Ditulis oleh 8:30 am KALAM

Corona dan Shaf Distance, Perspektif Sadd al-Dzari’ah

Karena pelaksanaan yang berbeda tersebut, ada yang mempersoalkan keabsahan “shaf berjarak” (shaf distance), karena “menyalahi” dalil yang biasa digunakan untuk argumen “keharusan” shaf yang lurus dan “rapat”.

Viral di Whatshap, FB, televisi atau media lainnya, gambar-gambar pelaksanaan shalat dengan Imam dan makmum menggunakan masker. Dan yang paling mencolok adalah gambar shaf makmum yang berjarak antara ± 0,5 meter atau1 meter, yang berbeda dengan shaf yang biasa dikerjakan pada saat shalat berjamaah secara normal.

Karena pelaksanaan yang berbeda tersebut, ada yang mempersoalkan keabsahan “shaf berjarak” (shaf distance), karena “menyalahi” dalil yang biasa digunakan untuk argumen “keharusan” shaf yang lurus dan “rapat”. Mempersoalkan keabsahan “shaf distance” bagi yang terpelajar, sama posisinya dengan memperoalkan “himbauan” untuk tidak melaksanakan shalat Jum’at dan shalat jama’ah 5 waktu di Masjid? Mempersoalkan “keabsahan” suatu hukum menurut perspektif fiqih adalah sesuatu yang wajar dan ilmiyah. Justru bagi seorang ahli Fiqih atau ahli Ushul Fiqih, tidak wajar manakala menerima begitu saja (taqlid) suatu keputusan fiqih yang notabene-nya merupakan hasil ijtihad berdasarkan dalil-dalil syar’i (istidlal). Mempersoalkan tersebut, karena adanya kesadaran bahwa semua persoalan, ada konsekwensi hukum yang harus dipertanggung-jawabkan di dunia dan akhirat (QS. 17: 36).

A. Shaf

“Shaf”, ([shaff] الصف), secara etimologi bermakna, “berbaris [lurus]”, “barisan [panjang]”. Berbaris lurus, artinya, barisannya tidak melingkar, dan tidak bengkok, atau tidak serong.

Dalam al-Qur’an, kata “Shaf”, ([shaff] الصف) dan derivasinya disebutkan 14 kali. Misalnya firman Allah dalam QS. Al Fajr [89]: 22:

 وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفّٗا صَفّٗا ٢٢

“Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris”

Yang paling sering disebut adalah kata “Shaf”, ([shaff], dalam QS. Al-Shaff [61]: 4. Di mana Allah mendorong orang-orang yang berjuang menegakkan kebenaran, berjuang fi Sabilillah,.dikerjakan secara bersama dalam suatu susunan yang terorganisir dan tertata rapi. Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِهِۦ صَفّٗا كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٞ مَّرۡصُوصٞ ٤

(Sungguh Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh).

Jadi, keterorganisiran suatu gerakan, menjadi syarat keberhasilan suatu perjuangan, pergerakan, usaha, korporasi atau pekerjaan. Firman Allah tersebut menjadi garansi kesuksesesan suatu mujahadah, bila dikerjakan secara benar dan terorganisir. Pujian Allah merupakan “tanda” bahwa perilaku perjuangan yang tersusun rapi dan tertata dengan baik, merupakan kebenaran mutlak yang tidak bisa ditawar keberadaannya. Ia menjadi “Sunnah” bagi kesuksesan suatu perjuangan.

Ali ibn Abi Thalib menyatakan, “Kebenaran yang tidak terorganisir, dapat dikalahkan kebatilan yang terorganisir.” (الحق بلا نظام غلبه الباطل بنظام). Banyak peristiwa sejarah yang membuktikan kebenaran ucapan Imam Ali tersebut. Penjajahan Barat atas negara-negara muslim pada abad 17-19; bukti riel bahwa kebatilan dapat menundukkan kebenaran. Apakah penduduk di negara-negara muslim tidak bertuhan dan tidak beriman kepada al-Qur’an yang mengandung nilai kebenaran tersebut? Jawabannya pasti percaya. Namun kepercayaan (beliefed) yang dilakukan secara acak-acakan, semrawut, parsial dan tidak profesional, hanya jadi santapan kelompok zhalim, kaum penjajah, kolonialis, yang jelas-jelas bukan muslim. Israel mampu menundukkan dunia Arab hanya dalam tempo “Enam Hari” –walau dibackup Barat— “Keislaman” negara-negara Arab tidak menjamin kemenangan atas Israel yang beragama Yahudi. Sekali lagi, ini menunjukkan bukti bahwa kebenaran yang lemah, akan dapat ditaklukkan oleh kebatilan yang kuat. Oleh sebab itu, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 249:

كم من فئة قليلة غلبت فئة كثيرة باذن الله

(Berapa banyak kelompok kecil mampu mengalahkan kelompok yang lebih besar dengan izin Allah)

Disersi saat perang, adalah kejahatan besar. Karena itu hukumannya adalah mati, seperti yang dilakukan Cut Nyak Dien kepada salah satu ulubalangnya. Allah mengecam tindakan “disersi”, yaitu tindakan “keluar” dari kesatuan pasukan. Peristiwa kekalahan Perang Uhud, disebutkan secara langsung oleh Allah dalam al-Qur’an. Disersi terjadi, karena sebagian pasukan terpedaya duniawi, hingga melupakan perintah “komandan tertinggi”, Panglima Perang, Rasulullah Muhammad saw., untuk tetap bertahan di kesatuannya, dalam kondisi apa pun. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran [3]: 152:

“Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah melimpahkan kemuliaan atas orang-orang beriman.”

Mundur dalam perang diperbolehkan, dengan syarat: a). Untuk bergabung dengan kesatuan lain; b). Menyusun strategi. Seperti firman Allah dalam QS. Al Anfal [8]: 15-16:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ زَحۡفٗا فَلَا تُوَلُّوهُمُ ٱلۡأَدۡبَارَ ١٥ وَمَن يُوَلِّهِمۡ يَوۡمَئِذٖ دُبُرَهُۥٓ إِلَّا مُتَحَرِّفٗا لِّقِتَالٍ أَوۡ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٖ فَقَدۡ بَآءَ بِغَضَبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأۡوَىٰهُ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ١٦

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu jangan mundur ke belakang! Barangsiapa mundur ke belakang saat menghadapi mereka,.kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah Neraka Jahannam. Dan ia seburuk-buruk tempat kembali.”

Perang secara bershaf, tidak sama dengan shaf shalat, atau juga berorganisasi, atau lainnya. Shaf dalam perang berarti satu komando dengan taktik dan strategi yang harus disepakati bersama. Shaf dalam perang, tidak harus serapat dalam shalat, bahkan boleh jadi sangat jauh, namun dalam satu komando dan satu strategi

Shaf dalam Baris Berbaris pun berbeda dengan saat perang. Baik jumlah maupun formasinya. Boleh jadi, saat PBB (Praktik Baris Berbaris) formsi 3 x 10 orang dan seterusnya dalam jarak kerapatan yang telah ditentukan. Sedang saat perang, ternyata berjauhan.

Shalat adalah pranata untuk membentuk “ummat” yang baik, diinisiasi pada pengaturan barisan shaff yang lurus dan “rapat” sebagaimana yang diatur oleh Nabi Muhammad sendiri, yang digambarkan dalam Hadits-hadits yang tersebar dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar.

B. Shaf shalat

Dalam shalat, shaf harus ditata dengan rapi dan benar. Shaf tidak boleh dilakukan secara serampangan dan semaunya sendiri, sehingga tidak lurus dan rapi. Shaf dalam shalat, menduduki posisi penting, karena menjadi penentu “tegak”-nya nilai-nilai shalat dan “kesempurnaan” shalat berjamaah. Oleh sebab itu, Nabi mengecam orang yang shalat sendirian di belakang, tidak mau bergabung dengan shaf yang ada di depannya yang sudah tersusun lurus dan rapi. Nabi saw. bersabda:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالاَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ)).

(Muhammad ibn al-Mutsanna bercerita, dari Ibn Basyar,…dari Anas ibn Malik. Anas berkata, Rasulullah saw., bersabda, “Luruskan shaf kalian! karena lurusnya shaf bagian dari kesempurnaan shalat).

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجَدَلِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ: ((أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ- ثَلاَثًا- وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ)). قَالَ: فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ.

(Utsman ibn Abi Syaibah bercerita, …dari Abu Qasim al Jadali, dia berkata, “Saya mendengar Nu’man ibn Basyir berkata,” Rasulullah menghadapkan wajahnya kepada orang-orang [yang shalat], lalu berkata, “Tegakkan shaf! 3 x; demi Allah, Tegakkan shaf kalian, atau Allah akan membuat hati kalian semua besrselisih!”[Nu’man berkata] berkata, “)

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ قَالَ: سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ أَبِي الْجَعْدِ قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ)).

(Dari Abu al Walid, …Nu’man ibn Basyir berkata, Nabi saw., “Kalian harus benar-benar meluruskan shaf kalian! Atau Allah akan membuat kalian benar-benar berselisih)

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((أَقِيمُوا الصُّفُوفَ فَإِنِّي أَرَاكُمْ خَلْفَ ظَهْرِي)).

(Abu Ma’mar bercerita, …dari Anas berkata,Nabi bersabda, “Tegakkan shaf! Sungguh aku bisa melihat dari balik punggungku”)

عن وابصة بن معبد, ان رسول الله صلعم راى رجلا يصلي خلف الصف وحده, فامره ان يعيد الصلاة (رواه احمد و ابو داود و الترمذي)

(Dari Wabishah ibn Ma’bad, bahwa Rasulullah saw. melihat seseorang shalat sendirian di belakang shaf, maka Rasulullah menyruhnya mengulangi shalatnya lagi)

(Visited 187 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 22 Mei 2020

Selanjutnya »

Close