Cara untuk Melawan Perubahan Iklim, Tanam Pohon atau Biarkan Tumbuh?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Jika melihat sejarah masyarakat adat, maka akan ditemukan banyak sekali contoh bagaimana mereka mengelola dan memodifikasi hutan untuk mereka gunakan sendiri. Sehingga hutan tidak harus benar-benar dibiarkan begitu saja.

Kini hutan-hutan dapat dikatakan tengah bergembira. Mengapa? Oleh karena diketahui pohon dapat menyedot karbon dari atmosfer dan menguncinya dalam kayu dan tanah. Kini banyak negara dan perusahaan dunia tengah merangkul upaya untuk melawan perubahan iklim, menggunakan pohon sebagai “senjatanya”.

Banyak negara yang telah membuat janji untuk menanam serta memulihkan kembali hutan-hutan yang total wilayahnya lebih besar daripada India. Salah satunya inisiatif yang didukung oleh perusahaan juga telah berhasil mendapatkan perjanjian untuk memulihkan dan menumbuhkan kembali 855 juta pohon pada 2030, dan masih banyak lagi yang melakukkan tindakan serupa

Para ilmuwan setuju bahwa pohon-pohon baru, serta hutan, secara teori, dapat mendinginkan suhu bumi. Namun disamping hal positif ini, terdapat kekhawatiran bahwa antusiasme serta uang yang mengalir dari solusi untuk iklim berbasis hutan mengancam untuk melampaui sains.

Dua makalah studi yang telah dipublikasikan tengah berupaya untuk memberi pijakan yang lebih kuat untuk strategi ini. Salah studi tersebut menghitung berapa banyak karbon yang mungkin diserap secara global, jika hutan-hutan yang sebelumnya ditebang untuk pembukaan lahan, dibiarkan untuk tumbuh kembali. Studi lainnya menghitung berapa banyak karbon yang dapat diserap oleh hutan di Amerika Serikat jika hutan-hutan tersebut “diisi ulang” dengan pohon-pohon baru. Masing masing dari strategi studi tersebut memiliki janji, namun juga selain itu memiliki resiko tersendiri.

Untuk mendapatkan perspektif dunia untuk potensi hutan menumbuhkan kembali hutan-hutan, sebuah tim internasional yang dipimpin oleh ahli ekologi Susan Cook-Patton dari Nature Conservancy (TNC) mengumpulkan data dari lebih dari 13.000 situs yang sebelumnya mengalami deforestasi di mana para peneliti telah mengukur tingkat pertumbuhan kembali pohon muda. Kemudian mereka memasukkan data tersebut dan beberapa variabel lainya, seperti iklim dan jenis tanah pada sebuah mesin pembelajaran algoritm, untuk memprediksi dan memetakan seberapa cepat pohon dapat tumbuh di situs lain yang ditebangi yang tidak memiliki data.

Pada tahun 2017, tim yang dipimpin oleh TNC telah menghitung bahwa sekitar 678 juta hektar, wilayah yang hampir seluas Australia, dapat membantu untuk dilakukannya pertumbuhan hutan kembali. Jumlah total dari lahan ini tidak termasuk lahan di mana pohon mungkin tidak diinginkan untuk tumbuh, seperti lahan pertanian dan padang rumput yang bernilai ekologis. Cook-Patton serta rekan-rekannya melaporkan bahwa hutan baru yang tumbuh di seluruh area tersebut dapat menyerap seperempat emisi bahan bakar fosil dunia selama 30 tahun ke depan. Tingkat penyerapan tersebut 32% lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, berdasarkan data yang lebih kasar, yang dihasilkan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim. Tetapi total penurunan karbon 11% lebih rendah dari perkiraan tahun 2017.

Studi tersebut, menurut Cook-Patton, menyoroti tentang apa yang alam dapat lakukan dengan sendirinya. Dirinya menambahkan bahwa meskipun reboisasi pada seluruh area yang memiliki peluang tidak realistis, namun para perencana reboisasi dapat menggunakan hasil yang telah dirinya dan rekan-rekan timnya dapatkan untuk memperkirakan berapa banyak penyerapan karbon yang ingin dicapai.

Studi tersebut, kata ahli geografi Matthew Fagan dari Universitas Maryland, Baltimore County, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mewakili apa yang disebut sebagai “a lightning step forward” dalam presisi bila dibandingkan dengan studi sebelumnya.

Akan tetapi, Fagan menambahkan bahwa pertumbuhan kembali secara alami tidak akan menyelamatkan planet ini. Hutan muda lebih mudah ditebang atau dibakar bila dibandingkan yang lama, Kewaspadaan Fagan, membuat mereka sering menjadi sasaran petani dan peternak. Penumbuhan kembali hutan di Amazon, menurut penelitian, biasanya hanya bertahan 5 hingga 8 tahun, meskipun pohon di lereng atau dekat sungai sering kali bertahan lebih lama. Bahkan di Kosta Rika, yang terkenal sebagai juara reboisasi yang telah melipatgandakan pertumbuhan hutannya dalam beberapa dekade terakhir, dalam waktu 20 tahun setengah dari hutan yang tumbuh kembali hilang.

Di banyak tempat, menggembalakan ternak atau bercocok tanam lebih menguntungkan daripada membiarkan pohon-pohon yang sebelumnya ditebang untuk tumbuh kembali, catat Pedro Brancalion, pakar hutan di Universitas São Paulo di Piracicaba, Brasil. Dirinya juga mengatakan bahwa kebijakan yang mendorong reboisasi dan pasar yang lebih baik untuk karbon dan hasil hutan dibutuhkan, untuk memberi dorong bagi pohon-pohon untuk dapat dibiarkan untuk tumbuh kembali. Saat ini, menurutnya, tidak ada yang akan meninggalkan peternakan atau pertanian mereka untuk menanam pohon.

Robin Chazdon, ahli ekologi dan rekan penulis studi dari University of Connecticut, Storrs mendesak para konservasionis untuk membantu para petani menanam pohon dan tanaman atau ternak, yang hal tersebut, menurutnya, merupakan sebuah konsep yang memiliki sejarah kesuksesan yang panjang. Dirinya mengatakan jika melihat sejarah masyarakat adat, maka akan ditemukan banyak sekali contoh bagaimana mereka mengelola dan memodifikasi hutan untuk mereka gunakan sendiri. Sehingga hutan tidak harus benar-benar dibiarkan begitu saja.

Beberapa pendukung mempromosikan perluasan penanaman pohon pada hutan yang ada. Untuk lebih mendorong konsep tersebut, para peneliti di U.S. Forest Service (USFS) menghitung berapa banyak pohon tambahan yang dapat ditampung oleh hutan di AS Berdasarkan inventarisasi federal. Ditemukan bahwa lebih dari 16% hutan di benua Amerika mengalami “kekurangan stok”. Menambah stok dari 33 juta hektar hutan ini secara penuh pada akhirnya akan memungkinkan hutan di AS untuk menyerap sekitar 18% emisi karbon nasional setiap tahun, yang naik dari angka sebelumnya yakni 15%. Hasil tersebut telah dilaporkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Akan tetapi, agar hal tersebut dapat terjadi, Amerika harus “secara besar-besaran” memperluas upaya penanaman pohon tahunannya, yang menurut penulis utama studi Grant Domke, seorang ahli kehutanan penelitian USFS di St. Paul, Minnesota, dari sekitar 1 miliar menjadi 16 miliar pohon.

Cook-Patton beranggapan bahwa menanam pohon mungkin masuk akal pada beberapa daerah. Namun demikian, dirinya memperingatkan bahwa menambahkan pohon pada daerah rawan kebakaran justru akan lebih berbahaya karena dapat meningkatkan risiko kebakaran. Dan meskipun penanaman pohon sering mendapat dukungan yang besar, regenerasi alami yang lebih murah dan mudah biasanya dapat menghasilkan campuran spesies yang lebih beragam. Untuk semua lokasi, Cook-Patton mengatakan, perlulah untuk dipertanyakan mengenai dapatkah hutan tersebut beregenerasi secara alami, atau apakah kita perli melakukan sesuatu untuk membantunya?

Sumber:

Disadur dari situs sciencemag. Materi berasal dari Sciencemag Naskah pertama kali ditulis oleh Gabriel Popkin. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti