Ditulis oleh 4:35 pm SAINS

Benarkah Ada Alam Semesta Lain?

Imajinasi, telah membawa manusia sampai ke dunia lain, alam semesta lain. Imajinasi menuntun pembentukan pengetahuan, yang memungkinan kita mendekati imajinasi tersebut.

Pertanyaan tersebut terkesan mengada-ngada. Dahulu, ketika awal pengamatan teratur dilakukan dengan prosedur yang dijaga ketelitiannya, telah membuat wajah benda-benda langit berubah dari yang sebelumnya dikenal bahkan mungkin telah diyakini sebagai kebenaran. Awalnya, mungkin juga suatu pengamatan, yakni tatkala manusia melihat dengan penglihatannya sendiri bahwa matahari datang dari satu sudut bergerak ke sudut yang lain. Peristiwa tersebut, dilihatnya berulang-ulang. Barangkali tidak berlebihan jika diambil kesimpulan bahwa matahari bergerak mengitari bumi, dan dengan demikian bumi menjadi pusat dari gerakan benda-benda langit.

Bumi adalah pusat, untuk waktu yang lama dipercaya sebagai kebenaran yang nyata. Pengetahuan tersebut, diperkuat dengan kitab yang disusun oleh astronom, yakni dia yang melakukan pengamatan atas kegiatan benda-benda langit. Astronom Yunani seperti Ptolemy menggambarkan dengan perhitungan bahwa bumi bulat dikelilingi benda-benda langit yang bergerak mengitarinya. Kitab Almagest yang disusun Ptolemy dapat dikatakan sebagai risalah paling lengkap pada periodenya, yang diklaim oleh Ptolemy sebagai hasil olahan dari hasil pengamatan para astronom Yunani sebelumnya yang mencakup waktu lebih dari 800 tahun. Hal penting dari kitab tersebut adalah bekerjanya model, pengamatan dan perhitungan.

Pandangan bumi sebagai pusat dari benda-benda langit, tentu bukan hal yang aneh, terlebih jika didukung oleh argumentasi yang kuat. Hal yang mungkin, dan begitulah keadaannya, manakala pengetahuan tersebut berubah kedudukannya tidak lagi sebagai pengetahuan yang dihasilkan dari pengamatan teratur, tetapi dianggap sebagai kebenaran mutlak, sehingga ketika pandangan lain muncul, akan dianggap tidak sekedar sebagai tantangan untuk pengetahuan, tetapi sebagai tantangan sebuah keyakinan. Atau datangnya pandangan baru tidak dianggap sebagai koreksi atas pengetahun yang telah ada, tetapi dianggap sebagai koreksi atas keyakinan.

Pada abad 16, sebagaimana tercatat dalam lembaran sejarah ilmu pengetahuan, suatu sudut pandangan baru yang juga didasarkan pada pengamatan teratur dengan prosedur ketat, telah membawa kesimpulan yang mengejutkan. Bukan bumi pusat gerak benda-benda langit, tetapi matahari. Dari segi astronomi dan ilmu pengetahuan pada umumnya, pandangan bahwa matahari merupakan pusat, tentu merupakan tantangan, yang harus ditempatkan sebagai koreksi atas pengetahuan bahwa bumi merupakan pusat, artinya pandangan baru tersebut adalah hal baik bagi perkembangan ilmu. Soalnya bukan pada ilmu, tetapi di luar itu. Galileo di Vincenzo Bonaulti de Galilei (15 February 1564 – 8 January 1642), menjadi saksi perubahan pengetahuan yang tidak mudah.

Alam Semesta Lain Dalam Cerita Fiksi

Dongeng sebelum tidur, yang disampai orang tua pada anak-anaknya, mungkin merupakan tahap dimana ide tentang yang lain (another) dimulai, tentu bagi anak-anak. Apakah cerita itu, merupakan bagian dari kerinduan umum manusia pada dunia lain (another), atau sekedar menemani anak-anak agar segera tidur dengan mimpi yang indah. Cerita tersebut, seperti pengantar menuju dunia lain, yang ditemui dalam mimpi. Kadang anak mendapatkan mimpi indah, kadang mendapatkan mimpi buruk. Dari situ pula, harapan terbentuk: bertemu dengan dunia lain yang dianggap baik. Mimpi menjadi arah yang hendak dituju, ketika keluar dari dunianya – yang umumnya dipandang kurang baik.

