Ditulis oleh 1:26 pm COVID-19

Cemas

Hati bangsa yang tentram, akan menjadi kekuatan utama mengatasi krisis, karena dalam suasana tenang, masalah akan tampak jelas.

Hati tidak tentram, merupakan masalah tua yang sampai kini, mungkin belum diketahui persis, apa sebenarnya. Banyak ilmu dan teknik-teknik, dan turunannya, yang berkembang, karena ingin mendapatkan pengetahuan yang lebih tentang suasana hati. Para ahli medis, seringkali menunjuk suasana hati sebagai salah satu faktor pemicu sakit. Yakni suasana hati yang bergulat dengan pikiran, demikian sebaliknya.

Bila hanya menyangkut hati seseorang, atau satu orang, barangkali dapat dengan relatif mudah diatasi. Perkataan ini tidak berarti bahwa masalah satu orang mudah diatasi, sama sekali tidak. Maksud diatasi, bukan otomatis bermakna diselesaikan, tetapi dapat diurus.

Yang punya masalah akan punya kesempatan untuk melakukan dialog, dan dibantu untuk menemukan masalah dan menyelesaikannya. Artinya, peluang untuk menemukan solusi menjadi bertambah besar. Itulah maksud dari kata relatif mudah diatasi.

Apabila yang punya masalah dengan cemas adalah sebuah bangsa, maka jelas persoalan besar sedang berkuasa. Ilmu yang tersedia, dapat dikatakan, lebih mengarah pada urusan jiwa orang per orang, bukan urusan jiwa bangsa. Siapa yang dapat mengatasi keadaan ketika bangsa dalam kecemasan?

Siapa yang dapat mengatasi keadaan ketika bangsa dalam kecemasan?

Situasi inilah yang kini sedang melanda dunia. Hampir seluruh bangsa mengalami kecemasan. Wabah yang menyerang telah membawa korban dalam jumlah yang sangat besar, sementara cara penyelesaian yang cespleng belum lagi diperoleh. Metode yang kini berkembang, hanyalah cara untuk membatasi atau mengendalikan penyebaran wabah dan bukan jantung soalnya.

Kini, kalau boleh dikatakan, bahwa masalah telah berkembang, tidak hanya masalah penyebaran wabah, tetapi juga kecemasan itu sendiri. Kisah penolakan warga pada korban, pada mereka yang berpulang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dan para perawat yang tidak bisa kembali ke kamar kontrakan, merupakan cermin dari kecemasan tersebut.

Bahkan, dalam batas tertentu, suatu langkah yang dinyatakan sebagai upaya untuk mencegah agar tidak ada kecemasan, sesungguhnya merupakan bentuk kecemasan tersendiri. Dalam hal ini, kecemasan telah bertransformasi, beranak-pinak, menjadi jenis-jenis baru kecemasan. Apa yang diserang bukan hanya tubuh manusia, tetapi tubuh bangsa atau kesehatan bangsa.

Pada masa perjuangan, dikisahkan bagaimana para mahasiswa kedokteran, dalam kedudukannya yang belum menjadi dokter, telah bertemu dengan kemampuan mendiagnosa keadaan tubuh bangsa, sedemikian sehingga lahir gerakan dengan arah membebaskan bangsa dari kolonialisme. Jika kecemasan mulai menggerogoti kesehatan bangsa, maka tentu diperlukan kemampuan untuk mendiagnosa, agar daripadanya diperoleh sumber masalah.

Jika kecemasan mulai menggerogoti kesehatan bangsa, maka tentu diperlukan kemampuan untuk mendiagnosa, agar daripadanya diperoleh sumber masalah.

Obat, seperti juga jawaban, bergantung pada penyakit. Jawaban mengabdi pada pertanyaan. Pertanyaan mencari jawaban. Yang berbahaya tentu jika jawaban yang mencari pertanyaan. Atau obat yang mencari penyakit. Kecemasan perlu dicari pokok penyebabnya. Untuk menemukannya, dibutuhkan keterbukaan dari bangsa itu sendiri. Seperti pasien dihadapan dokter, yang harus terbuka menjelaskan apa yang dirasakan.

Artinya, dibutuhkan upaya bersama mengatasi persoalan tersebut. Mengapa? Karena untuk mengatasinya wabah, dibutuhkan ketenangan, bukan kecemasan. Dalam situasi krisis kesehatan, kecemasan hanya akan menambah bobot masalah. Hati bangsa yang tentram, akan menjadi kekuatan utama mengatasi krisis, karena dalam suasana tenang, masalah akan tampak jelas. Seperti pemanah yang mahir, melihat sasaran dari jarak 100 meter, seperti melihat obyek berjarak beberapa meter atau bahkan seperti melihat obyek berjarak kurang dari satu meter.

Semoga wabah segera berlalu.

(t.red)


Dalam situasi krisis kesehatan, kecemasan hanya akan menambah bobot masalah. Hati bangsa yang tentram, akan menjadi kekuatan utama mengatasi krisis, karena dalam suasana tenang, masalah akan tampak jelas.


(Visited 31 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 15 April 2020
Close