Ditulis oleh 11:01 am KABAR

Cintai Tetangga Seperti Mencintai Diri Sendiri

Pengajian rutin Kamis Majelis Taklim Nusaibah Yayasan Abdurrahman Baswedan minggu ini mengengkat tema mengenai Etika Bertetangga, dengan pembicara Ustadzah Hj. Sitoresmi Prabuningrat.

Ustadzah Sitoresmi mengatakan bahwa etika atau adab bertetangga mungkin tema yang tidak menarik. Tema yang menarik biasanya menimbulkan pertanyaan besar atau kontroversi. Namun sesungguhnya adab bertetangga ini sangat penting, bahkan ada orang yang menganggap hal ini merupakan salah satu prinsip dalam berislam.

“Mengapa penting, karena seandainya kita salah dalam bertetangga dan tidak mengikuti syariat, menyebabkan kita gagal masuk surga. Sebab adab bertetangga ini bisa jadi ganjalan kita masuk surga, jadi ini sangat penting,” jelas Ustadzah Sitoresmi.

Dalam beribadah, biasa kita hanya bicara soal sholat, haji, puasa, umroh, hal tersebut benar tetapi belum cukup. “Namun jangan dikecilkan, ajaran islam jangan diperkecil dipersempit, Islam lebih luas dari ibadah-ibadah tersebut,” ujar Ustadzah Sitoresmi.

Ada sebuah hadist yang sudah kita kenal tapi harus selalu kita ulangan. Imam Al Hakim menyampaikan sebuah cerita, ada seseorang yang datang ke Rasullulah. Ia berkata wahai Rasullulah kami mengenal seorang wanita, ia menjalankan sholat bagus dengan baik, rajin sholat malam, puasa, hanya saja ia punya tabiat yang sangat buruk dengan tetangganya. Jika bicara sangat “nyelekit” atau menyakitkan hati.

Mendengar cerita tersebut Rasullulah lalu berkata, bahwa wanita itu tidak akan masuk surga. Ibadah sholat dan lain-lain tidak dihitung karena ia tidak berbuat baik dengan tetangganya.

Rasullulah bersabda ada empat hal yang akan memdatangkan kebahagiaan, yakni (1) wanita yang sholehah, (2) Rumah yang luas, makna sesungguhnya yang luas adalah hatinya, (3) Tetangga yang sholeh. Oleh karena itu setiap tindakan yang menyangkut rumah, beli, sewa harus lihat dulu bagaimana tetangganya. dan (4) Kendaraan yang nyaman. Bukan yang mewah tapi nyaman, sehingga membuat kita harus bersyukur.

Sehingga Rasullulah mengajarkan kepada kita salah satu adab bertetangga adalah mencintai tetangga seperti mencintai diri sendiri. “Maksudnya mencintai kebaikan tetangga seperti kita mencintai kebaikan untuk diri kita sendiri. Hidup tenang itu ketika kita bisa tersenyum dan mendapat senyum dari tetangga. Mengirimi dan menerima kiriman tetangga,” jelas Ustadzah Sitoresmi.

“Kita juga harus ingat bahwa bukan orang beriman kita apabila tetangga kita kelaparan. Bagaimana untuk tahu kalau tetangga kelaparan, artinya kita harus bersosialisasi, bersilaturahmi. Setelah itu kita amalkan, barulah kita bisa dihitung sebagai orang yang beriman,” tandasnya.

(Visited 63 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close