25.1 C
Yogyakarta
19 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Berbagi Makanan Dengan Aman Selama Pandemi

(Kesehatanmu, kepentinganku).

Setiap orang punya hak untuk takut, cemas dan sejenisnya. Kecemasan bahkan merupakan sikap primordial, yang sah untuk ada dan aktif bekerja. Sangat wajar jika manusia khawatir dan takut akan hal yang tidak bisa dia pahami dan tidak dilihatnya secara langsung.

Namun tidak selalu rasa cemas mendapatkan tempat, bahkan tidak jarang dibungkam, atau ditutup-tutupi. Akibatnya, kecemasan tidak dapat diekspresikan, dan sebaliknya justru perilaku yang sebaliknya. Memang kecemasan yang berlebihan tidak perlu, namun tanpa sedikitpun rasa cemas sama halnya menghilangkan kewaspadaan.

Pandemi global Covid-19 memberikan keadaan, dimana virus tidak dapat diketahui sedang ada dimana, ada pada diri siapa (dari mana) atau siapa yang menjadi pembawanya. Hal ini merupakan kenyataan. Per hari ini, jumlah korban dunia disebut hampir delapan juta orang terpapar Covid-19. Tentu seharusnya keadaan ini, menimbulkan sikap waspada yang lebih tinggi.

Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang belum menganggap pandemi ini sebagai suatu masalah atau berbahaya bagi mereka. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya kegiatan yang menurut protokol kurang urgent, seperti berkunjung, memberi sesuatu pada tetangga atau keluarga di luar rumah. Memang sekilas, terlihat aman serta biasa saja. Namun demikian, di dalam situasi ini, ada baiknya menjadi lebih waspada terhadap apa yang masuk dan keluar dari rumah kita.

Salah satu soal yang kerap menjadi pertanyaan adalah apakah virus dapat menyebar melalui barang-barang, khususnya makanan? Jika bisa, lantas bagaimana seharusnya kita bersikap, agar tidak cuek, dan juga tidak ekstra khawatir.

Kehati-hatian merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang seharusnya dilakukan. Dalam hal mengirim barang atau menerima barang (makanan), adakah langkah-langkah tersendiri yang menunjukan kehati-hatian pada sesuatu yang diberikan pada kita dari luar?

Bolehkah Kita Memberi Orang Lain Makanan

Ada pertanyaan yang diam-diam muncul dalam diri warga. Apakah boleh berbagi makanan? Apakah membagi makanan adalah hal yang baik dan aman? Apakah bisa membagi makanan untuk ibu hamil? Atau untuk mereka yang sedang sakit?

Jawabnya tentu boleh atau hal tersebut bisa dan boleh dilakukan, bahkan merupakan hal baik, karena menunjukan rasa kepedulian pada sesama dan dapat meningkatkan jalinan persaudaraan.

Bagaimana ilmuwan menjawab pertanyaan tersebut? Menurut ilmuwan, hingga kini belum terdapat kasus penularan akibat mengkonsumsi makanan atau minuman. Namun demikian, tetapi kita harus tetap berhati-hati oleh karena tidak hanya virus yang perlu kita khawatirkan, namun juga penyakit yang bisa timbul akibat mengkonsumsi makanan tertentu, dan untuk mengobati sakit akibat makanan tersebut memerlukan kita untuk keluar.

Terdapat beberapa tips untuk menyiapkan, mengirim dan menerima makanan yang dapat membantu mengurangi risiko penularan atau tertular virus atau penyakit yang disebabkan oleh makanan.

Pertama, ikuti pedoman keamanan makanan dan pertimbangkan jenis makanan yang mudah menimbulkan alergi. Maksudnya makanan yang hendak diberikan ke orang lain, haruslah makanan yang aman dan tidak membawa penyakit.

Kedua, ikuti protokol standar pembuatan makanan, yakni bersih, terpisah, masak, di tempatkan atau di bungkus secara aman. Jadi makanan yang dibuat, harus dipastikan di masak dengan baik dan higienis.

Ketiga, ikuti protokol kesehatan, yakni bersihkan tangan secara menyeluruh dan teratur, serta hindari cipratan air dari saluran pernapasan (batuk atau bersin).

Selain itu, pada saat membuat makanan, kita tidak perlu menggunakan masker. Namun bila dirasa ini dapat mencegah menyentuh wajah atau menambah rasa tenang bagi kita, serta ketika merasa tidak enak badan, kenakanlah.

Bila kita memiliki alergi terhadap makanan, sedari dini katakan, karena pandemi ini bukan saat yang tepat untuk mendapat reaksi alergi. Demikian pula jangan membawa atau memasak makanan apa pun yang tidak bisa dimakan kelompok tertentu. Jika ragu, tanyakan sebelum mengantarkan makanan.

Jangan gunakan sabun (atau bahkan pemutih) untuk membersihkan sayuran dan buah-buahan, oleh karena ini bisa menyebabkan sakit ketika dikonsumsi. Cukup bilas dengan banyak air dingin yang mengalir.

Kesemuanya merupakan prinsip dasar, dengan maksud agar makanan yang dibuat, atau makanan yang disiapkan untuk orang lain, benar-benar makanan yang terbuat dari bahan yang baik, dan diolah dengan prosedur yang sehat.

Membungkus, Mengantar, Membuka

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, virus corona diperkirakan penyebaran utamanya melalui tetesan yang dihasilkan ketika orang batuk atau bersin. Sehingga resiko besar bisa hadir pada pengiriman langsung.

Dengan demikian, sangatlah penting bagi pengantar untuk mengenakan masker dan menempatkan makanan di lokasi aman dari kemungkinan terkena percikan droplet, yaitu berjarak sekitar 2 meter atau lebih pada saat mengantarkan makanan.

Sampai lokasi, sebaiknya makanan diletakkan di tempat yang disediakan, sehingga penerima paket makanan dapat mengambilnya sendiri, agar terhindar dari kontak langsung. Penghindaran ini bukan bersifat satu arah, tetapi dua arah.

Ketika membungkus makanan, bungkuslah dalam bungkus plastik atau aluminium foil, atau dalam wadah yang bisa dicuci dan digunakan kembali. Hal ini dapat mencegah kontaminasi selama pengiriman.

Jika menerima paket makanan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kita membukanya. Saran dari ahli adalah: bawa paket tersebut dan letakkan pada tempat tertentu, kemudian keluarkan wadahnya. Buka wadah makanan di tempat tadi, dan pindahkan makanan ke mangkuk, piring, atau salah satu tempat penyimpanan yang kita punya. Buang bungkus, dan cuci wadah dengan air sabun yang panas jika ingin digunakan kembali (buang jika dibutuhkan lagi). Bersihkan tempat menaruh bungkus tadi. Cuci tangan dengan sabun. Lalu santaplah makanan tersebut.

Tentunya macam-macam langkah ini tidak semuanya akan dipraktikkan secara terus menerus. Namun dengan langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketenangan pikiran dari kemungkinan tertular virus. Oleh karena belum ada (semoga tidak ada) kasus penularan lewan konsumsi makanan atau minuman, maka disarankan agar kita tidak perlu terlalu stres. Kita tidak perlu terlalu khawatir akan menerima atau mengirimkan makanan pada siapa saja. Namun hal yang terpenting adalah selalu menjaga diri dan selalu mengingatkan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Karena kesehatan orang lain sekarang, dapat dikatakan “ada di tangan kita” juga.

Pentingnya Kesadaran Bersama.

Semua prosedur tersebut, tetap akan menjadi prosedur di atas kertas. Rasa khawatir, jika tidak dibuat menjadi lebih kreatif, justru akan menimbulkan penyakit baru. Rasa khawatir diperlukan, namun rasa khawatir yang terkendali dan diubah menjadi kehati-hatian. Dengan kehati-hatian, rasa ingin tahu akan terus dipelihara, dan membuat kita terus mencari tahu, bagaimana pola hidup yang aman di masa pandemi global ini.

Dalam pada itu, ada kebiasaan yang perlu ditumbuhkan, dalam kegiatan kirim mengirim makanan, yakni: Pertama, agar si pengirim makanan ada dalam kesadaran penuh, sehingga makanan yang dikirim bukan saja makanan enak dan makanan yang sedang hit, tetapi lebih penting lagi, makanan yang dibuat sesuai protokol kesehatan.

Kedua, agar si pemberi atau pengantar makanan, juga mengingatkan secara langsung pada penerima barang (makanan) tersebut: (1) mengingatkan penerima untuk mencuci tangan setelah membuka makanannya. Atau mencuci tangan sebelum menyentuh atau mengambil maknanan tersebut; dan (2) memberitahu bahwa makanan tersebut dibuat secara aman. Hal ini penting, untuk membiasakan saling mengingatkan atau agar terjadi saling menjaga antar satu sama lain. (sumber situs nytimes)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA