30.3 C
Yogyakarta
18 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Bolehkah Otoriter Dalam Bencana?

Oleh: Sitti Noor Zaenab

Kita sering miris kala mendengar karyawan/bawahan mengatakan bahwa boss/pimpinannya sangat otoriter. Langsung terbayang bahwa pimpinan tersebut suka marah-marah, suka perintah, tidak mau mendengarkan masukan dari bawahan, hanya mengikuti kehendak sendiri, orang lain harus mengikuti saja apa keinginan atasan tersebut meskipun yang bersangkutan salah.

Pada kasus lain karyawan mengeluh bossnya tidak pernah memberi arahan apa-apa, karyawan berjalan sendiri-sendiri, seenak sendiri tidak tahu kemana organisasi mau dibawa, tidak pernah ada pengendalian, tidak ada evaluasi, tidak ada reward atau punishment.

Kadang kita juga mendengar ada atasan yang dipuji oleh sebagian bawahan tetapi dicela oleh sebahagian lainnya. Tetapi pada kesempatan lain pimpinan yang sama dipuji oleh kelompok yang tadi mencela dan sebaliknya dicela oleh yang tadi memujinya. Aduh.. betapa sulit menjadi seorang pimpinan, begini salah begitu salah.. aku harus bagaimana? keluh seorang kepala kantor… aku ingin semua pegawaiku menyukai dan menghormatiku setiap waktu dan dalam segala kondisi. Rupanya dia seorang pimpinan yang ingin dikenang sebagai pemimpin ideal bagi seluruh karyawannya. Apa itu mungkin? Yah … tergantung … antara mungkin dan tidak mungkin.

Pikiran saya kembali pada peristiwa Bencana Gempa Bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 yang dikenal dengan Gempa Yogya, kondisi terparah di wilayah Kabupaten Bantul, dimana saya terlibat di dalamnya. Sarana dan prasarana penting banyak yang rusak bahkan hancur sama sekali. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarga atau mengalami cacat permanen. Ada yang nyeletuk “…mungkin butuh waktu tidak kurang dari lima tahun untuk membangun kembali Bantul” bukan hanya membangun fisik tapi juga membangun mental masyarakatnya. Tetapi apa yang terjadi? Atas ijin Allah SWT Tuhan Yang Maha Pemurah, hanya dalam waktu dua tahun Bantul sudah bangkit. Dalam artian sarana-prasarana penting sudah bisa digunakan, antara lain gedung sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan terbangun malah lebih bagus dan lebih indah dari aslinya. Semua rakyat sudah menempati rumah masing-masing, tidak ada lagi yang tinggal di tenda pengungsian, tidak terlihat lagi kesedihan mendalam. Meskipun belum bisa dikatakan sempurna semuanya.

Bantul Bangkit Dalam 2 (dua) Tahun itu kebanggan kami. Banyak yang bertanya apa sih rahasianya?

Gempa Yogya termasuk bencana nasional, sehingga ada tugas dan wewenang pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten. Tetapi eksekusi di Kab. Bantul harus dalam skema dan koordinasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul di bawah komando Bupati Bantul. Tidak boleh ada yang berjalan sendiri tanpa koordinasi dan kendali yang jelas.

Salah satu dampak bencana pada kesehatan masyarakat adalah terjadinya outbreak/KLB penyakit menular Tetanus yang bisa berakibat kematian. Bakteri ini banyak ditemukan pada tanah, debu, dan kotoran hewan, masuk dalam tubuh melalui luka di kulit. Waktu gempa terjadi kerusakan lingkungan yang parah dan juga banyak masyarakat yang menderita luka akibat trauma fisik karena runtuhnya bangunan rumah.

Untuk mempermudah pemahaman saya kutip sebuah hasil penelitian. Menurut Harsey dan Blanchard (1982) dalam “Cycle Theory of Leadership” bahwa gaya kepemimpinan cenderung berbeda dari situasi ke situasi yang lain. Gaya kepemimpinan situasional selalu berusaha menyesuaikan dengan kondisi dan situasi organisasi, beradaptasi dengan kematangan bawahan dan lingkungan kerjanya. Pendekatan situasional menggambarkan perilaku pemimpin yang efektif. Ada 4 gaya dasar kepemimpinan:

  1. Gaya Instruktif: pemimpin memberi instruksi yang spesifik, ketat mengawasi pelaksanaan tugas, biasanya komunikasi satu arah. Inisiatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata dilakukan pemimpin
  2. Gaya Konsultatif: pemimpin banyak mengarahkan dan banyak memberi dukungan. Mau menjelaskan keputusan dan kebijakan yang diambil dan mau menerima pendapat anggotanya. Terus melakukan pengawasan, dan pengambilan keputusan tetap pada pemimpin, ada komunikasi dua arah dengan bawahan
  3. Gaya Partisipatif: pemimpin banyak memberi dukungan dan sedikit pengarahan. Keputusan disusun bersama, saling tukar menukar ide/gagasan dan mendukung usaha mereka menyelesaikan tugas. Posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dipegang bergantian. Ada komunikasi dua arah dimana pemimpin banyak mendengarkan.
  4. Gaya Delegatif: pemimpin memberi sedikit dukungan dan sedikit pengarahan. Mendelegasikan keseluruhan keputusan dan tanggung jawab pelaksanaan tugas. Sehingga bawahan yang memiliki kontrol untuk memutuskan bagaimana cara pelaksanaan tugas. Biasanya bawahan memiliki kemampuan dan keyakinan memikul tanggung jawab dalam mengarahkan perilaku mereka sendiri.

Keempat gaya tersebut tidak ada yang lebih baik atau lebih jelek. Hal ini sangat tergantung sifat dasar dari pemimpin, kematangan kelompok yang dipimpin, dan situasi yang dihadapi apakah situasi normal atau krisis.

Saat terjadi bencana banyak pihak-pihak yang ikut membantu atau melakukan penelitian yaitu dari unsur pemerintahan, Perguruan Tinggi (PT), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun dunia usaha. Baik dari internasional, nasional, maupun lokal. Tentu para stakeholders ini bermacam-macam kemampuan dan tingkat kematangannya, dan harus dipercayai mereka semua berniat baik. Namun niat baik kalau tidak terkelola dengan baik malah bisa berbalik menjadi bencana tahap dua, apalagi kalau ada pihak-pihak yang berniat mengail di air keruh.

Disini nampak sekali gaya kepemimpinan yang diperankan Bupati Bantul. Terhadap pemerintahan yang lebih tinggi, PT/ para pakar/ LSM beliau menerapkan Gaya Partisipatif. Dengan para pimpinan  SKPD/OPD menerapkan Gaya Konsultatif. Untuk pekerjaan rutin seperti pelayanan kesehatan  menerapkan Gaya Delegatif kepada Dinas Kesehatan dan RS, tetapi dengan adanya outbreak/ KLB Tetanus akibat bencana, tidak serta merta bisa didelegasikan. Dalam penanganan harus dalam satu skema Tanggap Bencana karena saling berkaitan dengan aspek lainnya, meskipun aspek teknisnya tetap menjadi wilayah pakar kedokteran dan kesehatan.

Semua permasalahan yang sudah diolah dan menghasilkan strategi dan perencanaan program/kegiatan, maka diinstruksikan kepada semua pihak terkait untuk melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, tidak boleh ada yang berjalan sendiri. Disini gaya yang diterapkan adalah Gaya Instruktif.

Kemampuan memainkan berbagai gaya dengan memperhatikan siapa yang dihadapi dan kondisi apa yang sedang terjadi inilah yang disebut Gaya Situasional. Tidak semua orang mampu seperti ini tetapi kalau berhasil maka itulah pemimpin yang sangat efektif.

Apakah penanganan bencana di Bantul sempurna? Tentu tidak, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Tetapi dengan kemampuan mendiagnosa kondisi yang terjadi, kemampuan menginventarisasi sumber daya, kemampuan mengkoordinasikan, maka Pemkab Bantul bisa menyusun strategi dan perencanaan yang baik. Perencanaan tersebut dijalankan dengan konsisten di bawah satu komando yang jelas, tegas, dan terukur. Jelas apa yang ingin dicapai dan tegas pelaksanaannya, dibawah monitoring dan evaluasi yang ketat. Qodarullah Bupati Bantul adalah seorang komunikator ulung, beliau mampu menyampaikan apa yang menjadi ide/ gagasannya, bantuan apa yang dibutuhkan, sehingga mudah ditangkap oleh stakeholders dan masyarakat yang menjadi sasaran. Kerjasama yang kompak antara pemkab dengan rakyat dan atas ijin Allah SWT Tuhan Yang Maha Mengatur inilah yang menjadi kunci keberhasilan Bantul Bangkit Dalam dua Tahun,  semua berjalan lancar karena masyarakat memiliki kepercayaan pada pimpinan. Mereka percaya bahwa pemimpinnya berbicara jujur dan akan menolong dan membawa mereka ke jalur yang benar supaya cepat keluar dari krisis, sehingga mereka mendukung kebijakan pemerintahnya dengan segala daya yang dimiliki.

Tentu tidak bisa serta merta seseorang memiliki Gaya Kepemimpinan Situasional, ini membutuhkan modal. Adapun modal dasar yang dibutuhkan adalah sebagaimana 4 (empat) sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW yaitu: Fathonah (Cerdas, Pandai); Siddiq (Jujur); Tabligh (Menyampaikan, Komunikator);  Amanah (Terpercaya, Tanggung Jawab).

Menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah, tetapi kalau mampu menjadi pemimpin yang efektif maka antara pemimpin dan yang dipimpin sama-sama mengalami kepuasan batin dan sama-sama bahagia, demikian pula sebaliknya kalau terjadi ketidakpuasan. Berasal dari batin maka lisan akan mengeluarkan ucapan/doa-doa, bukankah termasuk doa yang tidak akan ditolak adalah doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terdzolimi.

Lalu, apa kaitannya dengan otoriter seperti pada judul? Menurut hemat saya otoriter adalah sikap keras yang muncul akibat ketidakmampuan menjadi pemimpin yang efektif karena tidak memiliki 4 sifat dasar tadi, tetapi di tangan ada kekuasaan yang besar. Untuk menutupi ketidakmampuan maka perangkat kekuasaan yang dimiliki dimanfaatkan tanpa batas.

Apakah kita bangga andai anak cucu kita kelak dikenal sebagai pemimpin otoriter? Mari kita siapkan mereka menjadi pemimpin efektif di masa depan untuk berbagai tingkat kepemimpinan, minimal sebagai pemimpin keluarga. Menjadi kepala keluarga nampak sederhana tetapi tidak semua mampu mengembannya dengan baik. Sehingga 4 modal dasar tersebut harus ditanamkan sejak dini, semoga menjadi karakter yang terbawa sampai dewasa yaitu Fathonah, Shiddiq, Tabligh, dan Amanah.

# Kepemimpinan Situasional
# Fathonah
# Shiddiq
# Tabligh
# Amanah

Penulis adalah Ibu Rumah Tangga, Pensiunan PNS

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA