COVID-19: Berapa Banyak Nyawa yang Telah Hilang Akibat Pandemi?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Terdapat pendapat bahwa kita tidak akan pernah tahu jumlah pasti kematian akibat COVID-19, oleh karena banyak pasien tidak akan pernah dites, meskipun mereka meninggal karena COVID-19.

Jumlah kematian akibat COVID-19 di seluruh dunia terus mengalami penambahan, yang merupakan kenyataan yang benar-benar menyedihkan. Namun demikian, angka-angka kematian yang dilaporkan di media bisa lebih sedikit daripada angka aslinya, oleh karena adanya kerahasiaan dan kematian tak langsung.

Pada awal pandemi, informasi mengenai tingkat infeksi, rawat inap dan bahkan kematian seringkali tertunda atau tidak dapat diandalkan. Pengujian tidak dilakukan secara luas dan pemahaman tentang fitur biologis dan klinis virus membuat klasifikasi ‘kematian oleh COVID-19’ menjadi hal yang sulit.

Dengan banyaknya negara yang tengah menghadapi gelombang kedua COVID-19, pemantauan juga telah memasuki fase baru dengan data yang lebih kuat dan sistem pelaporan yang lebih baik. Meskipun begitu, masih banyak kasus yang mungkin lolos dari celah keamanan tersebut. Terdapat pendapat bahwa kita tidak akan pernah tahu jumlah pasti kematian akibat COVID-19, oleh karena banyak pasien tidak akan pernah dites, meskipun mereka meninggal karena COVID-19.

Akan tetapi, Vestergaard, seorang dokter medis dan ahli epidemiologi yang mengkoordinasikan EuroMOMO, yang menyediakan pemantauan kematian real-time untuk 26 negara Eropa mengatakan bahwa dengan perkiraan excess deaths, mereka memiliki gambaran yang cukup tepat tentang total beban kematian akibat COVID-19 dan bagaimana hal tersebut memengaruhi beragam populasi.

Jadi, bagaimana cara menghitung jumlah korban pandemi COVID-19? Salah satu caranya adalah dengan melihat ‘excess deaths’. Jaringan seperti EuroMOMO di Eropa mengumpulkan data tentang jumlah orang yang meninggal karena semua penyebab dan membandingkannya dengan jumlah rata-rata tahun-tahun sebelumnya.

Perbedaan kematian dianggap sebagai ‘excess deaths’ dan memberikan ukuran yang lebih baik tentang berapa banyak orang yang benar-benar meninggal selama pandemi. Excess deaths telah digunakan di masa lalu untuk mengukur dampak flu babi, influenza musiman, dan bencana alam.

Dalam sebuah makalah terbaru, diterbitkan di Nature Medicine, para peneliti yang mengamati 19 negara di Eropa tengah dan barat, Australia dan Selandia Baru, menemukan bahwa terdapat tambahan lebih dari 200.000 orang meninggal pada gelombang pertama pandemi, dibandingkan dengan berapa banyak kematian yang diperkirakan tanpa pandemi. Tingkat kematian sekitar 30 hingga 45 persen lebih tinggi daripada rata-rata di negara-negara yang terkena dampak paling parah, Inggris dan Spanyol.

Sebuah laporan terpisah yang diterbitkan dalam jurnal JAMA menunjukkan ada 225.000 kematian berlebih di Amerika Serikat antara Maret dan Juli. Dari jumlah tersebut, sekitar dua pertiga dapat dikatakan akibat COVID-19, yang artinya menyebabkan 75.000 kematian belum ditemukan sebabnya. Meskipun jumlahnya berbeda-beda di setiap negara, sering kali terdapat kesenjangan yang signifikan.

Kematian tak langsung

Terdapat banyak orang yang menjadi korban COVID-19, walau pada akhirnya bukan virus yang membunuh mereka. COVID-19 memberikan tekanan yang signifikan pada layanan kesehatan dan banyak orang dapat meninggal karena penyakit kronis dimana seharusnya, pada keadaan normal, mereka tidak.

Pasien-pasien tersebut mungkin menyerah pada suatu penyakit lebih awal karena mereka dilemahkan oleh infeksi, rumah sakit terlalu penuh atau mereka memilih untuk menunda pengobatan.

Dalam sebuah makalah, diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, para peneliti memperkirakan bahwa gangguan terhadap program HIV, tuberkulosis, dan malaria di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat memiliki efek yang sebanding dengan kematian langsung COVID-19 selama lima tahun ke depan.

Peneliti mencatat terdapat lebih banyak efek tidak langsung terkait dengan ‘dampak sosial dan ekonomi’ COVID-19. Di Amerika Serikat, ada laporan tentang peningkatan kematian terkait opioid selama setahun terakhir yang, menurut peneliti, mungkin terkait dengan orang yang merasa terlalu terisolasi atau kekurangan sumber daya. Kesulitan ekonomi berpotensi menyebabkan kematian tidak langsung dari sejumlah penyebab seperti kecanduan atau orang-orang yang tidak dapat mengakses bantuan yang mereka butuhkan, terutama di negara-negara tanpa perawatan kesehatan universal.

Masih terlalu dini untuk mengatakan berapa jumlah kematian sebenarnya dari pandemi yang berasal dari kematian langsung dan tidak langsung. Meskipun sistem pelaporan saat ini dapat memberikan gambaran kematian secara real-time, mungkin diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menganalisis kematian terkait COVID secara akurat. ‘Gold standard’ atau standar utamanya adalah menggunakan data dari sistem statistik vital di setiap negara yang memiliki rincian penyebab kematian dan faktor penyebabnya, tetapi informasi ini mungkin tidak akan diproses dalam skala global hingga tahun 2022.

Mengapa penting untuk menghitung jumlah kematian?

Peneliti dan petugas kesehatan telah bergerak dengan cepat untuk meningkatkan sistem pelaporan dan mengurangi keterlambatan data. Sistem pemantauan waktu nyata ini membantu mengungkap kelemahan dalam sistem perawatan kesehatan, menilai keefektifan intervensi COVID-19, dan dapat membantu mendeteksi krisis kesehatan masyarakat berikutnya.

Menghitung kematian bisa menjadi hal yang tidak wajar, tetapi juga penuh harapan, menurut Dr Steven Woolf, seorang profesor kedokteran keluarga dan kesehatan populasi di Virginia Commonwealth University yang menulis makalah JAMA tentang kematian berlebih di AS. Bagi dirinya, bagaimana para pembuat kebijakan bertindak atas data kematian COVID-19 hari ini akan menentukan bagaimana bab pandemi berikutnya terungkap.

Sumber:
Situs sciencefocus.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti