Ditulis oleh 10:41 am COVID-19

Berbagi

Dalam situasi krisis kesehatan dewasa ini, peristiwa yang mengharukan sekaligus membanggakan terjadi di banyak tempat.

Pernahkah membayangkan warung soto membagi soto secara gratis? Pada satu hari tertentu, dalam hal ini, hari Jum’at (lihat link) warung tetap melayani seperti hari biasa, namun pada hari tersebut, siapa saja yang makan soto tersebut gratis, alias tidak bayar. Tentu saja yang datang adalah mereka yang benar-benar membutuhkan. Jika pun ada yang kebetulan lewat dan sedang ingin makan soto, maka yang bersangkutan dapat ikut menikmati.

Mengapa hal tersebut dilakukan? Jawabnya sangat sederhana, yakni sebagai tanda rasa syukur. Dagangan yang laris selama 6 hari, merupakan rejeki yang tiada bernilai. Sang pedagang tidak pernah mengeluarkan biaya iklan untuk agar konsumen datang. Pembeli bergerak ke warungnya, seperti ada yang menggerakkan. Oleh sebab itulah, sebagai tanda syukur, 1 hari dalam seminggu, digunakan untuk “mengucapkan” dengan cara membagi rejekinya.

Dalam situasi krisis kesehatan dewasa ini, peristiwa yang mengharukan sekaligus membanggakan, juga terjadi di banyak tempat. Ada pengusaha yang tergerak membantu meringankan beban dari mereka yang paling terdampak secara ekonomi, dalam bentuk membagikan sembako. “Hari ini ada 100 paket sembako yang saya bagikan untuk teman-teman pedagang, tukang becak, dan juru parkir di sekitar Pasar Jongke. Kegiatan ini akan terus berkelanjutan hingga pandemi ini berakhir. Insya Allah doakan saya,” terang Bravo. (lihat link).

Tentu langkah tersebut tidak hanya dilakukan oleh mereka yang jelas punya kemampuan lebih, namun dapat pula datang dari generasi muda yang terpanggil. Gabungan organisasi otonom Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dan Aisyiyah Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan sedekah bahan pokok kepada masyarakat kurang mampu sebagai upaya menolak bala atas musibah wabah COVID-19. Dikatakan, “Kami yakin sedekah adalah salah satu cara untuk menolak bala atau musibah sebagaimana diajarkan dalam Islam,” katanya (lihat link).

Kita yakin ada banyak kesadaran yang muncul di banyak tempat. Suatu kesadaran yang datang dari rasa keterpanggilan untuk menjadi bagian dari solusi dan menjadi bagian orang-orang yang mampu bersyukur. Dalam keadaan normal, tindakan berbagi, dapat dimengerti sebagai upaya untuk ambil bagian mengatasi persoalan sosial yang ada, yakni “adanya kenyataan dimana sebagian dari warga masih hidup dalam kekurangan”.

Semangkok soto setiap hari Jum’at pasti bukan keseluruhan solusi. Namun langkah tersebut menjadi tanda bahwa ada ikatan antar warga, sehingga yang kekurangan tidak merasa sendiri. Upaya tersebut tentu diharapkan dapat mengundang yang lain, dan pada gilirannya mengundang kebijakan yang dapat mengatasi keseluruhan persoalan.

Secara ideal dalam kehidupan bernegara dengan sistem demokrasi, seharusnya semua persoalan warga dapat diatasi dengan kebijakan yang baik. Suatu kebijakan yang sepenuhnya didasarkan pada aspirasi warga. Namun, hal tersebut hanya mungkin pada masa normal. Pada masa sulit seperti sekarang, dimana semua pihak terkena dampak wabah, termasuk para aparat negara, persoalan tentu berbeda. Wabah tidak mungkin hanya diselesaikan oleh satu pihak. Harus ada kerjasama semua pihak, yang didasarkan oleh kesadaran bahwa wabah merupakan masalah kita bersama dan hanya dapat diatasi dengan kerjasama semua elemen bangsa, tanpa terkecuali.

Langkah pengusaha berbagi, angkatan muda yang tergerak, para ibu-ibu yang berinisiatif membuat masker kain dan dibagikan secara gratis, atau pembagian hand sanitizer, dan berbagai bentuk gotong royong untuk saling meringankan beban bersama, merupakan bagian dari kesadaran yang telah bekerja. Kita yakin bahwa kesadaran tersebut dilandasi sikap bersyukur yang diwujudkan dalam bentuk saling berbagi. Jika pergerakan saling berbagi dapat melampaui kecepatan penyebaran wabah, maka kita percaya bahwa masalah akan dapat diatasi dengan baik. Semoga wabah segera berlalu.

(t.red)

(Visited 12 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 6 April 2020
Close