Ditulis oleh 11:03 am COVID-19

Berjuang Melawan Covid-19

Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung diseluruh dunia. Bagaimana kita melawan Covid-19?

Sejak dinyatakannya Covid-19 sebagai pandemi, semua tulisan status saya di Facebook tidak lepas dari topik wabah tersebut. Tulisan-tulisan tersebut kebanyakan berdasar pemahaman terhadap banyak artikel ulasan dan berita yang datang dari berbagai sumber termasuk sumber-sumber di media sosial. Pemahaman itu berkembang dari hari ke hari seiring dengan semakin banyaknya informasi didapat dari  pakar berbagai bidang ilmu. Artikel ini merangkum status-status Facebook saya tersebut dari awal perkembangan Covid19 di Indonesia.

Membaca WHO mengumumkan bahwa Covid-19 sudah bersifat pandemi, sebagai pendidik di perguruan tinggi saya melihat sisi kesempatan bagi peneliti untuk fokus pada sektor kesehatan. Di sektor ini, semua bidang keilmuan terlibat. Teman-teman eksakta perlu segera meneliti perilaku virus terkait dan juga mengembangkan peralatan medis.  Teman-teman non eksakta perlu segera memetakan pola pergerakan anggota masyarakat agar dapat membantu pemerintah mengambil keputusan optimal untuk mencegah meluasnya wabah.

Sampai sekarang dari hasil-hasil penelitian ilmiah masih diyakini bahwa Covid-19 menyebar melalui transfer cairan dari hidung dan mulut seseorang ke orang lain. Data-data statistik menunjukkan bahwa angka kematian akibat terinfeksi Covid-19 tidak setinggi wabah corona virus sebelumnya seperti MERS dan SARS. Namun demikian, karena mudah menular, tanpa pencegahan yang memadai akan banyak orang terinfeksi dalam waktu yang bersamaan. Dikhawatirkan akan terjadi ledakan jumlah pasien sehingga fasilitas kesehatan tidak mencukupi. Akibatnya akan banyak orang sakit yang meninggal karena tidak mendapatkan perawatan yang memadai.

Nasehat umum pencegahan menularnya wabah adalah pakai masker di tempat umum, jaga jarak minimal 2 meter (ada yang menyebut 1 meter cukup), cuci tangan setelah memegang benda umum seperti pegangan pintu dan tombol mesin ATM, dan menghindari kerumunan orang. Pertama yang terpikirkan waktu itu adalah masjid. Tiap kali akan memulai sholat berjamaah, biasanya imam mengingatkan makmum agar merapikan dan merapatkan shaf. Apakah peringatan imam akan menjadi jarangkan jarak shaf dan renggangkan barisan?

Pada mulanya masker hanya dianjurkan bagi petugas medis dan orang yang sakit, sekarang dianjurkan dikenakan semua orang yang ada di ruang publik. Boleh jadi nanti setelah masker diwajibkan dan masyarakat sudah terbiasa pakai masker, tidak melepaskannya sebelum sampai di rumah kembali, anjuran jaga jarak bisa dilonggarkan dengan tetap memegang aturan cuci tangan/mandi setelah bersentuhan benda yang disentuh orang lain. Shaf sholat bisa dirapatkan asal semua pakai masker. Masyarakat cepat tanggap dengan berbagai usulan seperti membawa sajadah ukuran minimal masing-masing dan melakukan desinfektisasi lantai masjid setiap selesai digunakan sholat berjamaah. Bilik desinfektisasi yang mulanya banyak diterapkan kemudian dilarang karena berpotensi memberi masalah kesehatan lain ke warga.

Masyarakat cepat tanggap dengan berbagai usulan seperti membawa sajadah ukuran minimal masing-masing dan melakukan desinfektisasi lantai masjid setiap selesai digunakan sholat berjamaah.

Sampai sekarang masih diyakini bahwa dalam tubuh mereka yang sembuh dari infeksi Covid-19 terbentuk sistem kekebalan yang dapat mencegah terjadinya infeksi ulang, setidaknya dalam jangka pendek. Dengan keyakinan ini, ada yang berpendapat bahwa wabah akan teratasi dengan sendirinya saat banyak orang menjadi kebal. Tidak semua yang terinfeksi Covid-19 menjadi sakit, BNPB menyebutnya sebagai orang tanpa gejala (OTG). Sebagian besar OTG tetap merasa sehat dan pada akhirnya dapat menghilangkan virus yang ada di tubuhnya. Sebelum hilang, dia bisa menularkan virus itu ke orang lain.

Dua pemahaman ini, cepatnya penularan dan tumbuhnya kekebalan pada orang yang terinfeksi menjadi dasar prediksi cara penanganan wabah. Cara pertama dengan yang oleh masyarakat disebut lockdown dan oleh pemerintah disebut dengan PSBB. Kontak sosial antar warga dibatasi seketat mungkin. Kegiatan luar rumah hanya boleh untuk keperluan kesehatan dasar: makan dan obat-obatan bagi yang membutuhkan. Cara kedua mengharapkan sistem kekebalan warga bisa tumbuh lebih cepat dengan melonggarkan pembatasan kontak sosial. Masing-masing negara menerapkan dengan caranya sendiri dengan hasil yang berbeda-beda. Saat ini kita masih dalam tahap saling mempelajari yang diterapkan di negara-negara lain sekaligus juga memperhatikan watak masing-masing warga negaranya.

Dalam situasi yang masih baru karena wabah penyakit yang terjadi sebelumnya mungkin tidak dialami warga Indonesia yang hidup sekarang, banyak reaksi yang diungkap secara spontan. Ada yang membuat pernyataan: “Saya tidak takut korona, saya hanya takut pada Tuhan.”

Ada juga yang menulis: “Saya tidak takut korona, saya takut tidak bisa menafkahi keluarga.”

Ungkapan-ungkapan ini bila difahami dengan pemikiran jangka panjang akan bermakna: “Saya takut Allah murka karena kecerobohan saya bisa mencelakai orang banyak.”

“Kita perlu berkorban mengencangkan ikat pinggang demi kelangsungan nafkah keluarga di masa mendatang.”

Memahami berbagai reaksi masyarakat tersebut mengingat saya pada bahasan ayat Qur’an

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al Anfaal 25)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Al-Baqarah: 11-12)

Dengan melihat luasnya penyebaran virus, saya berpikir tidak ada kesempatan lagi untuk mencegah perluasannya ke depan. Kecil peluang kita bisa kembali ke masa sebelum ada wabah ini. Mengamati yang terjadi di banyak negara baik sebaran virusnya maupun kebijakan yang diterapkan pemerintah masing-masing, kita perlu mempersiapkan diri dengan tindakan optimal untuk hidup normal dengan ancaman Covid-19 disekitar kita. Saya menyebutnya move-on. Para pakar mulai memperkenalkan istilan new normal.

Kecil peluang kita bisa kembali ke masa sebelum ada wabah ini.

Sepanjang jalan kehidupannya, manusia bersentuhan dengan banyak penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Dari sekian banyak bakteri dan virus, ada yang berbahaya ada pula yang hidup dan membantu kehidupan dalam tubuh kita. Di antara yang kita berbahaya kita mengenal polio, malaria, DBD, dan lain-lain. Sakit yang disebabkan oleh bakteri dapat diobati dengan antibiotik. Sebagian penyakit yang disebabkan oleh virus dapat dicegah dengan imunisasi. Untuk menghadapi aids dan dbd manusia belum menemukan obat mujarab dan vaksinya tapi secara umum tidak terlalu sulit membatasi media penyebarannya yakni transfer darah melalui area luka di penyakit aids dan media nyamuk di dbd. Meskipun belum sampai terbasmi, kita berhasil menekan jumlah pasien dbd dengan upaya mengurangi perkembangbiakan nyamuk.

Penularan Covid-19 tidak mudah dibatasi. Virus ini menyeberang dari orang ke orang melalui cairan dari mulut dan hidung yang tersembur sangat halus saat kita berbicara, batuk, atau bersin. Selain karena terpapar langsung, orang bisa terinfeksi dari tangan yang menyentuh benda yang terkena cairan orang lain yang sudah terinfeksi sebelumnya. Untungnya virus itu tidak bisa menembus kulit, dia menginfeksi orang saat tangan yang terkena virus menyentuh mulut, hidung, atau mata sendiri. Itu lah sebabnya kita diminta untuk sering-sering cuci tangan sebelum makan/memegang makanan, kucek-kucek mata, atau menyentuh bagian dalam dari hidung. Untuk urusan wabah ini, kita tidak bisa bilang resiko ditanggung sendiri. Kalau ada yang tidak disiplin, resiko akan kena kemana-mana. Keluarga, tetangga, rekan kerja, semua ikut menanggung resikonya. Yang jelas sengsara kerjanya adalah pekerja medis yang harus pakai pakaian rapat selama bertugas.

Perkiraan saya kondisi tidak akan pulih dalam waktu dekat. Beberapa aktivitas yang mendatangkan kerumunan orang banyak seperti konser musik, pertandingan olahraga, sekolah, dan wisata, termasuk wisata kuliner perlu dibatasi. Ini berarti akan banyak orang kehilangan pekerjaan yang biasa dia kerjakan sebelum ada wabah. Kita perlu berpikir keras untuk berinovasi mencari bentuk-bentuk kesibukan baru yang dapat dikerjakan dengan pembatasan-pembatasan untuk keperluan mencegah perluasan wabah. Para guru perlu mengembangkan materi untuk pembelajaran siswa di rumah (home scholing).

Para guru perlu mengembangkan materi untuk pembelajaran siswa di rumah (home scholing).

Baru saja saya dapat kiriman video orang-orang terlantar di pelabuhan Bakauheni. Mereka merasa perlu menyeberang karena tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan untuk menyambung hidup. Pulang ke desa menjadi salah satu cara agar bisa bertahan dengan menumbuhkankan sumber-sumber bahan makan sendiri. Masalahnya, perpindahan penduduk antar daerah beresiko tinggi menyebarkan wabah. Karena itu transportasi dibatasi. Saya mengusulkan untuk sementara kita bisa pakai terminal sebagai ruang karantina. Kalau sudah menjadi keputusan sebaiknya dicari solusi selain pelonggaran.

Saya perhatikan di video itu masih bisa diatur jarak dua meter satu sama lain. Mungkin bisa dibelikan dipan kardus agar mereka bisa istirahat dengan layak. Ternyata sudah ada perusahaan lokal yang memproduksinya. Perlu juga disiapkan dapur umum, sampaikan ke masyarakat itu sebagai ruang karantina. Dengan pernyataan alih fungsi itu, masyarakat insya Allah bisa diyakinkan tidak ada pelonggaran. Emperan itu ideal sebagai ruang karantina karena terbuka, tidak mengakumulasi virus/bakteri dalam ruang tertutup. Mereka yang sudah terlanjur menginap beberapa hari di terminal tersebut sementara dapat diberi kesibukan menanam tanaman pangan di lahan-lahan taman terbuka sekitar.

Untuk kampung-kampung di perkotaan, dengan teknologi Internet masyarakat mulai saling belajar dari masyarakat senasib di negara lain. Saat ini mulai tumbuh inovasi saling membantu antara lain dengan menyediakan tempat khusus di ruang publik. Mereka yang berkecukupan bisa berbagi dengan menempatkan paket-paket bahan makan di tempat khusus tersebut. Mereka yang memerlukan dapat mengambil secukupnya. Sebagai penutup mari kita berdoa.

Ya Allah, kami memahami bahwa virus itu makhlukMu, tunduk pada sunnahMu, berilah kami petunjuk bagaimana cara menghadapinya.

Berikan petunjuk pada dokter dan perawat
cara terbaik untuk menangani pasien
dan menjaga kesehatan diri mereka sendiri.

Berikan petunjuk pada para ahli ilmu-ilmu kesehatan
yang sedang bekerja keras menggapai ilmuMu yang maha luas
agar mereka segera bisa menemukan
cara yang tepat untuk menyembuhkan yang sakit,
menjauhkan yang sehat dari penyakit.

Berikan petunjuk pada para pemimpin kami
serta alim ulama panutan kami,
agar mereka dapat memberi arahan yang tepat
tentang apa yang harus kami lakukan untuk menghindari meluasnya wabah ini.

Lapangkan lah hati kami semua
agar kuat, tabah, dan disiplin dalam
menjalani protokol menghadapi wabah ini
berikanlah petunjukMu pada kami
untuk berinovasi melanjutkan hidup kami
tanpa melanggar syariat agamaMu

Ampuni dosa-dosa kami yang sering khilaf menyombongkan diri.
Aamiin, ya Robbal Alamin.

(Visited 37 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 18 Mei 2020
Close