Ditulis oleh 10:43 am COVID-19

Copas

Suatu pesan dapat bergerak dengan sangat cepat, tidak terkendali dan bahkan mungkin dalam tempo yang tidak lama kembali kepada sang pengirim.

Mengirim pesan atau pesan merupakan kegiatan penting manusia. Dahulu sekali, pesan dikirim dengan ragam metode. Yang paling mengesankan adalah mengirim pesan dengan menggunakan burung merpati. Pesan ditulis dengan singkat dan padat, kemudian diselipkan pada kaki burung. Entah bagaimana caranya melatih burung tersebut, namun yang jelas, sang burung terbang jauh sampai pada tujuan. Yang menerima pesan, membaca dengan seksama. Selanjutnya tentu ada tindakan yang dilakukan, berdasarkan pesan tersebut.

Mengapa dengan burung? Jawaban yang lebih akurat tentu harus diperoleh lewat riset. Namun apabila boleh diandaikan, maka kemungkinan ada tiga sebab yang melatarinya: (1) lebih efisien, karena jika menggunakan metode kurir, maka tentu memakan biaya dan resiko; (2) cepat; dan (3) relatif aman.

Oleh sebab sulit mengirim pesan penting secara cepat dan aman, membuat teknologi pengiriman pesan menjadi tantangan tersendiri. Dari segi pihak yang berkepentingan mengirimkan pesan, mengusahakan agar pesan sesedikit mungkin. Artinya, hanya hal yang penting dan membutuhkan respon segera yang dijadikan pesan.

Keadaan ini pula yang membuat cerita burung merpati, umumnya ditampilkan dalam suasana genting, seperti perang atau situasi sejenis. Pesan yang dikirim, bisa merupakan kabar tentang akan adanya serbuan tentara musuh atau sebaliknya. Dan pesan tersebut merupakan hal yang sangat rahasia dan penting, karena mungkin menyangkut keselamatan.

Sebelum teknologi seperti sekarang. Pernah dikenal telegram. Suatu pesan singkat yang dikirim melalui jasa pos. Pesan yang dikirim hanya beberapa kata. Dan oleh karena keterbatasan tersebut, suasana urgensi juga terbangun. Yang menerima telegram, tentu berada dalam cemas sebelum membuka isi telegram.

Dengan kemajuan teknologi, kemampuan mengirim pesan menjadi bertambah. Bahkan kini, dapat langsung berkomunikasi dengan wajah ke wajah. Teknologi menjadi pihak ketiga. Pihak yang dulu diambil oleh burung merpati.

Namun dibalik teknologi masih ada tangan manusia lain yang mengendalikan. Oleh sebab itu, penyedia jasa selalu memberikan jaminan bahwa pesan tidak bocor atau keamanan pesan dijamin. Para pengguna umumnya percaya begitu saja, sampai ada pihak yang dapat membuktikan bahwa teknologi tersebut tidak aman.

Hal yang menarik adalah bahwa sejalan dengan kemajuan teknologi, isi pesan menjadi berubah. Dalam keterbatasan, maka isi pesan menjadi sangat selektif, dikemas dalam bahasa sangat singkat. Sebaliknya, dalam kemudahan, pesan yang dikirim tidak lagi bersifat khusus apalagi rahasia. Kemudahan membuat segala sesuatu dapat menjadi “pesan”.

Kini, dengan kemudahan tersebut, pengiriman pesan atau berita, bukan menjadi tindakan yang eksklusif. Seseorang dapat mengirimkan pesan dalam kapasitas yang sangat besar. Pesan yang sama dapat dikirim oleh orang yang berbeda. Bahkan bisa dikirim oleh belasan orang, yang mungkin tidak saling kenal. Tidak hanya pesan tertulis, tetapi juga video.

Jika dulu, pesan dibuat dan dikirim dengan pertimbangan yang sangat kompleks, maka kini dapat dikatakan minim, bahkan dalam batas tertentu, pertimbangan tidak dibutuhkan. Seseorang dapat mengirimkan pesan yang baru saja diterima, kepada orang lain, atau kepada khalayak (dalam grup percakapan atau melalui media sosial). Pesan tersebut tidak harus pernah dibacanya, atau mungkin tidak harus dimengerti.

Oleh sebab itulah, suatu pesan dapat bergerak dengan sangat cepat, tidak terkendali dan bahkan mungkin dalam tempo yang tidak lama kembali kepada sang pengirim pesan, dari pihak yang sama sekali tidak terduga. Kalau pesan dapat bergerak dengan sangat cepat, maka dapat dipastikan bahwa pesan tersebut tidak melalui proses pencernaan.

Mengapa? Sangat mungkin pengirim pesan terkejut, manakala koleganya menegur. Bro, bukankah itu berita tahun 2009? Yang mengirim pesan langsung menjawab: wah, maaf, aku tadi belum sempat baca, hanya lihat judulnya, langsung share. Yang diseberang tidak banyak memberi respon, kecuali mungkin sebuah emoticon.

Kejadian seperti itu, tentu bukan kasus tunggal. Ada banyak yang bisa bercerita, apakah dia pernah melakukan hal tersebut, ataukah dia menjadi penerima pesan yang dikirim secara begitu. Bahkan tidak jarang, seseorang menerima pesan yang sama sebanyak lima sampai sepuluh kali, karena yang bersangkutan berada dalam grup yang sama, dengan sang pengirim pesan.

Tentu hal tersebut bukan merupakan keburukan, karena sangat mungkin pesan yang disampaikan merupakan hal penting dan perlu. Yang menjadi soal adalah ketika pesan yang dikirim bukan merupakan hal penting dan perlu, malah sebaliknya, yakni pesan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Keadaan demikian tentu bukan merupakan hal baik, karena akan membawa kerugian pada yang lain.

Bagaimana menghadapi keadaan tersebut? Penyedia teknologi dalam hal ini tidak dirugikan, malah diuntungkan. Karena komunikasi yang intens, apapun isinya, akan meningkatkan pendapatan. Oleh sebab itulah, penyedia layanan berusaha memberi layanan yang beragam. Harapannya, semua orang pada setiap waktunya menggunakan layanan tersebut.

Dalam situasi krisis kesehatan seperti sekarang, pesan atau informasi, menjadi bagian penting pengendalian penyebaran wabah. Informasi penting merupakan hal yang harus sampai secara baik, cepat dan tidak terdistorsi. Hal yang menjadi masalah adalah manakala informasi mengalami distorsi, sehingga informasi tidak utuh dan akibatnya yang menerima salah dalam memberikan respon yang benar.

Penyedia jasa layanan dapat diminta untuk ikut bertanggungjawab, misalnya dengan melakukan pembatasan (lihat Kompas.com), agar penyebaran tidak dimudahkan, namun tentu tidak boleh dipersulit. Sementara itu, semua pihak agar dapat menempatkan pesan pada kedudukan yang semestinya. Tentu tidak boleh ada larangan untuk mengirim pesan. Namun yang dihindari adalah sekedar copas, dan kemudian share, yang mungkin belum dicerna atau mungkin belum dipahaminya. Idealnya penyebaran pesan diletakkan dalam kerangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

(t.red)

(Visited 37 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 8 April 2020
Close