Ditulis oleh 8:30 am COVID-19

Bersin Sesuai Ajaran Islam dan Qunut Dimasa Wabah Covid-19

Penularan Covid-19 dapat terjadi melalui droplet yang terbawa oleh bersin. Bagaimana etika bersin yang diajarkan oleh Islam?

Virus Corona atau disebut Covid-19 telah menggemparkan dunia dan telah berdampak pada semua lini kehidupan manusia. Proses penyebaranya melalui kontak dengan pasien yang terjangkit corona. Penularan  dapat terjadi melalui bersin, menguap, batuk yang mengeluarkan lendir. Terutama ketika lendir itu jatuh pada objek tertentu seperti kursi, meja, atau objek lainnya. Ketika tak sengaja disentuh orang dengan daya tahan tubuh rendah, maka bukan tidak mungkin akan tertular. Bahkan ada pendapat yang mengatakan melalui udara sehingga kalau menguap polusi dan mikroba akan tertarik masuk mulut. Oleh karena itu wajib menghindarinya dengan menjaga jarak, memakai masker, menjaga kebersihan dan tidak pergi ke daerah yang terjangkit Covid-19.

Pendidikan agama Islam hakikatnya adalah mendidikan Islam, memahami, menghayati dan mengubah seseorang menjadi Muslim yang benar. Intinya di sini adalah merubah sikap dan perilaku. Menyadarkan umat akan dirinya sebagai makhluk, agar di dalam gerak hidupnya selalu dalam koridor syariah atau aturan agama Allah, ber Amar Makruf Nahi Munkar dan harus menggunakan etika dan tuntunan islam.  Misal dalam hal makanan jangan makan yang haram jangan makan kelelawar, ular dll.  Kemudian dalam perilaku (yang paling sederhana) misal dalam hal bersin, batuk atau menguap pun ikut etika dan aturan yang dididikan Islam.

Berkaitan dengan Covid-19 ini Islam mendidikan kepada umatnya agar dapat merubah sikap menjadi muslim yang sesungguhnya diantaranya ialah berdoa dengan qunut nazilah. Jika batuk, bersin, dan menguap harus mengikuti ketentuan Islam.

Tatkala bersin kenapa mesti baca alhamdilillah? karena Virus ada dalam tubuh manusia dan tidak mungkin dihindari. Kalau seseorang bersin, bisa dipastikan ada virus disitu karena bersin itu salah satu indikasi tubuh menolak virus. Maka baca Alhamdulillah, memuji Allah SWT karena telah terselamatkan.  

Bersin adalah keluarnya udara semi otonom yang terjadi dengan keras lewat  hidung  dan mulut. Udara ini dapat mencapai kecepatan 70 m/detik (250 km/jam). Bersin dapat menyebarkan penyakit lewat butir-butir air yang terinfeksi yang diameternya antara 0,5 hingga 5 µm. Sekitar 40.000 butir air seperti itu dapat dihasilkan dalam satu kali bersin

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ العُطَاسَ، وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ، فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ، فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ: فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ

”Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Jika ada di antara kalian yang bersin lalu mengucap hamdalah, maka setiap Muslim yang mendengarnya wajib menjawabnya. Sedangkan menguap sesungguhnya berasal dari setan, maka tahanlah semampunya. Dan bila ia mengatakan ‘haaahh’, maka setan akan tertawa.” (HR. Bukhari No. 6223).

Mengapa Allah menyukai bersin dan membenci menguap? Bersin disebabkan oleh kondisi tubuh yang enteng, terbukanya pori-pori, dan perut yang tidak kenyang. Sebaliknya, menguap terjadi karena kondisi tubuh yang berat akibat konsumsi makanan yang berlebihan dan beraneka ragam. Kondisi yang pertama menjadikan pelakunya bersemangat dalam ibadah, sedangkan kondisi yang kedua atau menguap adalah sebaliknya.

Menurut ilmu kedokteran modern, menguap terjadi karena otak dan tubuh memerlukan oksigen dan nutrisi. Hal ini dipicu menurunnya kinerja sistem pernapasan dalam menyuplai oksigen ke otak dan tubuh. Sama halnya dengan orang yang mengantuk, pingsan, dan sekarat.

Menguap adalah tarikan napas yang dalam melalui rongga mulut. Sedangkan mulut sendiri tidak diciptakan sebagai alat pernapasan alami. Hal ini karena mulut tidak dilengkapi dengan sistem penyaring udara sebagaimana pada hidung. Jika mulut terbuka lebar saat menguap, masuklah berbagai mikroba, debu, dan polutan bersama udara yang terhirup. Jadi, pantaslah bila menguap dinisbatkkan kepada setan, karena ia membawa madharat bagi manusia.

Sebab itulah, Nabi SAW memerintahkan agar kita menahannya sebisa mungkin. Atau menutup mulut dengan tangan. (HR. Tirmidzi dengan derajat hasan sahih)

Sedangkan bersin adalah kebalikan dari menguap. Serangannya yang bersifat kuat dan mendadak, menghembuskan udara bertekanan tinggi dari paru-paru melalui hidung dan mulut. Hembusan tadi ikut menyeret mikroba, debu, dan polutan yang sempat masuk ke sistem pernapasan. Manfaat lain dari bersin ialah sebagai refreshing. Kejutan yang dirasakan saat bersin akan menyegarkan urat-urat syaraf dan memulihkan konsentrasi. Sebab itulah, pantas sekali jika bersin dinisbatkan kepada Allah, karena ia mengandung manfaat bagi badan dan baca Alhamdulillah untuk bersyukur. Dan bagi yang mendengar ucapan tersebut hendaklah menjawabnya dengan kata yarhamukallaah (semoga Allah merahmatimu). Lalu yang bersin membalasnya dengan ucapan yahdiikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberimu hidayah dan memperbaiki keadaanmu).  

Membiasakan menutup mulut ketika bersin atau menguap adalah pendidikan Islam, jadi memakai masker otomatis seseorang telah menutup mulutnya jika bersin dan menguap.

Selanjutnya, dengan wabah Covid-19 ini  yang dituntunkan  adalah  membaca qunut nazilah disunnahkan untuk dibaca pada sholat lima waktu dan dalam shalat Tarwih. Bacaan qunut nazilah disesuaikan dengan musibah yang menimpa umat Islam. Doa tersebut intinya memohon kepada Allah agar musibah itu segera diangkat dan berakhir. MUI  mengeluarkan tausiyah  bacaan Doa Qunut Nazilah sbb.

 Semoga manfaat dan berkah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

(Visited 222 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 9 Mei 2020
Close