22.9 C
Yogyakarta
27 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Covid-19 dan Solusi Ketidakpastian Ditengah Orkestra Yang Fals

Oleh: Dr. Dimyati, M.Si

Jika pengumuman resmi Presiden Jokowi tentang kasus positif pertama Covid-19 terjadi di Indonesia tepatnya awal Maret 2020 dijadikan rujukan  berarti hingga awal April ini sudah satu bulan lebih wabah itu menyebar di Tanah Air. Berbagai kebijakan telah dilakukan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah, begitu juga inisiatif rakyat di pelosok-pelosok terutama di pulau Jawa untuk mengatasi wabah itu agar tidak meyebar lebih luas. 

Namun demikian hingga 10 April kemarin, menurut laporan resmi pemerintah sudah 3.512 kasus positif, 306 meninggal dan 282 sembuh. Data itu menunjukkan bahwa wabah Covid-19 belum ada tanda-tanda menurun bahkan cenderung meningkat. Bahkan jika dilihat dari presentase kematian akibat wabah ini di Indonsia masih termasuk kategori tinggi dibandingkan negara-negara lain dibelahan dunia ini, yaitu mencapai 8,7%. Di sisi lain berbagai kajian ilmiah para pakar dari berbagai perguruan tinggi (PT)  di tanah air dan luar negeri, mengingatkan bahwa penyebaran wabah ini belum mencapai puncaknya dan ada kecendrungan semakin meluas terjadi di negara kita, apalagi jika treatmentnya tidak tepat.

Mencermati berbagai berita baik dari media mainstreams, media sosial (Medsos), data laporan analisis para ahli. Setidaknya ada dua hal pokok yang bisa disimpulkan pertama,  pihak pemerintah pusat memandang optimis bahwa wabah bisa diatasi dengan berbagai kebijakan yang sudah diambil, simpulan kedua justru dari masyarakat memandang bernada pesimis, sehingga diberbagai daerah melakukan tindakan yg bertentangan dengan pemerintah pusat. Seperti kasus di Kota Tegal, beberapa kabupaten di Papua dll., yang melakukan lockdown. Suatu konsep yang ditolak keras oleh pemerintah pusat. Beberapa daerah juga merasakan ada kelambanan distribusi APD untuk tenaga medis yang cukup mencemaskan, juga pelaksanaan Rapid Test untuk pemetaan awal yang terkena Covid-19 dipandang lambat dan proposinya terlalu kecil tidak sebanding dengan jumlah penduduk terutama yang berada dibeberapa provinsi di Jawa, juga di DKI Jakarta.

Dipihak lain ditengah wabah Covid-19 yang semakin menganas, banyak Penggede negeri ini yang menunjukkan perilaku tidak empati pada derita rakyat dan upaya yang telah dilakukan pemerintah. Seperti membiarkan TKA masuk ke tanah air, ada Menteri yang terus bernafsu memikirkan persoalan ekonomi dan inventasi serta pindah ibu kota, ketua KPK mengungkap keinginan naik gaji, para anggota DPR ingin di tes terbebas Covid-19, juga mereka membahas Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang tak ada relevansinya secara  langsung  dengan penanganan wabah Covid-19,  Jubir Istana yang bingung mengumumkan kebijakan pemerintah tentang mudik dan juga yang terbaru adalah pengucuran dana untuk beli mobil baru bagi seluruh anggota DPR. Semua perilaku ini   membuat bingung,  menyakiti hati rakyat dan menghianati upaya pemerintah yang sedang kerja keras mencegah wabah Covid-19.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ditengah  derita rakyat terdapat penghianat-penghianat. Artinya wabah Covid-19 ternyata tidak bisa membagun orkestra yang indah pada bangsa ini untuk bersatu mencegahnya.

Diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta sejak 10 April 2020 ini dan juga akan diikuti penerapan PSBB di beberapa kota penyangga Ibu Kota Jakarta seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang serta Provinsi Jawa Barat.  Sekali lagi menegaskan pada kita bahwa wabah Covid 19 ini sungguh luar biasa penyebarannya di Indonesia. Semestinya kondisi ini menyadarkan pihak-pihak terutama para Penggede bangsa ini akan bahaya wabah Covid-19 yang semakin meluas dan telah berdampak pada semua sektor kehidupan rakyat Indonesia dan jika tidak ditangani fokus dan all out akan semakin meluas dan berdampak lebih buruk lagi.  

Banyak rakyat yang menderita akibat wabah ini, ada yang kehilangan pekerjaan, penghasilan untuk hidup sehari-hari hilang, PHK masal terjadi. Sekitar 1,5 juta diperkirakan PHK itu telah terjadi di Indonesia. Jelas ini akan berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi masyarakat, terutama masyakat kecil. Bagi mereka di daerah yang sudah menerapkan PSBB seperti DKI Jakarta, semua kebutuhan sehari-jari dijamin oleh pemerintah. Tetapi mereka yang hidup di daerah yang tidak menerapkan PSBB kehidupannya makin susah, yang menyebabkan ketidakpastian hidup.

Pemerintah daerah seperti Pemprov Jawa Barat dan DKI Jakarta dan pemerintah daerah lainnya, mereka telah bekerja sangat keras untuk mengatasi wabah ini. Namun kerja keras tersebut tanpa bantuan dari semua pihak terutama masyarakat di lapangan susah untuk berhasil wabah ini  tertangani dengan tuntas. Sehingga bagi masyarakat selain dapat melaksanakan anjuran pemerintah, yaitu menjaga jarak (social distancing), mencegah kontak (physical distancing) dan selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan.  Selain itu menurut hemat saya, ada sejumlah upaya lain yang bisa dilakukan.

Pertama, memahami ketidakpastian. Masa depan atas dampak Covid-19 memang tidak bisa diramal dengan pasti. Namun berdasarkan fenomena yang ada, hasil riset yang terkait dan metodologi yang tersedia, dapat diformulasikan persoalannya, sehingga dapat dipahami essensi wabah, yang secara berangsur-angsur diharapkan Covid-19 akan bisa terkuak dzat dan keberadaannya serta  solusinya

Kedua, menunjukkan optimisme, bukan pesimisme. Hidup itu dinamis. Rakyat tidak boleh merasa digantung atau dibayangi-bayangi oleh ketidakpastian. Apapun kondisinya, masyarakt harus optimis menghadapi ketidakpastian, sehingga bisa menapak menuju suatu titik sesuai dengan pilihan hidup.

Ketiga, menghadapi ketidakpastian akibat Covid-19 ini dengan berpikir positif, tidak dengan berpikir negatif. Masyarakat harus terus menjaga diri untuk terus berpikir positif, positive thinking terhadap setiap ikhtiar yang dilakukan. Dengan demikian peluang untuk berhasil melewati ketidakpastian. Berpikir positif seringkali bisa menghadirkan energi baru untuk menghadapi ketidakpastian.

Keempat, meningkatkan komitmen untuk saling membantu. Wabah Covid-19 telah membuat derita sebagian rakyat miskin menjadi makin miskin oleh karena itu orang yang memiliki harta lebih bisa membantu orang yang terkena dampak langsung dari Covid-19 itu. Alhamdulillah disebagian tempat fenomena ini sudah nampak. Meskipun perlu terus ditingkatkan secara masif.

Kelima, harus dioptimalkan peran perangkat pemerintahan yang paling rendah seperti RT, RW dan Keluraham agar mengambil peran lebih nyata dalam membantu warganya yang terkena dampak langsung. Agar ketidakpastian pada rakyat akibat Covid-19 ini tidak menjadi tekanan sosial yang bisa berdampak negatif.

Keenam, menunjukkan kesabaran dalam menghadapi ketidakpastian sebagai dampak Covid-19 ini . Kondisi stagnan dan mandeg dalam  perjuangan kadang-kadang bisa timbulkan frustasi. Situasi yang demikian sangat dibutuhkan kesabaran, ketelatenan dan keuletan. Dengan sabar, hati tenang dan bekerja lebih fokus. Bisa mudah berkonsentrasi untuk mendapatkan jalan menuju solusi.

Ketujuh, memanjatkan doa kepada Tuhan, Allah swt sebagai wujud tawakkal ‘alallaah. Setelah berbagai upaya dan ikhtiar duniawiyah dan horizontal, maka upaya terakhir dalam menghadapi ketidakpastian akibat Covid-19 ini sebagai insan beragama perlu menguatkan segala ikhtiar ukhrawiyah dan vertikal dengan berpasrah dan bermunajat kepada-Nya untuk mendapat arah dan kepastian terhadap upaya uang telah dilakukan.

Penulis: Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan, UNY


Wabah ini jelas akan berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi masyarakat, terutama masyakat kecil.


Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA