Berprasangka Baik Kepada Corona

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Semua makhluk di langit dan di bumi adalah ciptaan Allah s.w.t. Segala sesuatu awalnya diciptakan oleh-Nya. Tidak ada yang terjadi dengan sendirinya.

Wabah virus corona sudah menyebar ke seluruh dunia. Hampir semua negara merasakannya. Dampak yang sangat kita rasakan adalah di sektor sosial dan ekonomi. Ekonomi yang stagnan membuat banyak negara mengalami kerugian ribuan dolar AS. Korban meninggal dunia sudah ribuan orang. Hingga saat ini belum ada satu negarapun yang mau bertanggung jawab bagaimana wabah ini bisa muncul. Walaupun sudah jelas awal munculnya mulai dari kota Wuhan RRC, namun pihak pemerintah RRC tidak mau dikatakan sebagai pemicu munculnya wabah. Alih alih mengakui bahkan mengatakan bahwa warganya di Wuhan terpapar virus melalui seorang intelegen dari AS. 

Sebagian besar negara tidak memiliki persiapan atau penanganan yang berarti menghadapi wabah ini, seperti Italia, Inggris, Iran, Indonesia bahkan Amerika. Hanya sedikit negara yang relatif sigap menghadapi wabah ini misalnya Vienam dan Saudi Arabia. 

Tulisan singkat ini hendak mencoba mendudukkan kembali bagaimana seharusnya kita memandang virus sebagai makhluq Allah s.w.t. Selanjutnya mencoba utk mengambil sikap yang benar terhadap makhluq yang bernama virus corona ini. 

Corona sebagai makhluq Allah s.w.t.

Semua makhluk di langit dan di bumi adalah ciptaan Allah s.w.t. Segala sesuatu awalnya diciptakan oleh Allah s.w.t. Tidak ada yang terjadi dengan sendirinya. Doktrin rasionalisme materialisme dari Aristoteles menyatakan generatio spontanea (segala sesuatu ada dengan sendirinya) adalah ajaran berbahaya yang bisa menyesatkan manusia.

Sedangkan Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah s.w.t. temasuk sebutir virus.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْ ءَايٰتِهِۦ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَآبَّةٍ  ۚ وَهُوَ عَلٰى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٌ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syura 42: Ayat 29)

Manusia tidak bisa menciptakan dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Manusia hanya bisa merubah dari makhluk ciptaan Allah menjadi benda lain sesuai keinginan manusia. Misalnya dari tambang besi menjadi peralatan teknologi. Demikian juga di bidang biologi manusia bisa merubah makhluq dari keadaan alamiahnya menjadi makhluk baru sesuai keinginan manusia. Dengan rekayasa genetik buah yang kurang enak bisa direkayasa menjadi manis dan menarik warnanya. Mungkin manusia  juga bisa merubah makhluk Allah yang aslinya `ramah´ menjadi makhluk yang ´kejam´. Sebenarnya secara de jure tidak ada makhluk yang kejam atau jahat kecuali syetan atau iblis. Namun akibat kerakusan manusia bisa saja makhluk yang asalnya baik bagi manusia, berubah menjadi `jahat´. 

Air yang bermanfaat bisa berubah jadi banjir. Gas bumi yang bermanfaat bisa berubah menjadi musibah. Demikian juga dengan virus. Bisa jadi virus corona menginfeksi manusia adalah akibat ulah manusia. 

Singkatnya semua makhluk adalah ciptaan Allah s.w.t. sedangkan manusia hanya bisa merubah dari satu bentuk atau fungsi kepada bentuk dan fungsi lainnya. 

Virus itu bermanfaat. 

Segala sesuatu asalnya bermanfaat bagi manusia. Segala yang ada di langit dan di bumi sejatinya bermanfaat, maka jika manusia mendapatkan madhorotnya sebenarnya itu semua ulah manusia sendiri.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِى تَجْرِى فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 164)

Pemanfaatan alam yang berlebih lebihan akan merugikan manusia sendri. Pemanfaatan hutan yang belebihan akan menimbulkan banjir, kebakaran hutan serta kekeringan. Penambangan gas, minyak, bijih-bijih logam yang melampaui batas akan menimbulkan bencana yang tak terperikan. Demikian juga sikap manusia terhadap virus. Sebaiknya jangan berlebih lebihan. 

Karena belum ada temuan yang meyakinkan tentang asal mula timbulnya wabah virus corona ini, maka kita ambil analogi dari bakteri. Beberapa bakteri punya peranan mendekomposisi bahan organik. Dengan adanya bakteri maka buah buahan yang tadinya mentah bisa menjadi masak dan enak rasanya. Bakteri juga ada yang berguna untuk proses fermentasi susu. Misalnya Lactobacilus casey. Dengan fermentasi maka susu terasa segar dan bakteri yang ada akan membantu proses pencernakan. Jika fermentasi berlanjut maka buah atau susu akan mengalami pembusukan akhirnya bahan-bahan organik terdekomposisi menjadi unsur-unsur yang berguna bagi tanaman, yang dikenal dengan unsur hara. 

Sebagaimana kasus pada  bakteri tersebut, penulis berprasangka bahwa virus memiliki peran yang positif bagi kehidupan manusia. Dugaan penulis virus memiliki tugas untuk menguraikan bahan organik seperti  bakteri, namun bahan organik yang didekomposisi oleh virus adalah yang memiliki kandungan protein hewani. Dengan kemampuan mendekomposisi ini maka bahan-bahan organik yang berprotein hewani (yaitu hewan dan manusia) jika sudah mati akan mudah terurai menjadi bentuk yang sederhana dan bisa berubah menjadi unsur-unsur hara yang bermanfaat bagi tumbuh-tumbuhan. Lebih khusus tentang virus corona, bisa jadi secara alamiah virus ini ada di tubuh binatang tertentu, segera melakukan proses dekomposisi sesaat setelah binatang tersebut mati. Namun, karena  kerakusan manusia yang memakan bangkai-bangkai binatang liar, maka virus corona berkembang biak di tubuh manusia dengan pesat dan mampu menginfeksi tubuh manusia yang masih hidup. Sebenarnya secara alamiah virus corona tidak punya `tugas´ dari Sang Pencipta untuk mengganggu atau mencelakakan manusia. Akibat kerakusan manusia yang suka memakan bangkai binatang maka akhirnya virus menular dari satu manusia ke ribuan bahkan jutaan manusia di seluruh negara di dunia. 

Maka untuk terhindar dari virus corona ini, disamping mengikuti protokol yang sudah baku seperti memakai masker, menjaga jarak, tinggal di rumah, mencuci tangan, kita perlu berusaha untuk lebih dekat dengan alam. Salah satunya yaitu meningkatkan imun dengan  sering mengkonsumsi rempah-rempah seperti jahe, kunyit, sereh, dan menambah konsumsi vitamin yang ada dalam buah-buahan dan sayuran. 

Tidak perlu punya fikiran negatif bahwa virus corona ini makhluk yang jahat. Dia adalah makhuk Allah yang sejatinya bermanfaat bagi kehidupan. Wabah yang sedang terjadi adalah akibat ulah manusia yang melampaui batas. Sudah waktunya semua manusia melakukan taubat nasuha secara total. 

Wallahu alam. 

Anwar Tribowo

Anwar Tribowo

Pengurus KSPPS TAMZIS Bina Utama Wonosobo