Bisakah Mengenakan Kacamata Mengurangi Resiko Tertular COVID-19?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Maragakis menambahkan bahwa kacamata juga dapat berfungsi sebagai penghalang parsial yang mengurangi inokulum atau jumlah virus dengan cara yang mirip seperti pada masker kain.

Selain melakukan pembatasan jarak sosial dan menggunakan masker, peneliti menemukan bahwa penggunaan kacamata mungkin juga dapat mengurangi resiko untuk tertular COVID-19, bila dibandingkan dengan mereka yang tidak memakainya.

Di dalam studi terbaru tersebut, para peneliti menganalisis informasi dari 276 pasien di sebuah rumah sakit di provinsi Hubei China dan menemukan bahwa dari para pasien tersebut terdapat sekitar 6% yang mengatakan mereka memakai kacamata selama lebih dari 8 jam sehari. Pasien-pasien ini semuanya menderita miopia, atau rabun jauh. Data tersebut jauh lebih rendah dari perkiraan tingkat miopia di Hubei pada penelitian sebelumnya, yakni 31,5%.

Studi baru tersebut diterbitkan pada haru Rabu (16 September) lalu di jurnal JAMA Ophthalmology. Dr. Lisa Maragakis, seorang profesor kedokteran dan epidemiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins menuliskan dalam sebuah editorial yang menyertai studi tersebut tersebut, bahwa studi baru ini memliki kesan provokatif, dan memberikan suatu kemungkinan baru bahwa terdapat kemungkinan menggunakan pelindung mata oleh masyarakat umum mungkin dapat memberikan sedikit perlindungan dari COVID-19.

Akan tetapi, Maragakis mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk merekomendasikan penggunaan kacamata atau pelindung wajah di depan umum, disamping memakai masker untuk melindungi diri dari COVID-19 oleh karena studi baru tersebut memiliki sejumlah keterbatasan, salah satunya dikarenakan studi ini relatif kecil dan melibatkan pasien di satu rumah sakit. Dan hal yang perlu diperhatikan adalah studi ini hanya menemukan hubungan dan tidak dapat membuktikan hubungan “sebab-akibat” antara memakai kacamata dan terlindungi dari COVID-19.

Oleh karenanya, Maragakis meminta untuk lebih banyak diadakan penelitian untuk mengonfirmasi temuan tersebut dan untuk menentukan apakah terdapat manfaat tambahan dengan memakai kacamata atau bentuk pelindung mata lainnya di tempat umum, selain memakai masker dan menjaga jarak, untuk mengurangi risiko tertular COVID-19.

Pelindungan untuk Mata

Meskipun petugas kesehatan disarankan untuk mengenakan pelindung wajah atau kacamata, bersamaan dengan masker, untuk menurunkan risiko tertular COVID-19, namun di dalam pedoman kesehatan masyarakat pada umumnya tidak menekankan perlunya penggunaan pelindung mata untuk publik. Hal yang lebih ditekankan justru adalah pentingnya mengenakan masker, menjaga jarak secara fisik, dan mencuci tangan. CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) juga tidaktidak merekomendasikan pelindung wajah sebagai pengganti masker wajah. 

Dari sinilah penulis studi tersebut, yang berasal dari Rumah Sakit Suizhou Zengdu di Suizhou, Cina, memiliki intisiatif untuk melihat hubungan antara kacamata dan pencegahan penularan COVID-19 setelah mereka memperhatikan bahwa beberapa pasien dengan COVID-19 di rumah sakit mereka memakai kacamata.

Dalam studi tersebut, para peneliti mendaftar 276 pasien dalam masa studi antara 27 Januari dan 13 Maret 2020. Semua pasien diberi pertanyaan apakah mereka memakai kacamata, berapa lama mereka memakai kacamata pada siang hari dan mengapa mereka membutuhkan kacamata. Secara keseluruhan, 30 pasien, atau sekitar 11%, mengatakan mereka memakai kacamata, tetapi hanya 16 pasien, atau 5,8%, yang memakai kacamata selama lebih dari 8 jam sehari oleh sebab menderita miopia (14 peserta lainnya memakai kacamata baca.) 

Untuk membandingkan dengan populasi umum, para peneliti mengambil sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1985 di provinsi Hubei, yang menunjukkan bahwa sekitar sepertiga penduduk menderita miopia, dan hampir semuanya memakai kacamata.

Akan tetapi, Maragakis mencatat bahwa kelompok pembanding ini merupakan batasan dari studi baru tersebut oleh karan penelitian tersebut dilakukan “beberapa dekade sebelumnya” dan tidak spesifik untuk Suizhou.

Namun secara umum, miopia adalah kondisi yang biasa, dan diperkirakan mengenai 27% populasi dunia perdasarkan data pada tahun 2010, dengan prevalensi tertinggi di Asia Timur, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Penulis studi juga menambahkan bahwa dalam studi baru tersebut, para pasien tidak memakai lensa kontak, sehingga juga masih dibuka pertanyaan dan perlu dipelajari apakah lensa kontak mempengaruhi pengurangan risiko tertular COVID-19.

Alasan Hubungan 

Meski para peneliti tidak meneliti mengapa kacamata dapat mengurangi risiko COVID-19, tetapi mereka berhipotesis bahwa memakai kacamata dapat membuat penggunanya untuk lebih sedikit hingga tidak menyentuh mata mereka. Hal tersebut dinilai akan mengurangi kemungkinan orang menularkan virus dari tangan ke mata mereka.

Diketahui bahwa sel mata memiliki reseptor yang memungkinkan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, masuk ke dalam tubuh; dan virus telah terdeteksi di mata pasien COVID-19. Maragakis menambahkan bahwa kacamata juga dapat berfungsi sebagai penghalang parsial yang mengurangi inokulum atau jumlah virus dengan cara yang mirip seperti pada masker kain.

Oleh karenanya, penulis dari studi tersebut mengatakan bahwa temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa mata mungkin merupakan salah satu jalur infeksi dari COVID-19, dan oleh karenanya perhatian juga perlu diberikan pada tindakan pencegahan seperti sering mencuci tangan dan menghindari menyentuh mata.

Meski begitu, selain diperlukannya studi dan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuan tersebut, peneliti juga perlu mempertimbangkan kemungkinan konsekuensi yang tidak diinginkan dari rekomendasi umum untuk memakai pelindung mata atau kacamata di depan umum. Maragakis menambahkan bahwa bagi mereka yang tidak terbiasa memakai kacamata mungkin benar-benar menyentuh wajah mereka lebih sering ketika melepasnya, serta mungkin mengganti atau menyesuaikan kacamata yang tengah mereka pakai.

Dalam keadaan dunia dimana masih banyak korban berjatuhan oleh COVID-19 ini, berbagai macam usulan untuk pencegahan perlu diperhatikan serta ditelaah kembali guna memastikan usulan tersebut dapat bekerja.

Sumber:
Disadur dari situs livescience. Materi berasal dari Live Science. Naskah pertama kali ditulis oleh Rachael Rettner. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti