28.2 C
Yogyakarta
27 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Belang Tangan

Siang hari, iseng mengkontak sahabat lama di seberang sana. Fasilitas video call, memungkinkan komunikasi lebih lancar, tidak hanya suara, tetapi juga gambar, sehingga sosok dapat terlihat. Dengan alat yang lebih canggih, maka sosok terlihat lebih utuh dan detail. Cara ini, dapat mengurangi kekecewaan tidak dapat bertemu langsung. Atau dapat mengobati rasa rindu, lantaran keadaan tidak mengijinkan perjalanan dan perjumpaan. Ikut pada protokol agar berdiam di rumah dan senantiasa menjaga jarak, merupakan hal utama, karena ujungnya adalah keselamatan bersama.

Yang di seberang langsung menyerbu dengan kata dan tawa, sembari menyelipkan gugatan: tumben. Memang terasa adalah ganjil. Tidak membuat kontak masalah, dan membuat kontak tetap masalah. Namun demikian itulah relasi. Selalu punya dinamika. Makna dibentuk dari dinamika tersebut. Dari sana pula terbangun keakraban, sehingga saling cela, gugatan kecil, atau umpatan, tidak ada makna lain kecuali bentuk keakraban. Kadang umpatan justru mampu menyampaikan yang tidak terkatakan. Bagi yang tidak tahu, barangkali terkesan konflik. Padahal tidak. Setiap daerah punya karakter tersendiri dalam komunikasi. Ada yang halus, sehingga real konflik tidak nampak karena terbungkus. Ada yang sebaliknya, dimana kehalusan budi, justru dibungkus dengan perkataan yang nampak kasar.

Obrolan tergulir tanpa arah dan maksud, karena maksudnya hanyalah saling sapa. Dalam asyik itulah, mata tertuju pada tangan yang diseberang. Ada yang aneh pada tangannya. Belang. Atau ada dua warna. Yang lebih terang dan yang lebih gelap. Dahulu ketika sepeda onthel masih berjaya. Warga dari Selatan Kota Jogya, pada pagi hari bergerak ke Utara, untuk bekerja. Maka pagi, tampak iring-iringan sepeda bergerak dari Selatan ke Utara. Sore hari, gerak dari arah sebaliknya: dari Utara ke Selatan. Prosesi berjalan setiap hari. Akibatnya, sebelah bagian tubuh terkena sinar matahari, dan ketika kembali (sore), bagian tubuh sebelahnya tidak terkena, karena sinar matahari tidak ada. Singkatnya, warna tubuh menjadi berbeda, antara kanan dan kiri. Yang gelap, lantaran kena sinar matahari, dan tidak gelap lantaran tidak kena sinar matahari.

Mengapa tangannya belang? Belum lagi terjawab pertanyaan tersebut, yang diseberang malah bertanya. Kok tangan tidak berubah? Maksudnya? Itu tangan kok biasa saja. Tidak ada tanda pernah mencuci tangan secara rutin. Oo. Barulah mengerti, mengapa tangannya belang. Hal yang aneh, adalah bahwa bagian bawah, telapak sampai pergelangan tangan, nampak terang dan bersih, sementara bagian atas sampai siku gelap. Lajimnya, bagian bawah lebih gelap karena kena sinar matahari dan bagian atas lebih terang, karena tertutup baju, sehingga tidak kena sinar matahari. Kali ini berkebalikan. Itu sebab ada pertanyaan, mengapa terbalik. Dengan penjelasan soal cuci tangan menjadi jelas. Bahwa yang terang karena rutin dicuci dengan sabun, dan yang gelap karena tidak tercuci, maka relatif lebih gelap.

Kaget dengan pertanyaan tersebut. Karena memang tangan tidak menunjukkan jejak rutinitas mencuci dengan sabun. Hal yang mengejutkan tentu bukan kenyataan bahwa kegiatan mencuci jarang dilakukan, tetapi karena ternyata pada tangan tersebut tersimpan jejak apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukan. Tangan rupanya seperti buku harian atau buku album yang menyimpan jejak perjalanan. Tentu hanya yang dapat mengakses dan dapat membaca yang bisa mengetahui jejak dan maknanya.

Dalam hal cuci tangan, rupanya jejak begitu nampak. Yang rajin, sesuai dengan protokol, akan nampak lebih terang, sedangkan yang jarang atau mengabaikan protokol, akan nampak lebih gelap. Pertanyaan itu sendiri, terasa seperti teguran keras dari sahabat lama: mengapa anda tidak mengikuti protokol? Bukankah hal tersebut merupakan cara bersama untuk mengendalikan penyebaran wabah? Apa susahnya menjadi bagian dari upaya bersama? Apakah mencapai keselamatan bersama merupakan hal buruk? Jika hal baik, mengapa tidak didukung atau menjadi teladan bagi yang lain?

(t.red)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA