Ditulis oleh 1:46 pm COVID-19

(CERPEN) Masjidku Sayang, Masjidku Malang

“Berani-beraninya Pak Muhammad bilang bahwa masjid adalah sarang penyebaran penyakit mematikan ini,” seru Mahdi yang merupakan teman kajian komunitasku.

Masih terngiang di telingaku ucapan pak Muhammad yang merupakan tetangga sebelah rumah, beliau menyampaikan untuk tidak shalat Jumat di masjid karena kondisi wabah penyakit mematikan yang tengah melanda negeri ini bahkan dunia. Yang lebih menyesakkan dada, pada bulan ramadhan yang penuh berkah ini semua ritual ibadah yang biasa kami lakukan di masjid harus di kerjakan di rumah seperti tadarus, tarawih, takjil anak-anak dan itikaf. Masjid yang merupakan rumah Allah di tengarai sebagai tempat penyebaran wabah penyakit mematikan ini.

“Berani-beraninya Pak Muhammad bilang bahwa masjid adalah sarang penyebaran penyakit mematikan ini,” seru Mahdi yang merupakan teman kajian komunitasku yang tinggal di komplek sebelah.

“Bagaimana mungkin masjid yang merupakan tempat kita bertemu dengan Allah menjadi pusat penularan wabah, bukankah Allah sebagai pemiliknya pasti akan menjaga tamunya daripada marabahaya dan bencana?”  timpal solikhin temanku yang lain tak kalah sengit.

“Tidak masuk akal sehatku kalau manusia lebih takut pada penyakit ketimbang pada Allah yang maha segala”.

“Kenapa banyak orang yang lebih mengedepankan logika keilmuannya ketimbang keimanannya, Allah sudah tidak hadir lagi dalam hati mereka, mereka sudah jauh dengan penciptanya. Pantas dengan enaknya mereka meninggalkan sunah nabi yang mulia,” tutupku dengan nada tinggi.

*****

Orang seperti pak Muhammad itu banyak jumlahnya, mereka tergabung dalam sebuah organisasi masyarakat yang jutaan anggotanya. Ormas ini punya banyak sumber daya bahkan kalau mau jujur bisa di setarakan dengan Negara. Mereka punya banyak sekolahan mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi bahkan tidak ketinggalan pendidikan untuk anak usia dini. Rumah sakit juga tidak terhitung jumlahnya di seluruh penjuru negeri termasuk para dokter dan perawat yang di kelola dengan professional dengan tidak meninggalkan misi sosial mereka. Mengapa justru mereka yang paling getol mengajak untuk meninggalkan masjid?

Aku harus melawan, aku harus protes keras, aku tidak mau meniggalkan masjid. Aku akan tetap mengajak warga komplek tempat tinggalku untuk terus melaksanakan shalat jumat dan semua rangkaian ibadah di bulan ramadhan di masjid. Aku tidak mau melewatkan bulan penuh berkah ini hanya dengan ibadah di rumah.

Alhamdulillah beberapa warga berhasil aku yakinkan untuk tetap melaksanakan peribadatan di masjid walaupun mendapat teguran keras dari takmir yang merupakan “orangnya” pak Muhammad.

*****

Sebenarnya ada kejadian beberapa waktu yang lalu yang lebih menyakitkan hati, ketika aku mengikuti pertemuan akbar komunitasku di luar pulau. Pertemuan itu mengundang seluruh anggota dari penjuru negeri bahkan melintas batas Negara. Pertemuan yang sudah di siapkan dari jauh-jauh hari ini di bubarkan secara sewenang-wenang oleh pemerintah setempat dengan alasan untuk mencegah penularan wabah penyakit. Aku dan seluruh anggota komunitas yang sudah datang dari jauh harus pulang dengan tangan hampa.

Yang lebih menyebalkan lagi sepulang dari pertemuan akbar itu, aku harus menjalani karantina mandiri selama 14 hari dengan berdiam diri di rumah. Aku jelas menolak apalagi itu berarti aku tidak bisa mendatangi masjidku tercinta walaupun belakangan terpaksa aku harus manut setelah di datangi aparat kepolisian dan perangkat desa.

Ketika aku menjalani karantina mandiri inilah terdengar kabar dari komunitas kami bahwa Mahdi sakit keras. Mahdi lalu di bawa keluarganya ke Rumah Sakit Umum Daerah setempat namun jiwanya tidak tertolong dia kesulitan bernafas. Pihak Rumah sakit juga menginformasikan bahwa Mahdi mengalami serangan jantung. Yang aku tahu Mahdi tidak pernah sakit badannya sehat dan segar karena hobi berolah raga.

Pasca mendengar kabar duka kematian Mahdi yang kami semua tidak bisa bertakziyah karena pemakamannya dilakukan semuanya oleh petugas khusus dengan protocol yang sudah di tentukan dan tidak lazim adanya. Aku mulai merasakan demam, batuk yang tidak mau reda, tenggorokanku kering dan aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Kondisiku semakin melemah sampai akhirnya dengan di temani isteri tercinta aku terjatuh dari tempat tidurku dan semuanya menjadi gelap

Tidak berapa lama kemudian aku terbangun, aku tidak berada di kamarku dan aku tidak melihat wajah cantik isteriku. Aku meringkuk di ruang sempit yang gelap tanpa cahaya. Sendiri tanpa siapa-siapa. Menunggu dan terus menunggu………

Jogjakarta, 13 Mei 2020

#teruslawancovid19
#putuspenyebarancovid19
#stayathome

(Visited 81 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 14 Mei 2020
Close