Berjamaah Melawan Covid-19 Lebih Bernilai Tambah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Begitulah isyarat nubuwah, bahwa berjamaah itu memiliki 27 derajat kebaikan. Melawan Covid-19 berarti kita menghentikan kekejian dari sikap abai, serta kemungkaran dari aspek pemaparan oleh dendam penderita.

SESUATU yang tidak bisa dilakukan sendiri akan mudah dilakukan dengan bekerjasama dan bekerja bersama-sama. Sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri pun akan menjadi lebih ringan ketika dikerjakan secara bersama-sama atau bekerjasama. Berbagai peran sesuai kompetensi masing-masing. Hasil kerja bersama atau berjamaah akan menjadi lebih bagus, lebih sempurna dari hasil kerja sendirian. Baginda Nabiyullah Muhammad saw mewasiatkan bahwa sholat yang dikerjakan secara berjamaah memiliki derajat kebaikan (pahala) 27 kali lebih tinggi dari jika dikerjakan sendirian (munfarid). Pada nubuwah yang lain kita temukan firman Allah SwT (QS. 29:5) “Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”. Apa hubungannya sholat, perbuatan keji dan mungkar dengan pandemi Covid-19? Mau tahu?

Ketika kita abai terhadap penderita Covid-19, membiarkan mereka mengadu nasib antara hidup dan mati, mengingat hingga hari ini belum ditemukan vaksin (obat corona), itu tindakan keji. Demikian juga, ketika seorang penderita putus asa oleh sebab abainya masyarakat terhadap sakit Covid-19 yang dideritanya kemudian memutuskan untuk menularkan kepada orang sebanyak-banyaknya, itu namanya kemungkaran. Oleh karena itu kita tidak boleh abai tidak juga lebay. Covid-19 harus kita lawan secara berjamaah dan jangan sendiri-sendiri, mahal.

Mari kita telusuri, apakah mereka yang dinyatakan ODP atau PDP kemudian diisolasi atau dikarantina benar-benar berjuang melawan Covid-19 secara sendirian, tidak bukan? Kenyataannya, kasus ODP yang dialami satu keluarga di komplek perumahan sebelah. Para tetangga di komplek perumahan itu sepakat untuk menanggung kebutuhan konsumsi makan dan asupan-asupan makanan keluarga tersebut selama masa karantina. Jika saja belanja konsumsi selama karantina per hari adalah Rp 200.000, maka selama 14 hari karantina diperlukan dana sebesar Rp 2.800.000. Darimana sumber dana itu diperoleh, tentunya dari dana berjamaah para tetangga komplek perumaham tersebut. Jika jumlah warga di perumahan tersebut 70an KK maka mereka hanya cukup saweran Rp 40.000. Murah dan cukup efektif untuk melawan Covid-19 sehingga tidak menular ke warga perumahan lain. Apakah warga perumahan tersebut dalam menjaga dan meladeni keluarga ODP tersebut sendirian? Oh tidak, mereka berjamaah dengan satuan tugas Covid-19 kecamatan.

Benarkah berjamaah melawan Covid-19 akan memiliki nilai tambah? Bukti spektakular sebagaimana ditunjukkan oleh besaran perolehan dan besarnya belanja Muhammadiyah dalam melawan Covid-19. Laporan per bulan April adalah sebesar 123 M rupiah. Bahwa dana tersebut adalah dana dari spirit berjamaah anggota dan simpatisan Muhammadiyah yang dititipkan melalui LazisMu untuk melawan Covid-19. Dimana untuk melawan Covid-19 Muhammadiyah membentuk satuan tugas Muhammadiyah Covid-19 Command Centre (MCCC) dari tingkat Pusat (Nasional) hingga Ranting (Desa-dusun). Sejumlah dana tersebut bukan hanya stategis namun sangat taktis dibelanjakan untuk segala kepentingan melawan Covid-19. Dari belanja alat kesehatan, peningkatan layanan kesehatan kepada masyarakat, pemberian sembako kepada kaum dhuafa, dan lain-lain. Kalu mau tahu persisnya untuk belanja apa saja lakukan saja audit di MCCC atau LazisMu. Dan pengumpulan dana untuk melawan Covid-19 melalui program MCCC hingga hari ini masih di buka. Artinya, sampai MCCC dinyatakan bubar entah berapa bulan atau berapa tahun ke depan dana dari Muhammadiyah untuk melawan Covid-19 masih akan terus bertambah.

Dana 123 M itu hanya dana yang terdata di LazisMu Pusat, belum termasuk partisipasi anggota dan simpatisan di tingkat Desa (PRM) dan Kecamatan (PCM) yang tidak terlaporkan ke tingkat Pusat. Di desa penulis tinggal, PRM memberikan subsidi sembako bagi masyarakat yang ekonominya terdampak Covid-19: tukang ojek, buruh bangunan, buruh pabrik, dan lain-lain. Meski tidak banyak hanya sejumlah 400 paket yang besarannya Rp 100.000 atau sama dengan 40 juta rupiah. Itu belum termasuk dana aksi bersih-bersih masjid dengan penyemprotan disinfektan per minggunya. Sementara PCM-nya sendiri, dari yang penulis ketahui menggelontorkan dana untuk melawan Covid-19 sejumlah 124 juta rupiah.

Kontribusi dana perorangan (munfarid) untuk melawan Covid-19, dari kelompok perusahaan Wardah sebesar 40 M rupiah yang dititipkan melalui RS Pelita Harapan. Dari Koh Steven seorang mualaf di Kabupaten Sleman sebesar 19 M rupaih yang dititipkan melalui Mualaf Centre. Meski kelihatan perorangan akan tetapi mereka tetap berjamaah, karena mempercayakan dananya kepada pihak lain.

Megawati Soekarno Putri dan jajarannya menggelar konser kebangsaan yang digagas untuk penggalangan dana berjamaah. Saweran memperoleh dana 4 M rupiah. Hanya saja isu perolehan dana berjamaah itu bukan untuk melawan Covid-19 secara langsung, akan tetapi diperuntukkan bagi seniman. Satu gagasan yang kurang strategis bahkan tidak menyasar untuk melawan Covid-19. Sebab isu Covid-19 adalah pandemi atau global (world).

Jika boleh menakar dari ketiga model pendanaan dan penyalurannya untuk melawan pandemi Covid-19, terlihat bahwa dana berjamaah pada Muhammadiyah terlihat lebih power full dalam arti perolehan dana lebih banyak, melibatkan banyak pihak, dan yang mendapat manfaat juga banyak. Begitulah isyarat nubuwah, bahwa berjamaah itu memiliki 27 derajat kebaikan. Melawan Covid-19 berarti kita menghentikan kekejian dari sikap abai, serta kemungkaran dari aspek pemaparan oleh dendam penderita.

Kehidupan berjamaah pada tatakelola kenegaraan di negeri negara tercinta ini rasanya agak terganggu karena ketidakkhusyukan imam. Untuk melawan pandemi Covid-19 dilakukan dengan mengeluarkan Perpu Corona yang substansinya justru memberi peluang orang-orang yang dilibatkan untuk bermain anggaran negara dengan tanpa tanggung jawab. Oleh sebab penggunaan dana 405 T rupiah untuk melawan Covid-19 itu oleh siapa saja yang ditunjuk presiden bebas audit BPK. Meski DPR RI sebagai wakil rakyat mengamini, akan tetapi rakyat?. Oleh sebab dana sebesar itu tidak memberi nilai tambah bagi rakyat dalam melawan Covid-19. WallaHu a’lam bishowab.

Sugeng Nugroho Hadi, MM.

Sugeng Nugroho Hadi, MM.

Kepala P3M STEI Hamfara Yogyakarta

Terbaru

Ikuti