Alam semesta lain, atau dunia lain, merupakan ide yang tumbuh. Dalam dongeng tikus tanah, yang nakal, digambarkan bagaimana sang tikus tanah bosan di rumahnya, sementara di luar badai salju dengan mengganas. Sang anak ingin keluar rumah, orangtua melarang, karena bahaya. Meskipun moral cerita ini, tidak pada gambar dunia lain, tetapi bagian cerita ini, dapat dikatakan mengisahkan tentang adanya fiksi dalam diri tikus tanah, yakni fiksi tentang suatu dunia di luar sana, walau hanya berjarak sejengkal tangan, suatu dunia lain, yang lebih menjanjikan dan sebaliknya bagi orangtua sebagai dunia yang membahayakan.

Cerita tentang dunia lain, bukan saja berkembang, tetapi juga beragam. Tiap rumah punya dongeng tersendiri, dengan pesan moral yang bisa sama, bisa pula berbeda. Cerita menggunakan media yang juga beragam, mulai dari lisan, tulisan atau film. Beberapa film dapat ditunjukkan disini, sebagai fiksi dengan bermacam pendekatan dalam menghadirkan dunia lain.

The Chronicles of Narnia. Sebuah kisah tentang 4 kakak beradik pada zaman perang dunia kedua yang diungsikan ke pedesaan. Suatu ketika adik bungsu mereka menemukan sebuah lemari yang didalamnya terhubung dengan suatu dunia fantasi yang bernama Narnia. Disana, tidak hanya mereka dihadapkan dengan berbagai macam makhluk unik dan dunia yang indah, mereka juga dihadapkan dengan peperangan yang berbeda yang mengancam akan menghancurkan Narnia. Pada akhirnya mereka memilih untuk ambil bagian dalam peperangan untuk melindungi apa yang penting bagi mereka: keluarga.

Avengers: Endgame. Serial terakhir dari perjalanan superhero Marvel, Avengers. Disini diceritakan setelah menerima kekalahan dari musuh perkasa, para Avengers mencoba cara paling extrem untuk menyelamatkan dunia mereka, yaitu dengan mencoba menelusuri dunia “masa lalu” dan mencoba membawa kembali batu abadi, yang dapat membalikan keadaan. Dunia “masa lalu” ini tak lain adalah dunia lain dari berbagai dunia yang tersembunyi dari kenyataan mereka, dunia yang serupa, namun berbeda.

Star Trek. Sebuah kisah tentang dunia dimana manusia telah berhasil mencapai luar angkasa dan membangun hubungan dengan berbagai ras alien. Manusia kemudian membuat Starfleet, sebagai badan penjaga perdamain yang mereka gunakan untuk mengeksplorasi dunia baru nan jauh, yang tidak pernah didatangi oleh manusia sebelumnya, dan menghadapi berbagai permasalah dalam perjalanannya.

Digimon Adventure. Sebuah kisah dimana sekelompok anak-anak pada suatu musim panas, dikirim masuk kedalam sebuah dunia yang disebut Digital World, atau dunia digital. Disana mereka bertemu dengan makhluk asli yang bernama digimon, dan masing masing anak memiliki satu teman digimon. Pada awalnya Anak-anak ini berjuang untuk pulang kembali ke dunia mereka. Namun setelah mengetahui keadaan dunia digital, mereka memutuskan untuk menyelamatkan dunia tersebut sembari menemukan arti dari kehidupan dan menjadi dewasa.

Ancient Alien. Sebuah serial yang memberika cara pandang: kita tidaklah sendiri. Alien yang selama ini kita anggap hanya fenomena modern, ternyata pernah terjadi di masa lampau, dan banyak bukti-bukti tersebut tersebar diseluruh dunia. Bahkan manusia pun, diteorikan merupakan anak hasil dari campur tangan Alien, setelah mereka menemukan dunia kita, dan mulai membantu umat manusia pada zamn dahulu, dan oleh karena menggunakan bahasa peradapan dahulu, serial ini menganggap bahwa “dewa-dewi” terdahulu, merupaka gambaran akan Alien yang mengunjungi bumi kita, dan percaya akan melakukannya lagi pada suatu hari nanti.

Keseluruhan kisah tersebut menunjukkan: Pertama, adanya semacam kerinduan akan kehadiran yang lain. Mungkin ide tersebut, datang dari keadaan yang ada, yang dianggap kurang bisa memenuhi harapan. Kerinduan pada yang lain, yang lebih baik. Kedua, ada semacam kesulitan, terutama jika berpikir dengan pendekatan saintifik, untuk membuktikan, bahwa keberadaan kita saat ini, adalah keberadaan tunggal. Kesulitan tersebut, pada dirinya membuka kemungkinan untuk adanya yang lain. Barangkali itulah yang juga menjadi latar dari kisah ancient alien. Ada yang lain, atau kita tidak sendiri.

Semesta Lain

Apakah alam semesta punya permulaan, ataukah tidak? Apakah alam semesta yang kita diami, adalah satu-satunya tempat, ataukah ada tempat lain, di luar tempat kita tinggal? Bagaimana sains menjawab pertanyaan tersebut? Hingga kini, terdapat setidaknya lima teori mengenai alam semesta, seperti situs space.

  1. Infinite Universes. Bentuk dan ukuran tidak diketahui secara persis. Keterbatasan pengetahuan memunculkan suatu pandangan atau dugaan yang paling mungkin, bahwa alam semesta tersebut datar (flat) dan meluas tanpa batas. Pandangan ini membuka kemungkinan bagi adanya semesta lain dan semesta mengulangi dirinya – karena jumlah susunan partikel pembentuk alam semesta terbatas. Di atas itu, terbuka pula kemungkinan, adanya dunia lain, di luar dunia yang teramati.
  2. Bubble Universes. Teori ini, didasarkan pada pandangan bahwa alam semesta, setelah pembentukannya (melalui dentuman besar), mengalami fase berkembang, laksana balon yang ditiup. Berdasarkan penelitian kosmolog Tufts University, Alexander Vilenkin, disampaikan bahwa terdapat bagian yang terus mengembang dan bagian yang tidak mengembang. Dalam hal ini, alam semesta digambarkan layaknya gelembung-gelembung yang terpisah satu sama lain. Hal yang menarik dari teori ini adalah pandangan bahwa kemungkinan pada masing-masing gelembung punya hukum-hukum fisika tersendiri, karena masing-masing tidak saling terkait.
  3. Daughter Universes. Teori didasarkan pada mekanika kuantum (yang menjelaskan bagaimana perilaku partikel subatomik). Dalam pandangan mekanika kuantum, realitas bukanlah tentang kepastian, melainkan tentang peluang (kemungkinan). Jika mengikuti hukum probabilitas, maka setiap kejadian (hasil kejadian) akan terjadi, namun di “semesta” masing-masing. Misalnya, sebuah botol yang dilepaskan dari ketinggian, maka akan ada dua peluang kejadian: botol tersebut jatuh dan pecah, dan tidak. Dalam pandangan ini, dikatakan bahwa peristiwa tersebut, akan menghasilkan dua cabang dunia, atau dua daughter universes, yakni satu dimana botol tersebut pecah dan yang lain dimana botol tersebut tidak pecah. Demikian itulah dibayangkan peristiwa pembentukan alam semesta.
  4. Mathematical Universes. Apakah matematika hanyalah alat untuk mengerti alam semesta, ataukah matematika merupakan alam semesta itu sendiri. Pengamatan terhadap alam semesta, dianggap akan memperoleh banyak kemungkinan penemuan bentuk dan susunan alam semesta. Dan penemuan tersebut, dianggap hanyalah salah satu versi matematika, dari banyak versi lainnya, atau masing-masing versi memiliki dunianya sendiri, yang tidak bergantung pada pengamatan. “Struktur matematika adalah sesuatu yang dapat anda gambarkan dengan cara yang sepenuhnya independen dari manusia,” kata Max Tegmark dari Massachusetts Institute of Technology. Tegmark percaya bahwa ada alam semesta di luar sana yang dapat eksis secara independen, dan terus ada, bahkan jika tidak ada manusia.
  5. Parallel Universes. Ide ini dapat dikatakan berawal dari kemungkinan adanya dimensi, selain empat dimensi (ruangwaktu) yang diketahui. Selain ruang yang kita tempati, terdapat kemungkinan adanya ruang lain, di tempat lain (apakah di atas, atau di bawah, atau entah dimana). Artinya, terdapat banyak kemungkinan “alam semesta paralel”, dalam jumlah tak terhingga – bisa persis sama, namun di tempat yang lain, atau bahkan sama sekali berbeda.

Jadi apakah ada alam semesta lain? Banyak yang mengatakan jawabannya adalah yes, namun tidak sedikit pula yang menolaknya. Apakah mungkin kita terlalu jauh melihat? Imajinasi, telah membawa manusia sampai ke dunia lain, alam semesta lain. Imajinasi menuntun pembentukan pengetahuan, yang memungkinan kita mendekati imajinasi tersebut. Apa yang semula dianggap khalayan, pada akhirnya dapat dijangkau atau dapat diwujudkan. Jika keberadaan alam semesta lain, masih dianggap terlalu jauh dan mengada-ada, mungkin kita dapat kembali melihat diri kita, atau melihat dunia kita, secara lebih dekat. Dari sana kemungkinan akan didapati kenyataan, bahwa dunia kita sekarang ini, merupakan imajinasi pada masa lalu. (Sumber: situs space).

(Visited 339 times, 2 visits today)
Tag: , , Last modified: 6 Juni 2020
Close