20.1 C
Yogyakarta
26 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
KABAR

Bertambah

Kamus menyebutkan bahwa tambah berarti: yang dibutuhkan pada yang sudah ada supaya menjadi lebih banyak (lebih besar dan sebagainya); menjadi lebih banyak (besar dan sebagainya). Bertambah artinya menjadi lebih banyak (lebih besar dan sebagainya); semakin.

Tentu mudah mencerna apa sebenarnya makna dari bertambah, yakni menjadi lebih banyak. Suatu pengertian yang dekat atau bahkan menjadi bagian dari perhitungan. Apakah arti kata bertambah dapat berdiri sendiri? Atau membutuhkan “ruangwaktu” (konteks) untuk membentuk maknanya. Apakah sebagai teks, bertambah akan dipengaruhi oleh konteks? Baik diperiksa pada beberapa kasus.

Jika pergi ke lantai bursa atau pasar, maka kata bertambah, punya relasi dengan hal yang bersifat positif. Keuntungan bertambah merupakan hal baik yang diburu. Bertambah dalam konteks ini, merupakan kabar gembira. Sebaliknya, penurunan nilai jual, atau anjloknya indeks harga saham, merupakan kabar buruk, yang dapat menghentikan perdagangan. Mereka akan bersorak manakala nilai saham meningkat. Di lapangan ekonomi, bertambah merupakan hal baik.

Kalau datang ke kelas-kelas persekolahan, kata tersebut bisa berubah-ubah. Terkait dengan nilai ujian, para siswa atau mahasiswa, pasti mengharapkan nilai lebih baik, atau semakin baik. Namun jika terkait dengan tugas-tugas, maka kata bertambah, merupakan hal yang tidak diharapkan. Tugas bertambah adalah petaka. Mungkin tidak ada siswa atau mahasiswa, yang berdoa agar tugas bertambah, agar kemampuan mereka makin meningkat. Harapan yang disorong ke muka adalah sedapat mungkin tidak ada tugas, dan nilai beroleh yang tertinggi.

Di lapangan kesehatan, masalah berkebalikan dengan ekonomi. Sebagaimana diketahui bahwa setiap hari laporan perkembangan kasus disampaikan pada publik. Dan persis pada kasus tersebut, yang disampaikan merupakan penambahan kasus. Setiap hari korban bertambah. Bahkan di tingkat dunia, korban terus bertambah dengan lonjakan yang sangat mengkhawatirkan. Dalam kejadian ini, yang jarang ditanyakan adalah mengapa bertambah?

Jika diperhatikan informasi yang menyebar, maka tampak bahwa apa yang disebut sebagai “menjadi lebih banyak”, telah diterima begitu saja. Apabila pertambahan mengikuti garis waktu, maka secara diam-diam dianggap bahwa waktu merupakan faktor penyumbang penambahan. Hari ini, dua, besok menjadi 4, dan lusa menjadi 6, demikian seterusnya. Mereka yang terampil dengan permainan angka akan terburu-buru menebak: selanjutnya 8. Tapi benarkah selanjutnya 8?

Pertanyaan tersebut mungkin layak untuk menjadi bahan renungan. Mengapa dibutuhkan renungan atau refleksi? Tentu bukan sekedar untuk mengisi waktu luang, melainkan agar ada kecermatan dalam menerima informasi. Laporan tentang perkembangan korban, merupakan laporan tentang kejadian, atau laporan atas data yang masuk. Laporan tersebut tentu hanya mencatat. Sebenarnya tidak ada informasi yang penting, kecuali kabar tentang kondisi korban.

Hal yang justru merupakan persoalan penting adalah bahwa laporan tersebut, oleh karena kedudukannya sebagai laporan, maka tidak terhindarkan untuk mengikuti protokol yang ada. Artinya, tidak ada informasi selain angka-angka. Padahal yang dilaporkan menyangkut jiwa dan pribadi manusia. Tidak mungkin melaporkan secara rinci, detail dan bersifat “personal”. Alasan itulah yang membuat manusia telah berubah menjadi sekedar angka statistik.

Mungkin masalah bukan pada angka statistik tersebut, tetapi pada bagaimana laporan tersebut dipahami. Tidak dipungkiri bahwa rutinitas mudah untuk membuat hal yang penting menjadi sesuatu yang biasa. Pada awal ketika diumumkan ada korban, semua bergetar, antara tidak percaya, prihatin dan semua rasa yang berkecamuk. Apakah setelah tiga Minggu, dimana setiap hari laporan disampaikan, rasa batin masih sama persis dengan ketika kali pertama korban diumumkan? Masing-masing dapat menjawabnya.

Apa yang tidak diinginkan adalah jika angka yang menggambarkan keadaan bertambah, hanya menjadi sekedar perhitungan di atas kertas, yang telah kehilangan bobot substansinya. Keadaan tersebut bisa saja punya makna yang jauh dan mendasar. Tetapi kesemuanya tentu berpulang pada pribadi masing-masing. Bagaimana memandang hal tersebut. Apa yang tidak dapat diingkari adalah bahwa data yang menggambarkan bertambahnya korban merupakan kabar duka, kabar prihatin, kabar yang tidak diharapkan. Semoga ke depan yang ada adalah berkurang, menurun dan berhenti. Semoga wabah segera berlalu.

(t.red)

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA