan kita adalah membasmi penyakit, bukan membasmi orang yang sakit.”

_______

Betapa banyak kita temui, atau mungkin kita pernah mengalami, tiba tiba orang memutus hubungan dan berselisih. Padahal orang itu telah lama dalam kebersamaan dan persahabatan.

Memutus hubungan itu disebabkan karena munculnya perbedaan pendapat. Di dalam organisasi, jama’ah, yayasan, atau gerakan Islam, sering kita mengetahui fenomena demikian.

Misalnya didalam sebuah kepengurusan takmir, yang isinya adalah para jamaah masjid. Ada seseorang pengurus tiba tiba minta keluar dari kepengurusan. Nampaknya dia kecewa, karena pendapatnya tidak diakomodir dalam sebuah rapat dewan pengurus. Yang lebih parah, lantas dia tidak mau lagi sholat berjamaah di masjid itu, dan pindah ke masjid lain.

Kita juga sering menyaksikan perilaku politik di sekitar kita. Kandidat calon ketua umum partai yang kalah dalam pemilihan, akhirnya menyempal. Keluar dari partai, mendirikan partai baru, dan biasanya diikuti oleh para pendukungnya.

berbeda pendapat dalam sebuah organisasi atau kumpulan orang itu suatu hal yang lumrah.

Pada gerakan Islam kontemporer atau kelompok lelompok Islam juga demikian, bahwa jama’ah atau kelompok tertentu sebetulnya adalah pecahan dari sebelumnya.

Sebetulnya, berbeda pendapat dalam sebuah organisasi atau kumpulan orang itu suatu hal yang lumrah. Dan seharusnya orang harus siap untuk itu, terhadap perdebatan, pro kontra, bahkan polarisasi pendapat.

Karena organisasi merupakan medan kerja sama antar manusia. Dalam berinteraksi bisa terjadi salah faham, beda sudut pandang, beda penafsiran, yang pada akhirnya bisa menimbulkan beda pendapat.

Bekerjasama antar sesama manusia adalah medan berbeda pendapat, dan terjadinya kesalahan. Salah dalam bekerja itu lazim terjadi, yang tidak salah adalah mereka yang tidak bekerja. Asalkan kesalahan tidak dieksploitasi, tidak akan menjadikan masalah berlarut larut.

Berkumpul dan bekerja dengan manusia, juga medan dimana kita akan sering menemui berbagai bentuk kekecewaan. Kecewa harapannya tidak terpenuhi, kecewa tidak didengar, kecewa dikhianati dan seterusnya.

Berbeda pendapat dalam sebuah organisasi, yayasan, atau gerakan Islam, apabila didasari dengan akhlaq yang baik, dikelola dengan baik, bahkan bisa menumbuhkan iklim yang sehat.

Sebagaimana nasehat Imam Syafi’i diatas. Syaikh Yusuf al Qardhawi dalam Fikh Ikhtilaf juga memberi arahan tentang bagaimana bersikap, dan bagaimana mengelola perbedaan pendapat.

Ada dua bentuk perbedaan pendapat (ikhtilaf):
1. Ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor akhlaq
2. Ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor pemikiran.

Ikhtilaf karena akhlaq bisa timbul karena:
1. Membanggakan dan mengagumi pendapatnya sendiri.
2. Buruk sangka kepada pihak lain, dan menuduh tanpa bukti.
3. Egoisme, mengikuti hawa nafsu dan ambisi terhadap kedudukan.
4. Fanatik terhadap pendapat figur atau madzhab.
5. Fanatik terhadap negeri, daerah, partai, jamaah atau pemimpin.

perbedaan pendapat karena faktor ilmiyah maupun amaliyah, sebetulnya tidaklah menjadi masalah.

Semua ini adalah akhlaq tercela. Ini adalah perselisihan yang tidak terpuji, dan termasuk perpecahan.

Sedangkan perbedaan pendapat karena faktor ilmiyah maupun amaliyah, sebetulnya tidaklah menjadi masalah. Apabila hal itu merupakan ta’addudu tanawu’ (perbedaan yang bersifat variatif) bukan ta’addudu ta’arudh (perbedaan yang bersifat kontradiktif).

Tetapi asal semuanya berhubungan dan bekerjasama. Saling menyempurnakan, dan menguatkan dalam menghadapi masalah asasi, dan mencerminkan satu barisan.”

Jadi, jika berbeda pendapat karena faktor akhlaq, inilah yang menjadi biang perpecahan. Inilah persoalan yang paling rumit untuk diselesaikan. Karena, sebetulnya faktor hati, hasad, tapi dibungkus dengan argumen ilmiah.

Berbeda pendapat, dan merasa tidak diakomodir pendapatnya, bisa menimbulkan rasa kecewa dan sakit hati yang berlarut.

Mengelola kekecewaan sungguh bukanlah perkara mudah. Apalagi bagi orang yang sudah merasa punya nama besar dan punya banyak pengikut.

Orang yang merasa dirinya besar, kadang tidak siap untuk menerima kekalahan, tidak siap untuk menjadi pengikut orang lain. Orang model begini, cenderung mudah untuk membuat friksi dan menyempal. Lebih senang membangun sejarah untuk dirinya sendiri, daripada bergabung dan bersatu.

Ketika masih menjadi sebagai “orang biasa”, dia sanggup untuk taat pada pimpinan dan aturan organisasi. Tapi ketika telah merasa menjadi “orang besar,” ternyata tidak mudah untuk mengelola rasa kecewa.

Jadi memang benar, urusan kecewa adalah masalah yang paling rumit dalam hubungan antar manusia. Problem mengelola hawa nafsu ini merupakan problema umat yang akan selalu ada di setiap zaman. Sejak dulu, sekarang, dan seterusnya, hingga sampai Kiamat nanti. Wallahu ‘alam bishawab.

Boedi D

Boedi D

Dosen STAIT Yogyakarta. Konsultan pada Jaringan Sekolah BIAS Indonesia.

Terbaru

Ikuti