Coronavirus: Afrika Selatan Melarang Penjualan Alkohol lagi untuk Memerangi COVID-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ramaphosa mengatakan langkah-langkah baru itu diterapkan untuk membantu negara itu mengatasi badai virus corona.

Afrika Selatan kini tengah menerapkan batasan baru, diantaranya adalah larangan penjualan alkohol, untuk membantu mencegah penyebaran virus corona.

Jam malam telah diberlakukan, dan pemakaian masker di luar ruangan sekarang merupakan hal yang wajib.

Presiden Cyril Ramaphosa mengatakan larangan alkohol – yang kedua di Afrika Selatan tahun ini – akan mengurangi tekanan sistem kesehatan nasional.

Munculnya larangan baru tersebut sebagai hasil dari naiknya jumlah total infeksi dengan sekarang telah melebihi seperempat juta orang yang terkena.

Kematian akibat virus corona juga telah meningkat menjadi lebih dari 4.000, dan proyeksi pemerintah memperkirakan jumlah ini dapat meningkat menjadi 50.000 pada akhir tahun.

Afrika Selatan tetap menjadi negara yang paling terpukul di benua itu, dan di awal pekan ini mereka mencatat peningkatan tertinggi dalam sehari. Hampir setengah dari kasus tersebut berada di Gauteng, provinsi yang menjadi pusat penyebaran virus.

Dalam pidatonya di depan umum, Ramaphosa mengakui “kebanyakan” orang telah mengambil tindakan untuk membantu mencegah penyebaran, tetapi dia mengatakan masih ada beberapa yang bertindak “tanpa tanggung jawab untuk saling menghormati dan melindungi satu sama lain”.

“Ada sejumlah orang yang dibawa ke pesta-pesta terorganisir, yang minum-minum, dan beberapa yang berjalan di sekitar ruang yang ramai tanpa mengenakan masker,” ujar Presiden.

Ramaphosa mengatakan langkah-langkah baru itu diterapkan untuk membantu negara itu mengatasi badai virus corona, dan keadaan darurat akan diperpanjang hingga 15 Agustus. Larangan malam hari akan diberlakukan mulai pukul 21.00 hingga pukul 04.00 dini hari.

Pemerintah juga telah menyediakan 28.000 tempat tidur rumah sakit untuk pasien COVID-19. Namun Presiden Ramaphosa mengatakan bahwa negara itu masih menghadapi kekurangan yang “serius,” yaitu lebih dari 12.000 petugas kesehatan, termasuk perawat, dokter, dan fisioterapis.

Larangan alkohol keluar hanya beberapa minggu setelah dicabutnya larangan sebelumnya dalam upaya untuk mencegah perkelahian orang-orang yang mabuk, mengurangi kekerasan dalam rumah tangga dan menghilangkan kebiasaan pesta mabuk-mabukan di seluruh Afrika Selatan.

Dokter dan polisi mengatakan larangan sebelumnya berkontribusi pada penurunan tajam dalam penerimaan darurat ke rumah sakit. Tetapi para pembuat bir dan pembuat anggur negara itu mengeluhkan mereka seakan diusir dari bisnis mereka. (Sumber berita situs bbc/Njd)

Redaksi arbaswedan.id

Redaksi arbaswedan.id

Terbaru

Ikuti