Ditulis oleh 8:49 am SAINS

Berbuat Baik Menyehatkan Diri Kita

Suatu perilaku prososial, yakni altruisme, kerja sama, kepercayaan, dan kasih sayang, merupakan bagian yang penting bagi masyarakat yang harmonis dan baik.

Seringkah anda melakukan tindakan baik bagi orang lain? Menurut sebuah studi terbaru yang dikeluarkan oleh American Psychological Association, melakukan tindakan atau perbuatan baik meningkatkan kesehatan mereka yang melakukannya, meskipun tidak secara keseluruhan. Tingkat timbal baliknya pada diri pemberi bantuan bergantung juga pada banyak faktor. Diantaranya jenis kebaikan yang dilakukan, definisi akan kesejahteraan, usia pemberi bantuan, jenis kelamin, serta faktor demografis lainnya.

Bryant P.H. Hui, PhD, asisten profesor peneliti di Universitas Hong Kong, yang merupakan penulis utama studi mengatakan bahwa suatu perilaku prososial, yakni altruisme, kerja sama, kepercayaan, dan kasih sayang, merupakan bagian penting bagi masyarakat yang harmonis dan baik. Kesemua ini merupakan bagian dari budaya besar umat manusia. Di dalam analisis studi tersebut dikatakan bahwa hal tersebut juga berkontribusi pada kesehatan mental dan fisik manusia.

Sebelumnya telah terdapat sebuah studi yang menunjukkan bahwa orang yang terlibat dalam perilaku prososial lebih bahagia dan memiliki kesehatan mental dan fisik yang lebih baik daripada mereka yang tidak menghabiskan banyak waktu untuk membantu orang lain. Namun demikian, tidak semua studi menemukan bukti untuk hubungan tersebut, dan kekuatan dari hubungan tersebut memiliki banyak variasi.

Untuk lebih memahami apa yang mendorong variasi tersebut, Hui serta peneliti lainnya melakukan meta-analisis dari 201 studi independen, yang terdiri dari 198.213 peserta, yang membahas hubungan antara perilaku prososial dan kesejahteraan. Secara keseluruhan, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan sederhana antara keduanya. Meski ukuran dari efeknya kecil, menurut Hui, namun tetaplah memiliki makna bila dilihat dari banyaknya orang yang melakukan perbuatan baik setiap harinya.

Menurut Hui, lebih dari seperempat orang Amerika yang menjadi sukarelawan sebagai contohnya. Ukuran dari efek yang sederhana tetap dapat memberikan dampak yang signifikan pada tingkat masyarakat ketika banyak orang berpartisipasi atau ikut bergabung melakukan perilaku tersebut.

Dengan menggali lebih dalam penelitian tersebut, Hui dan peneliti lainnya menemukan bahwa tindakan kebaikan acak, seperti membantu tetangga kita membawa barang belanjaan, memiliki kaitan yang lebih erat dengan kesejahteraan secara keseluruhan daripada perilaku prososial formal, seperti melakukan kegiatan amal yang terjadwal. Hal tersebut, menurut Hui, mungkin dikarena bantuan informal terkesan lebih santai dan spontan serta memiliki kemungkin untuk lebih mudah mengarah pada pembentukan hubungan sosial. Pemberian informal juga lebih bervariasi dan cenderung tidak membosankan atau monoton, katanya.

Para peneliti juga menemukan hubungan yang lebih kuat antara kebaikan dengan sesuatu yang dikenal sebagai kesejahteraan eudaimonik (berfokus pada aktualisasi diri, yakni menyadari potensi seseorang dan menemukan makna dalam hidup), bila dibandingkan dengan kebaikan dan kesejahteraan hedonis (yang mengacu pada kebahagiaan dan perasaan positif).

Efeknya, menurut Hui, memiliki banyak variasi berdasarkan pada usia. Pemberi bantuan yang memiliki usia muda terlihat memiliki tingkat kesejahteraan yang menyeluruh, kesejahteraan eudaimonik, dan fungsi psikologis yang lebih tinggi. Sementara mereka yang lebih tua memiliki tingkat kesehatan fisik yang lebih tinggi.

Selain itu, wanita menunjukkan hubungan yang lebih kuat antara prososialitas dan beberapa ukuran kesejahteraan bila dibandingkan dengan pria. Hal ini mungkin karena wanita secara stereotip diharapkan untuk lebih peduli dan lebih memberi, sehingga dengan demikian memperoleh perasaan baik yang lebih kuat untuk bertindak sesuai dengan norma-norma sosial tersebut.

Pada akhirnya para peneliti menemukan bahwa studi yang dirancang khusus untuk mengukur hubungan antara prososialitas dan kesejahteraan menunjukkan hubungan yang lebih kuat diantara keduanya bila dibandingkan dengan studi yang menganalisis data dari survei besar lainnya yang tidak dirancang khusus untuk mempelajari topik tersebut.

Untuk studi selanjutnya, disarankan agar peneliti memeriksa beberapa moderator penting lainnya yang diabaikan oleh literatur penelitian sejauh ini. Sebagai contoh, efek potensial dari etnis dan kelas sosial dari pemberi bantuan. Para peneliti mungkin juga perlu memeriksa apakah lebih banyak prososial merupakan hal yang baik, atau apakah ada “tingkat ideal” dari prososialitas di mana terlalu banyak kebaikan dan memberi akan merugikan pemberi bantuan tersebut. (Disadur dari situs sciencedaily)

(Visited 20 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 7 September 2020
Close